REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pos Indonesia (Persero) mendukung rencana Danantara Indonesia dalam melakukan konsolidasi seluruh perusahaan logistik BUMN. Direktur Pengembangan Bisnis dan Manajemen Portofolio Pos Indonesia Prasabri Pesti mengatakan, Pos Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah strategis yang bertujuan menciptakan value dan efisiensi industri logistik nasional.
"Kami memastikan mendukung langkah karena ini akan menciptakan efisiensi dan konsolidasi di dalam Danantara dan secara lingkup makro nasional ini akan berdampak kepada efisiensi logistik nasional," ujar Prasabri saat Silaturahmi Media di Gedung Kantor Pusat Pos Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Prasabri menilai konsolidasi BUMN logistik penting dalam menekan biaya logistik Indonesia yang masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN. Manajemen menyadari bahwa langkah besar seperti ini membutuhkan proses kajian yang panjang dan eksekusi yang hati-hati (prudent).
"Pos Indonesia siap memperkuat ekosistem logistik melalui kompetensi dan kapabilitas yang dimiliki guna mendukung visi besar tersebut," ucap Prasabri.
Prasabri menyampaikan, konsolidasi dalam ekosistem logistik nasional di bawah Danantara tidak bisa hanya melihat masing-masing entitas secara terpisah, tetapi harus melihatnya dalam kerangka konsolidasi yang lebih besar. Menurut dia, konsolidasi tidak semata-mata berarti penggabungan pendapatan, tetapi juga membuka peluang efisiensi operasional, percepatan penetrasi pasar, serta penguatan posisi industri secara keseluruhan.
"Ketika konsolidasi itu terjadi, itu otomatis bukan hanya menggabungkan pendapatan, tetapi akan ada efisiensi, kemudian juga ada kecepatan masuk ke market. Kemungkinan akan banyak produk-produk baru dari yang tadinya sulit," lanjut dia.
Prasabri menyinggung potensi besar industri logistik nasional memiliki market size sekitar Rp1.300 triliun. Namun, lanjut dia, tidak ada satu pun pemain yang benar-benar dominan di dalamnya.
Ia menyampaikan pemain dengan pangsa pasar tertinggi hanya menguasai sekitar 1,01 persen yakni Samudera Indonesia untuk pasar domestik. Selebihnya, termasuk Pos Indonesia, masing-masing memiliki pangsa pasar di bawah satu persen.
"Sehingga tidak ada dominan market share seperti di telekomunikasi misalnya yang mana menguasai 40-60. Di logistik ini sangat fragmented, itu salah satu kelebihan sekaligus tantangan," kata Prasabrii.
Prasabri menyebut fragmentasi ini memiliki dua sisi yakni di satu sisi, terlalu banyak pemain bisa menyebabkan inefisiensi dan kurangnya standardisasi. Namun namun di sisi lain, dari sudut pandang Pos Indonesia, kondisi ini menciptakan level playing field yang relatif setara bagi semua pelaku usaha.

2 hours ago
2













































