REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Maybank Indonesia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 698 miliar pada semester I 2026, meningkat 21,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kinerja tersebut ditopang oleh penguatan bisnis inti, pertumbuhan pendapatan bunga bersih, serta kualitas aset yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan perseroan mampu mempertahankan kinerja positif meski menghadapi tantangan berupa tingginya suku bunga dan ketidakpastian global.
"Kinerja ini mencerminkan kekuatan bisnis inti perbankan kami serta pelaksanaan prioritas strategis secara disiplin di tengah kenaikan suku bunga dan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar domestik," kata Steffano dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Pada semester pertama 2026, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didukung oleh penurunan beban bunga. Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) tercatat sebesar 4,3 persen.
Di sisi lain, pendapatan nonbunga (Non-Interest Income/NOII) turun 5,4 persen secara tahunan. Namun, pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat 8 persen, didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari layanan wealth sebesar 39 persen, pembiayaan otomotif 27,5 persen, serta layanan perbankan ritel 54,3 persen.
Sejalan dengan itu, Gross Operating Income (GOI) meningkat 1,9 persen menjadi Rp 4,64 triliun.
Dari sisi neraca, total aset Maybank Indonesia tumbuh 15,6 persen menjadi Rp 213,81 triliun hingga Juni 2026.
Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,1 persen (gross) dan 1,3 persen (net), lebih rendah dibandingkan posisi Juni 2025 yang masing-masing sebesar 2,4 persen (gross) dan 1,5 persen (net).
Penyaluran kredit meningkat 3,8 persen menjadi Rp 126,28 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit segmen Global Banking yang naik 5 persen menjadi Rp 54,98 triliun, terutama dari segmen Large Local Corporates yang tumbuh 18 persen serta Business Banking yang meningkat 24,3 persen.
Sementara itu, kredit yang dikelola melalui Community Financial Services (CFS), baik ritel maupun nonritel, tumbuh 2,9 persen menjadi Rp 71,30 triliun.
sumber : ANTARA

4 hours ago
2

















































