Aisha Mayra, CNBC Indonesia
04 June 2026 08:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur pada perdagangan kemarin, Rabu (3/6/2026). Jatuhnya IHSG pada Rabu memicu kekhawatiran jika periode manis IHSG pada Juni tidak terulang tahun ini.
IHSG sempat bangkit pada Selasa (2/6/2026) dengan terbang 1,11% ke 6195,43. Kenaikan IHSG menjadi kabar baik setelah babak belur jatuh 11,9% pada Mei 2026.
Namun, kenaikan ini juga hanya sesaat karena bursa saham kembali hancur lebur. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks ditutup anjlok 4,11% ke level 5.941,07 dan bahkan sempat menyentuh 5.842, level terendah sejak Mei 2021 saat Indonesia masih menghadapi gelombang pandemi Covid-19 varian Delta.
Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, IHSG telah terkoreksi hampir 35% hanya dalam waktu kurang dari enam bulan.
Koreksi tajam tersebut menghapus nilai kapitalisasi pasar dalam jumlah sangat besar. Total kapitalisasi Bursa Efek Indonesia menyusut dari Rp16.632 triliun pada puncaknya menjadi Rp10.478 triliun.
Juni Biasa Bersahabat dengan IHSG
Secara historis, Juni merupakan bulan baik untuk Bursa Efek Indonesia.
Dalam satu dekade terakhir, bulan ini lebih sering berakhir positif daripada negatif. Bukan bulan yang menghasilkan reli terbesar, tetapi cukup konsisten menjaga pasar dari koreksi yang dalam.
Juni Lebih Sering Hijau
Data 10 tahun terakhir menunjukkan IHSG menguat tujuh kali selama Juni dan hanya melemah pada tiga kesempatan.
Rata-rata return bulan ini berada di kisaran 0,7%, menjadikannya salah satu periode yang relatif stabil bagi pasar domestik.
Kinerja terbaik terjadi pada Juni 2020 ketika IHSG melonjak 3,19% seiring pemulihan pasar setelah guncangan awal pandemi Covid-19. Sebaliknya, Juni 2025 menjadi yang terburuk dalam satu dekade dengan koreksi 3,46%.
Polanya cukup jelas. Juni lebih sering menghadirkan kenaikan moderat daripada pergerakan ekstrem.
Tahun yang Tidak Biasa
Masalahnya, 2026 bukan tahun yang normal.
Meski Juni berhasil ditutup menguat, kenaikan tersebut hanya memulihkan sebagian kecil tekanan yang menghantam pasar pada semester pertama.
IHSG turun 3,67% pada Januari dan kembali terkoreksi 1,13% pada Februari. Tekanan memuncak pada Maret ketika indeks anjlok 14,42%, sebelum kembali melemah 11,92% pada Mei.
Akibatnya, posisi indeks masih jauh di bawah level awal tahun.
Dalam konteks tersebut, penguatan Juni lebih tepat dibaca sebagai stabilisasi ketimbang pemulihan penuh.
Tidak Sekadar Soal Historis
Data historis menunjukkan Juni cenderung menjadi bulan yang ramah bagi IHSG. Namun pasar saham jarang bergerak hanya karena historis.
Semester pertama 2026 menunjukkan bagaimana sentimen global, arus modal, kebijakan ekonomi, dan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar dapat dengan mudah mengalahkan pola musiman.
Juni memang memberi sedikit ruang bernapas bagi investor.
Tetapi seperti biasa di pasar modal, sejarah lebih berguna sebagai petunjuk daripada jaminan.
IHSG Juni Tahun Ini Berat
Juni 2026 tampaknya akan menjadi bulan krusial bagi pasar keuangan Indonesia. Sejumlah agenda besar mulai dari kunjungan lembaga pemeringkat global, review indeks internasional, hingga keputusan suku bunga bank sentral diperkirakan bakal menentukan arah IHSG, rupiah, obligasi, dan arus modal asing.
Salah satu sorotan utama datang dari rencana kunjungan S&P Global ke Indonesia pada Juni ini. Sebelumnya, Pemerintah menyebut S&P akan berdiskusi langsung dengan pemerintah guna mengevaluasi kondisi ekonomi dan fiskal nasional. Agenda ini penting karena dapat menjadi penentu persepsi investor global terhadap stabilitas ekonomi RI, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan Lembaga Rating Standard & Poor's (S&P) pada hari ini, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Tampak hadir mewakili S&P Global, Kim Eng Tan yang merupakan Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik.
"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," kata Airlangga dalam postingan di Instagram resminya @airlanggahartarto_official, Rabu (3/6/2026).
Selain itu, pasar juga menanti implementasi review FTSE yang efektif berlaku pada 22 Juni 2026. Dalam evaluasi terbarunya, FTSE mengeluarkan DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks. Perubahan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio investor pasif dan meningkatkan tekanan jual pada saham-saham terkait.
Tak kalah penting, MSCI dijadwalkan merilis dua agenda besar pada Juni.
Pertama, Global Market Accessibility Review pada 19 Juni yang mengevaluasi kemudahan investor global berinvestasi di suatu negara.
Kedua, Annual Market Classification Review pada 24 Juni yang menentukan posisi suatu negara dalam kategori developed, emerging, atau frontier market. Hasil review MSCI kerap memengaruhi arus dana asing dan sentimen terhadap pasar saham domestik.
Dari sisi makroekonomi, perhatian investor juga akan tertuju pada keputusan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia pada 18 Juni. Konsensus pasar memperkirakan The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%, sementara BI diproyeksi tetap di level 5,25%.
Pada hari yang sama, pasar juga menunggu rilis final pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026. Kombinasi arah suku bunga global dan data ekonomi AS akan menjadi penentu pergerakan rupiah, yield obligasi, hingga selera risiko investor terhadap aset emerging market seperti Indonesia.
(mae/mae)
Addsource on Google













































