Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
07 May 2026 10:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset kripto pada perdagangan Kamis (07/05/2026) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif merespons rangkaian peristiwa geopolitik yang berkembang pesat di Timur Tengah.
Di satu sisi, indikasi kuat akan tercapainya nota kesepahaman (MoU) damai antara Amerika Serikat dan Iran memberikan dorongan optimisme. Namun di sisi lain, insiden militer di Selat Hormuz mengingatkan pasar akan tingginya risiko volatilitas sebelum kesepakatan final benar-benar ditandatangani.
Di tengah situasi tarik-ulur ini, Bitcoin (BTC) terpantau bertahan di atas level psikologis $81.000. Pelaku pasar kini berada dalam fase antisipatif, menantikan konfirmasi akhir dari resolusi konflik dalam 48 jam ke depan yang akan menjadi penentu arah likuiditas makroekonomi selanjutnya.
Bitcoin Stabil, Ethereum Lanjutkan Penguatan
Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level $81.351,40. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini mencatatkan penguatan harian sebesar +1,91%, meskipun secara mingguan mencatatkan pergerakan yang relatif mendatar dengan koreksi tipis -0,19%.
Kestabilan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar menahan diri dari aksi jual maupun beli agresif sembari menunggu kejelasan status geopolitik.
Dinamika yang lebih positif ditunjukkan oleh Ethereum (ETH). Aset ini memimpin pemulihan di jajaran aset utama dengan lonjakan harian sebesar +9,56% ke level $2.586,29, serta membukukan apresiasi mingguan sebesar +6,25%.
Penguatan ETH mengindikasikan adanya rotasi selektif ke dalam ekosistem smart contract yang dinilai memiliki eksposur lebih rendah terhadap volatilitas jangka pendek dibandingkan Bitcoin.
Dinamika Altcoin: Dogecoin dan HYPE Pimpin Sektoral
Pada sektor altcoin, pergerakan mayoritas aset berkapitalisasi besar menunjukkan pemulihan harian yang terukur. Binance Coin (BNB) naik +2,05% ke level $636,57, Solana (SOL) menguat +2,13% ke posisi $86,82, dan XRP mencatatkan kenaikan +1,43% ke level $1,42.
Pergerakan paling signifikan kembali dicatatkan oleh Dogecoin (DOGE) yang melonjak +4,20% secara harian dan mencatatkan apresiasi mingguan tertinggi di angka +21,43%, membawanya ke level $0,1165.
Kinerja positif juga dipertahankan oleh Hyperliquid (HYPE) yang tumbuh +7,86% dalam sepekan ke level $41,85. Secara umum, pasar altcoin merespons positif memudarnya ancaman eskalasi konflik secara luas.
Tarik Ulur Negosiasi dan Insiden Selat Hormuz
Dinamika fundamental yang menggerakkan pasar saat ini berada pada fase yang krusial. Negosiasi diplomasi antara AS dan Iran dilaporkan berada pada titik terdekat menuju kesepakatan.
Pembahasan intensif mengenai MoU 14 poin tengah berlangsung, yang mencakup moratorium pengayaan uranium oleh Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi dan pencairan dana miliaran dolar oleh AS. Presiden Donald Trump juga telah menginstruksikan penghentian sementara "Proyek Kebebasan" di Selat Hormuz sebagai iktikad baik negosiasi.
Namun, situasi di lapangan masih dipenuhi ketidakpastian. Meskipun diplomasi berjalan, militer AS melaporkan penembakan terhadap kapal tanker berbendera Iran, M/T Hasna, yang diklaim mencoba menerobos blokade.
Foto: REUTERS/Nathan Howard
Insiden ini, beserta retorika ancaman dari Trump untuk melanjutkan pemboman jika negosiasi gagal, memberikan sinyal bahwa stabilitas kawasan masih sangat rentan dan dapat memburuk sewaktu-waktu.
Apabila resolusi damai ini gagal diimplementasikan dan blokade Selat Hormuz berlanjut, pasar global akan dihadapkan pada skenario lonjakan harga minyak yang tidak dapat dihindari.
Kondisi ini akan memicu inflasi struktural di Amerika Serikat dan memaksa The Fed, di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, untuk merespons dengan kebijakan moneter yang ketat. Potensi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi energi ini akan menyedot likuiditas pasar dan menekan valuasi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Mengingat kejadian serupa juga pernah terjadi dalam sejarah pada tahun 1970-an ketika embargo minyak dilakukan sehingga memicu krisis minyak yang menyebabkan stagflasi hingga FFR terpaksa dipaksa naik hingga double digit.
Outlook Pasar Secara Agresif
Menghadapi konvergensi antara optimisme negosiasi dan risiko makroekonomi ini, pandangan fundamental untuk proyeksi jangka menengah dan panjang tetap dipertahankan. Rentang harga $80.000 hingga $85.000 saat ini berpotensi menjadi area resistensi teknikal yang kuat.
Bagi investor dengan toleransi risiko yang memadai, level ini dapat dipertimbangkan sebagai area untuk membuka posisi short, mengantisipasi potensi volatilitas jika kesepakatan damai kembali menemui jalan buntu atau jika dampak inflasi mulai direalisasikan oleh kebijakan bank sentral.
Adapun untuk jangka panjang, target utama tetap dipertahankan secara konservatif pada rentang harga $40.000 hingga $50.000. Area ini diproyeksikan sebagai cycle bottom yang optimal, yang diperkirakan akan terbentuk pada Kuartal III atau Kuartal IV tahun 2026. Strategi disiplin dengan menjaga manajemen risiko dan porsi likuiditas tunai (wait and see) tetap menjadi opsi yang paling relevan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google















































