Petrodollar Goyah! Perang Iran Buka Jalan Yuan Kuasai Energi

11 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

01 April 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Petrodollar mulai goyah akibat perang Iran, sementara yuan pelan-pelan naik dan petroyuan kembali dibahas pasar dunia.

Perang yang melibatkan Iran kini memunculkan kekhawatiran yang lebih besar dari sekadar gejolak pasar jangka pendek. Konflik ini mulai dilihat sebagai ancaman terhadap sistem lama yang selama puluhan tahun menopang dominasi dolar Amerika Serikat (AS), terutama dalam perdagangan energi dunia.

Di saat yang sama, yuan China juga semakin sering masuk dalam pembahasan pasar. Penyebabnya, muncul kemungkinan bahwa sebagian transaksi energi ke depan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Jika pola ini makin meluas, maka perang Iran bukan hanya mengguncang harga minyak dan sentimen pasar, tetapi juga berpotensi mempercepat perubahan dalam peta mata uang global.

Selama ini, kekuatan dolar bukan hanya karena ekonomi AS sangat besar atau pasar keuangannya sangat dalam. Ada fondasi lain yang tidak kalah penting, yakni karena banyak perdagangan dunia dilakukan dalam dolar, lalu kelebihan dana dari perdagangan tersebut kembali disimpan dalam aset-aset dolar. Dalam sistem ini, minyak memegang peran yang sangat penting.

Ketika minyak dijual dan dibayar dalam dolar, banyak negara otomatis harus terus memegang dolar untuk memenuhi kebutuhan energinya. Dari situlah dominasi dolar mengakar kuat, bukan hanya dalam perdagangan global, tetapi juga dalam cadangan devisa dunia.

Petroyuan Makin Dilirik di Tengah Perang

Di tengah konflik yang terus memanas, yuan mulai mendapat perhatian lebih besar dalam pembahasan pasar internasional. Hal ini terutama berkaitan dengan kemungkinan berubahnya pola perdagangan energi global, ketika perang yang menyeret Iran kembali menempatkan jalur distribusi minyak dunia dalam sorotan.

Peran yuan menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan perdagangan energi. Iran disebut membuka peluang bagi sejumlah negara agar kapal-kapal mereka tetap bisa melintas di Selat Hormuz, tetapi dengan syarat pembayaran minyak dilakukan dalam yuan.

Jika ini benar-benar berkembang, implikasinya bukan hanya menyangkut kelancaran pelayaran, melainkan juga bisa menjadi sinyal awal perubahan dalam sistem perdagangan energi global yang selama ini sangat bergantung pada dolar AS.

Dari sinilah istilah petroyuan kembali ramai dibahas. Jika akses ke jalur perdagangan energi mulai dikaitkan dengan penggunaan mata uang selain dolar, maka dominasi dolar dalam transaksi minyak tentu berpotensi menghadapi tekanan baru.

Pergeseran ini memang belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Namun, perang yang sedang berlangsung dinilai bisa menjadi pemicu yang mempercepat tekanan terhadap petrodollar, sekaligus membuka ruang lebih besar bagi munculnya petroyuan.

Dalam skenario terburuk, minyak Timur Tengah yang mengalir ke Asia melalui Selat Hormuz bisa makin banyak dihargai dan diperdagangkan dalam yuan, sementara minyak dari Barat yang dijual ke sekutu tradisional AS tetap memakai dolar. Jika itu benar-benar terjadi, sistem harga minyak global tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada dolar seperti selama ini.

Di sinilah posisi yuan menjadi menarik. Mata uang China itu memang belum menjadi pengganti dolar, tetapi mulai dipandang sebagai salah satu mata uang yang berpotensi mendapat ruang lebih besar jika pola perdagangan energi dunia berubah.

Gambaran itu juga mulai terlihat dalam data terbaru International Monetary Fund (IMF).

