REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masa depan pertempuran udara Rusia tampaknya tidak lagi dibayangkan sebagai duel antara satu pesawat tempur melawan pesawat lainnya. Moskow mulai menyiapkan sebuah skenario ketika pesawat berawak menjadi pusat komando bagi sejumlah mesin nirawak yang bergerak bersamanya.
Di pusat eksperimen itu terdapat Su-57D, varian dua kursi dari pesawat tempur Su-57 yang diklasifikasikan Rusia sebagai jet generasi kelima. Direktur Biro Desain Sukhoi Mikhail Strelets mengungkapkan kursi kedua pesawat tersebut membuka jalan bagi penerapan salah satu teknologi yang dikaitkan Rusia dengan penerbangan tempur generasi keenam: pengendalian pesawat tanpa awak dari sebuah pos komando di udara.
Pernyataan Strelets yang dilaporkan pada 14 Agustus 2026 membuat fungsi Su-57D terlihat jauh lebih ambisius daripada sekadar pesawat latih dua kursi. Seorang awak dapat berkonsentrasi pada penerbangan dan tugas tempur utama, sedangkan operator di kokpit lainnya menangani sistem nirawak yang beroperasi bersama pesawat.
Yang menarik, Sukhoi tidak hanya berbicara tentang pengendalian satu drone. Strelets mengatakan konfigurasi dua kursi menjadi penting untuk mengendalikan “intelligent complexes” serta sistem nirawak dalam bentuk kelompok ataupun swarm. Ia juga mengungkapkan salah satu fungsi versi baru Su-57 adalah menjadi tempat pengujian kecerdasan buatan tempur yang kini sedang dikembangkan oleh biro desain tersebut.
Artinya, Rusia sedang mencoba mengubah kokpit kedua menjadi ruang manajemen pertempuran.
Pilot tidak harus memikul sendiri seluruh beban menerbangkan jet, menghadapi lawan, mengoperasikan persenjataan, membaca sensor, sekaligus mengendalikan sejumlah drone. Sebagian pekerjaan itu dapat dialihkan kepada operator kedua dan, pada tahap lebih lanjut, dibantu oleh sistem otonomi dan kecerdasan buatan. Tetapi ada batas penting yang harus digarisbawahi.
Sukhoi belum mengumumkan bahwa kawanan drone berbasis AI tersebut telah menjadi kemampuan operasional Su-57D. Pernyataan Strelets berbicara tentang arah pengembangan, kemampuan yang hendak diwujudkan, serta pengujian kecerdasan buatan tempur.
Dengan demikian, Su-57D saat ini lebih tepat dipandang sebagai jembatan Rusia menuju konsep peperangan udara generasi berikutnya daripada sebagai “komandan kawanan AI” yang kemampuan penuhnya sudah siap digunakan.
Terbang Perdana pada Mei
Su-57D bukan lagi sekadar gambar desain. Prototipe pesawat dua kursi itu melakukan penerbangan perdananya pada 19 Mei 2026. United Aircraft Corporation atau UAC, bagian dari perusahaan negara Rostec, menyatakan penerbangan tersebut dilakukan pilot uji utama Sukhoi Sergey Bogdan.
Saat mengumumkan penerbangan perdana tersebut, pejabat Rusia sudah memberikan petunjuk mengenai fungsi yang hendak dibangun. Wakil Perdana Menteri Pertama Rusia Denis Manturov mengatakan versi itu memiliki fungsi sebagai pesawat latih tempur sekaligus pesawat komando dan kendali.
Konsep komando terhadap sistem nirawak kemudian menjadi semakin jelas melalui penjelasan Strelets pada Agustus. Inilah yang membedakan Su-57D dari logika sederhana pesawat latih dua kursi. Kursi tambahan tidak hanya dimaksudkan agar seorang instruktur dapat mendampingi pilot lain, tetapi juga membuka ruang bagi seorang operator untuk menangani kompleksitas pertempuran yang melibatkan platform nirawak.

2 hours ago
3
















































