Pasar Dibayangi Kabar Genting dari AS, Data Cadev dan Revisi RBB Bank

10 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia kompak berakhir di zona hijau, rupiah dan saham sama-sama menguat
  • Wall Street melemah tertekan saham teknologi
  • Perkembangan perang dan data ekonomi menjadi sentimen penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak merekah pada akhir perdagangan Kamis(7/5/2026). Bursa saham dan rupiah sama-sama menguat.

Pasar keuangan Indonesia diharakan melanjutkan penguatan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli dan ditutup menguat 1,15% ke level 7.174,32 pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Sebanyak 361 saham naik, 295 turun, dan 160 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp22,59 triliun dengan volume 39,55 miliar saham dalam 2,63 juta kali transaksi.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 76,39 miliar pada perdagangan kemarin.

Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp12.782 triliun. Penguatan IHSG ditopang sektor teknologi yang melesat 3,88%, diikuti finansial 3,28%, kesehatan 2,29%, dan properti 2,18%.

Saham perbankan menjadi motor utama penguatan indeks. Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi masing-masing 25,76 poin dan 23,52 poin setelah sahamnya naik 4,62% dan 4,75%. Bank Mandiri (BMRI) serta Bank Negara Indonesia (BBNI) turut menopang IHSG. Dari sektor teknologi, saham Mora Telematika (MORA) dan DCI Indonesia (DCII) juga masuk jajaran top movers dengan bobot signifikan.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (7/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berhasil mengakhiri perdagangan hari ini di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,29% ke level Rp17.330/US$.

Penguatan rupiah sepanjang perdagangan terjadi di tengah melemahnya dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap greenback muncul seiring membaiknya sentimen risiko global setelah pasar merespons positif peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

Harapan terhadap meredanya konflik membuat investor kembali lebih berani masuk ke aset berisiko. Kondisi ini mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga indeks dolar ikut melemah.

Pelaku pasar menyambut prospek kesepakatan damai di Timur Tengah, meski nasib Selat Hormuz masih belum sepenuhnya jelas. Iran disebut tengah meninjau proposal damai yang berpotensi mengakhiri perang, walau sejumlah tuntutan utama AS masih belum terselesaikan.

Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari pernyataan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung terkait kemungkinan aktivasi bond stabilization fund atau BSF.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 6,701%.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research