REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menutup semester pertama 2026, PT Telkom berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun,tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).
Sejalan dengan kinerja tersebut, EBITDA Perseroan meningkat 3,8 persen YoY menjadi Rp 37,5 triliun dengan EBITDA margin sebesar 49,4 persen. Laba bersih juga tumbuh 1,4 persen YoY menjadi Rp 10,6 triliun, dengan margin laba bersih 14,0 persen.
Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp 11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen YoY, dengan margin sebesar 14,9 persen, mencerminkan ketahanan kinerja operasional perseroan yang didukung pemulihan bisnis mobile.
Perseroan juga membukukan arus kas operasional yang kuat sebesar Rp 34,9 triliun atau tumbuh 7,0 persen YoY, didukung implementasi program efisiensi berkelanjutan serta disiplin dalam pengelolaan biaya.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini mengatakan, komitmen dan dedikasi Telkom dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tecermin dari pertumbuhan yang berhasil dicapai pada semester pertama tahun ini.
‘’Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia," ujar Dian dalam keterangan, Sabtu (1/8/2026).
Profitabilitas Segmen B2C Kian Kuat
Pada Segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband), Telkomsel membukukan pendapatan Rp 55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen YoY, didorong pertumbuhan pendapatan Digital Business Data sebesar 11,0 persen pada semester pertama 2026.
Kinerja tersebut mencerminkan berlanjutnya pemulihan industri mobile yang didukung implementasi strategi komersial secara disiplin melalui penetapan harga, optimalisasi portofolio produk, dan pengelolaan nilai pelanggan. Sejalan dengan hal tersebut, Average Revenue Per User (ARPU) mobile meningkat menjadi Rp 45.600 atau tumbuh 9,0 persen YoY.
Selain itu, payload data juga terus bertumbuh seiring meningkatnya konsumsi digital masyarakat selama momen liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia, yang semakin mendorong tingginya kebutuhan pelanggan terhadap layanan data berkualitas.
Pada layanan fixed broadband, Telkomsel terus memperkuat kualitas layanan melalui kalibrasi strategis basis pelanggan. Hasilnya, jumlah pelanggan tercatat menjadi 9,5 juta dibandingkan 10,1 juta pada semester pertama 2025, dengan dampak yang terbatas terhadap pendapatan pada kuartal berjalan.
Secara kuartalan, ARPU IndiHome meningkat 3,4 persen menjadi Rp 211 ribu. Adapun secara semesteran ARPU IndiHome tercatat Rp 207.000, di tengah persaingan harga yang masih berlangsung di pasar.
Meski demikian, rasio konvergensi terus meningkat menjadi 65 persen. Langkah ini bagian dari strategi Telkom membangun basis pelanggan lebih berkualitas, meningkatkan efektivitas monetisasi layanan, serta memperkuat pertumbuhan yang berkelanjutan.
Berbekal fondasi bisnis B2C yang semakin kuat, Telkomsel akan terus mengakselerasi strategi quality growth dengan menempatkan pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama, sekaligus memperluas kapabilitas digital melalui pengembangan ekosistem.
Upaya tersebut akan diperkuat melalui pemanfaatan teknologi AI dan 5G, serta pengembangan solusi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan individu maupun pelaku usaha yang terus berkembang.
Berbagai inisiatif ini diharapkan semakin memperkuat posisi Telkomsel sebagai pemimpin pasar sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.
Penguatan Infrastruktur Digital Dorong Akselerasi Segmen B2B
Total pendapatan Segmen B2B Infrastructure tumbuh 19,0 persen YoY menjadi Rp33,1 triliun pada semester pertama 2026, dengan pendapatan eksternal meningkat 4,9% YoY menjadi Rp4,7 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pendapatan Data, Internet, dan IT Service.
Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower (FTTT), Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp 4,7 triliun atau tumbuh 2,1 persen YoY, dengan Tower-Related Business tetap menjadi penopang utama pendapatan.
Selain itu, total tenant meningkat menjadi 63.866 atau tumbuh 4,9 persen YoY sehingga mendorong rasio penyewaan (tenancy ratio) menara menjadi 1,57x. Pada bisnis data center, Telkom terus memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur digital regional melalui NeutraDC.
Didukung meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur digital, Perseroan terus memperkuat bisnis ini melalui inisiatif konsolidasi yang akan menjadikan NeutraDC sebagai pengelola terpusat seluruh aset data center TelkomGroup.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas layanan, mengoptimalkan monetisasi aset, serta mendorong pertumbuhan melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Sementara pada Segmen B2B ICT, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 7,3 triliun, tumbuh 35,7 persen QoQ meskipun masih terdampak oleh proses restrukturisasi portofolio dan streamlining yang tengah berlangsung.
Pada Segmen International Business, pendapatan tercatat Rp 5,7 triliun pada periode ini.
Seiring pergeseran portofolio bisnis menuju layanan konektivitas dan solusi digital dengan margin lebih tinggi serta berkurangnya ketergantungan pada bisnis traditional voice hubbing, perseroan optimistis langkah tersebut akan mendorong peningkatan margin EBITDA dalam beberapa tahun ke depan.
Saat ini, permintaan terhadap kapasitas baru kabel bawah laut internasional terus meningkat, didorong oleh dinamika geopolitik global serta kebutuhan berbagai perusahaan teknologi besar dunia dalam mendukung adopsi teknologi AI.
Konsisten Transformasi Perusahaan
Eksekusi strategi TLKM 30 pada semester pertama 2026 menunjukkan kemajuan yang signifikan pada keempat pilar transformasi. Dari sisi Operational & Service Excellence, Perseroan melaporkan pertumbuhan arus kas operasional 9,5 persen YoY serta terus meningkatkan efisiensi biaya operasional (OPEX) dan menerapkan pengelolaan belanja modal (CAPEX) secara prudent.
Selain itu, implementasi Early Retirement Program (ERP) yang disertai mobilitas karyawan sebagai bagian dari upaya perampingan bisnis turut meningkatkan efektivitas pengelolaan biaya pegawai.
Di sisi lain, perseroan menuntaskan Streamlining terhadap 10 entitas sebagai upaya menyederhanakan struktur grup dan penataan portofolio bisnis.
Melalui skema divestasi, merger, dan likuidasi, langkah ini semakin memperkuat fokus Telkom pada bisnis inti serta membangun organisasi yang lebih tangkas.
Sejalan dengan upaya tersebut, Perseroan merealisasikan belanja modal sebesar Rp 10,8 triliun, di mana lebih dari 96 persen difokuskan pada pengembangan area bisnis prioritas di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.
Implementasi pilar Unlock Value juga terus mencatatkan kemajuan. Sepanjang semester pertama 2026, Telkom menyelesaikan sejumlah tahapan persiapan strategis dalam pelaksanaan pengalihan asset InfraNexia Tahap 2, yang hingga kini tetap berjalan sesuai rencana dan ditargetkan rampung pada semester kedua 2026.
Pada pilar Modus-operandi Shift, Telkom terus memperkuat implementasi model Strategic Hold-Co melalui pengelolaan portofolio dan operasional bisnis yang terintegrasi pada empat segmen bisnis utama.
Dian menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini. Maka Telkom, bagian dari Danantara Indonesia akan terus mengakselerasi transformasi.
‘’Selain itu, kami memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan, sekaligus menjadi katalis pertumbuhan lintas sektor dan memperkuat ketahanan ekonomi digital nasional," tutup Dian.

5 hours ago
2
















