Pangsa yuan China dalam cadangan devisa global naik tipis menjadi 1,95% pada kuartal IV-2025, dari 1,92% pada kuartal III-2025. Kenaikannya memang masih kecil dan porsinya jauh di bawah dolar maupun euro, tetapi arah pergerakannya tetap penting karena menunjukkan yuan mulai perlahan menambah ruang dalam komposisi cadangan devisa bank sentral dunia.

Petrodollar Mulai Meredup Tapi Dolar Belum Tertandingi

Meski demikian, tekanan terhadap petrodollar sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum perang Iran memanas. Artinya, konflik ini bukan awal dari perubahan, melainkan faktor yang berpotensi mempercepat pergeseran yang sudah lebih dulu berjalan.

Salah satu pendorong utamanya adalah perubahan arah perdagangan minyak dunia. Kini, sebagian besar minyak Timur Tengah lebih banyak dijual ke Asia dibanding ke AS. Arab Saudi bahkan kini menjual minyak ke China sekitar empat kali lebih besar daripada ke AS. Ini menunjukkan bahwa pusat perdagangan energi global mulai bergeser.

Di sisi lain, minyak dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi juga semakin banyak diperdagangkan di luar jalur dolar, menggunakan mata uang lokal seperti rubel, yuan, dan rupee, serta infrastruktur pembayaran non-dolar. Dengan kata lain, jalur alternatif di luar dolar sebenarnya sudah mulai terbentuk, bahkan sebelum konflik terbaru ini pecah.

Perang yang sedang berlangsung lalu memperbesar tekanan tersebut. Selama ini, sistem petrodollar ikut bertahan karena ada jaminan keamanan dari AS di kawasan Teluk, yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Namun dalam konflik kali ini, jaminan keamanan itu justru ikut diuji.

Jika keamanan jalur energi global mulai goyah, maka fondasi sistem lama yang selama ini menopang petrodollar juga ikut melemah. Apalagi, Selat Hormuz sebagai salah satu jalur terpenting perdagangan minyak dunia kini ikut terdampak. Jika arus energi terganggu di titik ini, efeknya bisa menjalar ke harga minyak, inflasi, hingga pasar keuangan global.

Data IMF memperlihatkan bahwa tekanan itu bukan sekadar cerita geopolitik. Pangsa cadangan devisa dunia yang berdenominasi dolar AS turun menjadi 56,77% pada kuartal IV-2025, lebih rendah dibanding 56,93% pada kuartal III-2025.

Jika ditarik sepanjang 2025, arahnya juga sama. Pada kuartal I-2025, porsi dolar masih berada di kisaran 57,79%, lalu turun ke 56,32% pada kuartal II-2025, sebelum bergerak di sekitar 56,9% pada paruh kedua tahun lalu dan menutup tahun di 56,77%. Dengan level ini, porsi dolar berada di titik terendah sejak pertengahan 1990-an. Ini berarti dominasi dolar memang masih besar, tetapi terus terkikis secara bertahap.

Meski begitu, posisi dolar AS belum akan mudah tergeser dalam waktu dekat. Salah satu alasannya, negara-negara Teluk masih sangat terkait dengan dolar, baik melalui sistem nilai tukar maupun besarnya simpanan aset mereka dalam mata uang AS tersebut. Kondisi ini membuat pergeseran menjauh dari dolar tidak bisa dilakukan secara cepat. Jika dipaksakan, langkah itu justru berisiko menekan stabilitas kurs negara-negara di kawasan Teluk sendiri.

Di sisi lain, dolar juga masih berpeluang mempertahankan dominasinya dalam perdagangan minyak jika Amerika Serikat tetap mampu menjaga posisi kuat dalam pasokan energi global. Selama pengaruh AS dan negara-negara Barat dalam rantai pasok energi dunia masih besar, dolar masih punya ruang untuk tetap menjadi mata uang utama dalam perdagangan minyak.

Itu sebabnya, meski tekanan terhadap petrodollar mulai terlihat, dolar belum benar-benar tertandingi. Sistem lama memang mulai retak, tetapi belum runtuh.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research