Rupiah Terus Catatkan Rekor Terendah, Apa Penyebabnya?

12 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

28 May 2026 11:45

Jakarta, CNBC IndonesiaNilai tukar Garuda kembali menembus level terlemah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah melemah 0,28% ke level Rp17.780/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level all time low baru bagi mata uang Garuda.

Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Rupiah terus mencetak rekor terlemah baru di tengah kuatnya tekanan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi global maupun domestik.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi meski Bank Indonesia (BI) sudah melakukan berbagai langkah stabilisasi. Mulai dari intervensi di pasar obligasi, intervensi langsung di pasar spot, hingga intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) offshore dan domestik.

Bahkan, BI juga sudah menggunakan salah satu amunisi terkuatnya, yakni menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin. Ini menjadi kenaikan suku bunga pertama sejak April 2024.

Dengan kenaikan tersebut, BI Rate saat ini berada di level 5,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5±1%.

Namun, penguatan rupiah hanya berlangsung sesaat. Rupiah sempat menguat pada hari pengumuman kenaikan suku bunga, tetapi sehari setelahnya kembali melemah. Hingga kini, mata uang Garuda masih terus menembus level terlemah sepanjang masa.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar. Apa sebenarnya penyebab rupiah terus melemah, bahkan ketika BI sudah menaikkan suku bunga?

Apalagi, secara year-to-date (ytd), rupiah sudah melemah sekitar 6,63% terhadap dolar AS. CNBC Indonesia merangkum beberapa faktor utama yang membuat tekanan terhadap rupiah masih begitu berat.

1. Gejolak Geopolitik Bikin Dolar AS Makin Diburu

Faktor pertama datang dari luar negeri, yakni ketegangan geopolitik akibat perang AS-Iran di Timur Tengah yang menghiasi global sejak akhir Feburuari lalu.

Konflik ini membuat pasar global cemas karena kawasan Timur Tengah memiliki peran sangat penting bagi pasokan energi dunia. Salah satu titik yang paling menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi penting perdagangan minyak dan gas global.

Ketika kawasan ini terganggu, pasar langsung membaca risiko baru. Harga energi bisa melonjak, inflasi global bisa kembali naik, dan bank sentral AS atau The Federal Reserve berpotensi lebih sulit menurunkan suku bunga.

Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya memilih aset yang dianggap paling aman. Salah satu tujuannya adalah dolar AS.

Itulah sebabnya, indeks dolar AS (DXY) kembali menguat dan sempat menyentuh level 100 pada periode ketidakpastian ini. Ketika DXY menguat, tekanan terhadap mata uang negara lain biasanya ikut meningkat, termasuk rupiah.

Banyak mata uang Asia juga ikut tertekan karena pasar global sedang kembali mencari perlindungan di dolar AS.

Namun, tetap perlu dilihat secara objektif bahwa pelemahan rupiah termasuk salah satu yang cukup dalam dibandingkan mata uang Asia lainnya, termasuk mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia dan dolar Singapura.

Artinya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor eksternal. Ada faktor domestik yang membuat rupiah lebih rentan dibandingkan sejumlah mata uang kawasan.

2. Kredibilitas Fiskal yang Dipertanyakan

Faktor kedua datang dari dalam negeri, yakni meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.

Sejak awal tahun, pelaku pasar mulai lebih mencermati bagaimana pemerintah mengelola APBN. Salah satu pemicunya adalah realisasi defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB), atau sekitar Rp695 triliun.

Angka ini menjadi perhatian karena sudah sangat dekat dengan batas maksimal defisit APBN yang diatur dalam undang-undang, yakni 3% terhadap PDB.

Defisit yang terlalu dekat dengan batas atas memberi sinyal bahwa ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Kekhawatiran makin besar ketika belanja negara tetap tinggi, sementara penerimaan negara dinilai belum cukup kuat untuk mengimbanginya.

Kondisi inilah yang ikut membuat investor mempertanyakan apakah pemerintah masih bisa menjaga disiplin fiskal dalam beberapa tahun ke depan.

