Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
04 June 2026 11:17
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), membuka risiko kenaikan biaya impor berbagai komoditas strategis yang masih dibutuhkan Indonesia.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.11 WIB rupiah berada di level Rp18.015/US$, melemah 0,42% dan sekaligus menjadi titik terlemah baru sepanjang sejarah. Posisi tersebut memperpanjang tekanan yang sudah terjadi sehari sebelumnya ketika rupiah ditutup di Rp17.940/US$.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena Indonesia masih mengandalkan pasokan luar negeri untuk sejumlah bahan pangan utama.
Ketika dolar menguat, biaya impor yang tercermin dalam nilai CIF (Cost, Insurance, and Freight) ikut membengkak sehingga berpotensi menekan harga bahan baku hingga produk jadi di dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sepanjang Januari-Maret 2026, serealia menjadi komoditas pangan impor terbesar Indonesia.
Kelompok yang mencakup gandum, jagung, dan beras ini mencapai 3,79 juta ton dengan nilai CIF US$1,04 miliar atau setara sekitar Rp18,8 triliun menggunakan kurs Rp18.015/US$. Gandum menjadi salah satu bahan baku utama industri tepung terigu yang kemudian digunakan untuk memproduksi mi instan, roti, biskuit, hingga aneka makanan olahan.
Kenaikan gandum dan kedelai ini bisa membebani warga Indonesia.
Gandum merupakan bahan baku mie instan sementara kedelai adalah bahan baku tempe.
Di bawahnya terdapat bungkil dan residu industri pangan maupun pakan ternak yang mencapai 2,39 juta ton senilai US$948,4 juta. Kelompok ini didominasi bahan baku pakan seperti bungkil kedelai yang menjadi penopang industri unggas nasional. Kenaikan biaya impor komoditas ini berpotensi menjalar ke biaya produksi ayam dan telur.
Indonesia juga masih mendatangkan biji-bijian dan oilseeds, termasuk kedelai, sebanyak 866,9 ribu ton dengan nilai US$536,5 juta. Kedelai merupakan bahan baku utama tempe dan tahu yang dikonsumsi hampir seluruh lapisan masyarakat.
Pada saat yang sama, impor gula dan produk gula mencapai 1,02 juta ton dengan nilai US$499,5 juta. Besarnya volume tersebut menunjukkan kebutuhan gula nasional masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi domestik.
Komoditas lain yang juga mencatat nilai impor besar adalah produk susu, telur, dan madu dengan nilai US$415,7 juta. Ketergantungan terhadap bahan baku susu impor selama ini menjadi salah satu tantangan industri pengolahan susu nasional karena produksi susu segar dalam negeri belum mampu mengejar kebutuhan industri.
Sementara itu, impor buah-buahan dan kacang-kacangan tercatat mencapai 281,2 ribu ton dengan nilai US$537 juta. Nilainya bahkan lebih tinggi dibanding gula maupun susu. Selain itu terdapat impor sayuran dan umbi-umbian senilai US$212,7 juta serta daging dan jeroan senilai US$138 juta sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google














































