Aisha Mayra, CNBC Indonesia
29 May 2026 19:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Di banyak kota Eropa, semakin banyak orang berusia 30-an tahun yang masih tinggal bersama orang tua. Bukan karena ingin, melainkan karena semakin sulit membeli rumah sendiri.
Harga properti di Eropa naik sekitar 25% dalam satu dekade terakhir setelah disesuaikan dengan inflasi. Sewa juga tumbuh lebih cepat daripada upah.
Bagi generasi yang membeli rumah puluhan tahun lalu, kenaikan itu berarti kekayaan. Bagi generasi yang baru masuk pasar kerja, hasilnya berbeda.
Hampir seperempat warga Eropa yang lahir pada 1980-an masih tinggal bersama orang tua pada usia 30 tahun. Angka itu sekitar 50% lebih tinggi dibanding generasi yang lahir dua dekade sebelumnya.
Dulu, kepemilikan rumah sering menjadi pintu masuk menuju kemandirian finansial. Kini, bagi sebagian orang, warisan terasa sebagai jalan yang lebih realistis.
Tua dan Muda
Dulu ketimpangan Eropa lebih mudah dilihat di peta. Eropa Barat lebih kaya, sementara Eropa Timur tertinggal.
Setelah puluhan tahun pertumbuhan di negara-negara bekas blok komunis, garis pemisah itu mulai bergeser. Ketimpangan kini semakin sering terlihat di dalam keluarga.
Anak muda menghadapi harga rumah yang tinggi dan pajak yang besar. Di saat yang sama, biaya menopang masyarakat yang menua terus meningkat. Menurut perkiraan Uni Eropa, pengeluaran terkait penuaan penduduk kini menyerap sekitar seperempat PDB kawasan.
Ketimpangan tidak lagi hanya soal kaya dan miskin.
Semakin sering, ia juga soal tua dan muda.
Siapa Menanggung Bebannya?
Sebagian besar sistem pensiun Eropa dibangun ketika jumlah pekerja jauh lebih banyak dibanding jumlah pensiunan.
Pada 1960, lebih dari lima pekerja menopang satu pensiunan di Eropa Barat. Kini jumlahnya tinggal sekitar 2,5 pekerja.
Persoalannya bukan rumit. Jumlah pembayar terus menyusut, sementara jumlah penerima manfaat terus bertambah.
Di banyak negara Eropa, pensiun hari ini masih dibayar oleh pekerja hari ini. Sistem tersebut berjalan baik ketika populasi tumbuh. Namun ketika angka kelahiran turun dan masyarakat semakin tua, bebannya menjadi lebih berat.
Akibatnya, banyak pekerja muda harus menyiapkan pensiun mereka sendiri sambil tetap membiayai sistem yang menopang generasi sebelumnya.
Politik yang Menua
Demografi tidak hanya mengubah ekonomi. Ia juga mengubah politik.
Dalam pemilu presiden Prancis terakhir, usia median pemilih mencapai 52 tahun. Lansia bukan hanya kelompok yang semakin besar, tetapi juga kelompok yang paling rajin datang ke tempat pemungutan suara.
Tak heran jika pemerintah lebih mudah melindungi anggaran pensiun daripada memangkasnya. Sebaliknya, pendidikan, inovasi, dan investasi jangka panjang sering menjadi sasaran penghematan ketika anggaran mengetat.
Maxime Sbaihi dari Club Landoy, lembaga riset demografi Prancis, merangkum fenomena tersebut dalam satu kalimat:
"The future of democracy is increasingly decided by voters who don't have one."
Masalah yang Lebih Besar
Mudah menyalahkan generasi baby boomer. Namun persoalannya lebih besar daripada satu generasi.
Eropa menghadapi kombinasi yang sulit yakni angka kelahiran rendah, populasi yang menua, dan biaya pensiun yang terus meningkat. Boomers mungkin menjadi simbol dari perubahan itu. Penyebab utamanya adalah matematika demografi.
Sistem yang dirancang untuk masyarakat yang terus bertambah jumlahnya kini harus menopang masyarakat yang semakin tua.
Janji Antar Generasi
Selama puluhan tahun, negara kesejahteraan Eropa dibangun di atas satu janji sederhana: setiap generasi akan hidup lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Janji itu kini mulai diuji. Ketika jumlah pekerja menyusut dan populasi lansia bertambah cepat, mempertahankan standar hidup yang sama menjadi semakin mahal.
Bagi banyak anak muda Eropa hari ini, pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan hidup lebih baik daripada orang tua mereka.
Pertanyaannya adalah apakah mereka masih bisa mencapai kehidupan yang dulu dianggap normal.
(mae/mae)
Addsource on Google













































