REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah memperkuat kerja sama bilateral dengan Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok di bidang pendidikan. Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), menegaskan bahwa kolaborasi kedua negara tidak boleh hanya bertumpu pada sektor ekonomi, melainkan harus melibatkan pertukaran ilmu pengetahuan antargenerasi muda.
"Kami berharap kerja sama Indonesia dan Tiongkok tidak hanya bertumpu pada perdagangan atau investasi. Pendidikan harus menjadi jembatan yang mempertemukan generasi muda kedua bangsa sehingga hubungan ini semakin kuat di masa depan," ujar Gus Rozin dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Dalam pertemuan di Semarang tersebut, Gus Rozin mengusulkan sejumlah langkah strategis, mulai dari pengiriman tenaga pengajar Bahasa Mandarin untuk institusi pendidikan di bawah naungan NU dan perluasan kuota beasiswa bagi para santri. Selain itu Gus Rozin berharap ada kemudahan pengurusan visa akademik, hingga pertukaran pelajar dan pengasuh pesantren.
"Kami juga berharap ada lebih banyak pertukaran mahasiswa, dosen, rektor, kepala sekolah, maupun pengasuh pesantren. Dengan begitu, manfaat kerja sama benar-benar dirasakan masyarakat," katanya.
Pihak Konjen Tiongkok yang diwakili Mr Ye Su menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi seluruh program pendidikan yang diajukan. Dalam pertemuan tersebut Mr Ya Su menyampaikan apresiasi khusus kepada Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang dinilai berjasa besar dalam membuka kembali hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok sekaligus merawat semangat toleransi serta perlindungan hak asasi manusia.
“Kami sangat menghormati atas warisan pemikiran Gus Dur yang hingga kini menjadi fondasi kuat hubungan persahabatan kedua negara,” ujarnya.
Menanggapi apresiasi tersebut, Gus Rozin menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan sikap saling menghormati yang diwariskan Gus Dur harus terus dirawat melalui kerja sama nyata di sektor pendidikan dan kebudayaan.
"Warisan terbesar Gus Dur adalah membangun hubungan dengan rasa saling menghormati. Nilai itu yang ingin kami teruskan melalui kerja sama pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia," tegas Gus Rozin.
Menjelang akhir pertemuan, kedua belah pihak sepakat menjaga komunikasi berkelanjutan, di mana pihak Konjen Tiongkok turut mengundang Gus Rozin melakukan kunjungan balasan serta merencanakan agenda lanjutan di Jawa Tengah sebelum penghujung tahun 2026.

6 hours ago
4














































