Jepang-China Buang Surat Utang AS, Ramai-Ramai "Hukum" Trump

4 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

03 June 2026 20:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara besar tercatat memangkas kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat atau yang dikenal dengan US Treasury pada Maret 2026.

Berdasarkan data terakhir Treasury International Capital (TIC), Jepang dan China menjadi dua negara yang paling besar melepas US Treasury.

Jepang masih menjadi pemegang US Treasury terbesar di dunia dengan nilai kepemilikan mencapai US$1.191,6 miliar atau sekitar US$1,19 triliun pada Maret 2026. Namun, angka ini turun tajam dibandingkan Februari 2026 yang sebesar US$1.239,3 miliar.

Artinya, Jepang melepas sekitar US$47,7 miliar US Treasury hanya dalam sebulan.

China juga melakukan hal serupa. Kepemilikan US Treasury China turun dari US$693,3 miliar pada Februari 2026 menjadi US$652,3 miliar pada Maret 2026. Dengan demikian, China melepas sekitar US$41 miliar US Treasury dalam satu bulan.

Penurunan kepemilikan China ini juga melanjutkan tren yang sudah berlangsung cukup panjang. Jika dibandingkan dengan Maret 2025, kepemilikan US Treasury China sudah turun dari US$765,4 miliar menjadi US$652,3 miliar. Dalam setahun kepemilikan China berkurang sekitar US$113,1 miliar.

Selain Jepang dan China, sejumlah negara lain juga mencatatkan penurunan kepemilikan US Treasury pada Maret 2026. Luxembourg melepas US$13,7 miliar, Taiwan US$12,7 miliar, Arab Saudi US$10,8 miliar, India US$7,6 miliar, Kanada US$6,9 miliar, dan Uni Emirat Arab US$5,8 miliar.

Berikut daftar negara yang mencatat penurunan kepemilikan US Treasury terbesar pada Maret 2026:

Kenapa Negara Banyak yang Keluar dari US Treasury?

Aksi jual US Treasury oleh sejumlah negara tidak selalu berarti mereka sepenuhnya kehilangan kepercayaan terhadap surat utang pemerintah AS. Dalam banyak kasus, langkah ini lebih berkaitan dengan strategi pengelolaan cadangan devisa, stabilisasi nilai tukar, hingga kebutuhan menghadapi tekanan geopolitik dan perdagangan.

Salah satu alasan utama adalah stabilisasi mata uang domestik. Ketika mata uang suatu negara melemah tajam terhadap dolar AS, bank sentral bisa menjual sebagian kepemilikan US Treasury untuk memperoleh dolar.

Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk intervensi di pasar valas, yakni membeli mata uang domestik agar pelemahannya tidak terlalu dalam.

Langkah ini umum dilakukan ketika tekanan terhadap nilai tukar meningkat.

Bagi negara berkembang, pelemahan mata uang yang terlalu tajam bisa menimbulkan risiko lebih besar, mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, hingga meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri dalam denominasi dolar AS.

Alasan lain adalah diversifikasi cadangan devisa. Selama puluhan tahun, dolar AS dan US Treasury menjadi instrumen utama cadangan devisa global.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. China, misalnya, sudah lama memangkas kepemilikan US Treasury dan pada saat yang sama meningkatkan porsi aset lain, termasuk emas.

Diversifikasi ini dilakukan agar cadangan devisa tidak terlalu bergantung pada satu mata uang atau satu instrumen saja. Dengan begitu, risiko dapat lebih tersebar, terutama ketika dolar AS melemah, imbal hasil obligasi bergerak tajam, atau arah kebijakan moneter AS berubah.

Selain faktor ekonomi, ada juga unsur geopolitik dan hubungan dagang. Beberapa negara dapat mengurangi kepemilikan US Treasury sebagai bagian dari respons terhadap kebijakan AS, seperti tarif, sanksi, atau ketegangan diplomatik.

Dalam konteks ini, kepemilikan surat utang AS bisa menjadi salah satu alat tawar dalam hubungan internasional, meskipun penggunaannya tetap harus dihitung hati-hati karena dapat berdampak balik ke pasar keuangan negara tersebut.

Faktor lain yang juga berperan adalah biaya lindung nilai atau hedging.

Investor asing, termasuk lembaga keuangan seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun, biasanya melindungi investasinya dari risiko perubahan kurs. Namun, ketika biaya hedging terhadap dolar menjadi terlalu mahal, imbal hasil US Treasury bisa menjadi kurang menarik. Akibatnya, sebagian investor memilih melepas obligasi AS dan memindahkan dananya ke aset lain yang dinilai lebih efisien.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research