Pembangunan Ulang Jembatan Kewek Ditargetkan April 2026

1 month ago 12

Kondisi Jembatan Kleringan atau Jembatan Kewek yang menjadi akses penghubung masyarakat hingga wisatawan menuju kawasan Malioboro Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan pembangunan Jembatan Kewek akan mulai dikerjakan pada April 2026. Proyek revitalisasi total jembatan yang menghubungkan kawasan Malioboro dan Kotabaru itu akan ditangani langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Sebagai tahap awal, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUPKP Kota Yogyakarta, Hasri Nilam Baswari, mengatakan saat ini tengah melakukan pengujian struktur tanah dengan mengambil sampel tanah keras di lokasi Jembatan Kewek. Pengujian dilakukan untuk menentukan titik dan kedalaman fondasi jembatan yang paling aman juga memastikan fondasi jembatan berada di lapisan tanah yang kuat.

Tak hanya di satu titik, pengambilan sampel tanah dilakukan di dua titik, yakni di sisi barat dan timur Sungai Code. "Kami sedang mengambil sampel tanah untuk mengetahui kedalaman tanah keras di lokasi tersebut. Karena untuk perletakan pondasinya kan butuh data tanah keras," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).

Selain pengujian langsung di lokasi Jembatan Kewek, pihaknya juga menggunakan data pembanding dari pembangunan jembatan lain. "Didapati kedalaman sekitar 20 meter. Lalu kami pakai juga data sekunder dari jembatan waktu pembangunan Jembatan Amarta, jembatan yang Keleringan yang sisi utara itu," ujarnya.

Saat ditanya terkait proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan ulang Jembatan Kewek, Nilam mengatakan masih terus berjalan. Progres asistensi DED dengan Satker P2JN Kementerian PU disebutnya telah mencapai sekitar 80 persen.

"Sudah di angka kurang lebih 80 persen untuk asistensi DED-nya karena masih ada beberapa hal yang dikoreksi dan direvisi lagi oleh teman-teman," ujar Nilam.

Penyelesaian DED itu ditargetkan dapat rampung pada Februari 2026 mendatang. Bersamaan dengan itu, DPUPKP juga memproses dokumen lingkungan secara paralel.

"Kami berproses paralel ini. Nanti kami pakainya UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup)," ujarnya.

Terkait desain jembatan, Nilam menyebutkan masih ada proses asistensi khusus untuk penyesuaian fasad agar selaras dengan kawasan cagar budaya. "Kami masih melakukan asistensi dengan Dewan Warisan Budaya, jadi nanti mungkin ada perubahan tapi tidak banyak," katanya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research