Kekhawatiran tersebut tercermin dari keputusan dua lembaga pemeringkat global yang menurunkan outlook Indonesia.

Moody's lebih dulu memangkas outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sambil tetap mempertahankan peringkat di Baa2.

Moody's menyoroti berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan, risiko terhadap efektivitas kebijakan, serta potensi pelemahan tata kelola.

Lembaga ini juga menyoroti kenaikan belanja yang belum diimbangi peningkatan penerimaan negara, serta risiko dari agenda investasi Danantara yang dinilai dapat menambah beban kewajiban pemerintah.

Setelah itu, Fitch Ratings juga menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil, tetapi tetap mempertahankan peringkat Indonesia di BBB.

Fitch menyebut ada peningkatan ketidakpastian dan penurunan kredibilitas dalam bauran kebijakan. Fitch juga memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 dapat mencapai 2,9% PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7% PDB.

Penurunan outlook bukan berarti peringkat Indonesia langsung turun. Namun, sinyalnya, risiko fiskal Indonesia sedang dipantau lebih ketat.

Jika persepsi risiko meningkat, investor biasanya meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset rupiah. Akibatnya, tekanan bisa muncul di pasar surat utang, pasar saham, dan pada akhirnya nilai tukar rupiah.

3. Investor Makin Sensitif terhadap Arah Kebijakan Pemerintah

Selain fiskal, pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai semakin besar peran negaranya.

Salah satu yang paling baru adalah rencana penguatan kendali negara atas ekspor komoditas strategis, termasuk batu bara dan minyak sawit. Pemerintah juga menyiapkan aturan agar devisa hasil ekspor sumber daya alam disimpan penuh di bank-bank BUMN mulai 1 Juni 2026.

Secara tujuan, kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat pasokan valas di dalam negeri dan membantu stabilitas rupiah. Namun, di sisi lain, perubahan besar seperti ini juga menimbulkan pertanyaan soal mekanisme pasar, kepastian usaha, dan potensi gangguan terhadap rantai pasok.

Inilah yang membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap setiap kebijakan baru. Ketika komunikasi kebijakan dianggap belum cukup jelas, pasar biasanya cenderung memilih mengurangi risiko terlebih dahulu.

Sikap seperti ini bisa memperbesar tekanan karena permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara minat terhadap aset rupiah melemah.

4. Permintaan Dolar AS di Dalam Negeri Masih Tinggi

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

BI sebelumnya menjelaskan bahwa permintaan dolar sedang tinggi karena beberapa faktor. Di antaranya repatriasi dividen oleh perusahaan, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan masyarakat terkait musim haji.

Kebutuhan dolar seperti ini biasanya bersifat musiman, tetapi dampaknya bisa besar ketika terjadi bersamaan dengan tekanan eksternal dan sentimen domestik yang lemah.

Repatriasi dividen, misalnya, terjadi ketika perusahaan membagikan keuntungan kepada pemegang saham, termasuk investor asing. Dana tersebut kemudian dikonversi ke dolar AS untuk dikirim ke luar negeri. Proses ini membuat permintaan dolar di pasar domestik meningkat.

Hal yang sama juga terjadi pada pembayaran utang luar negeri. Perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing tetap membutuhkan dolar AS untuk membayar pokok maupun bunga utang. Ketika rupiah sedang melemah, kebutuhan ini menjadi semakin berat karena perusahaan harus menyiapkan rupiah lebih besar untuk mendapatkan dolar dalam jumlah yang sama.

Sementara itu, faktor haji juga ikut menambah kebutuhan valas. Sebab, sebagian biaya penyelenggaraan ibadah haji berkaitan dengan pembayaran di luar negeri, terutama untuk kebutuhan selama berada di Arab Saudi.

Saat permintaan dolar naik, sementara pasokan valas belum cukup kuat mengimbanginya, rupiah akan lebih mudah melemah. Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari pasar global, tetapi juga dari kebutuhan riil di dalam negeri. 

CNBC INDONESIA RESARCH

[email protected]

(evw/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research