Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
08 May 2026 16:50
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga kentang dunia meledak pada awal Mei 2026. Trading Economics mencatat harga kentang berada di level €18,50 per 100 kilogram atau Rp 379.990 atau Rp 3799 per kg (€1= Rp 20.540) pada 6 Mei 2026.
Dalam sebulan, lonjakannya mencapai 704,35%. Secara tahunan, harga masih naik 23,33%.
Kenaikan ini muncul ketika pasokan dari sejumlah wilayah produksi mulai menyusut. Di Brasil, panen musim hujan selesai lebih cepat dan membuat pasokan ke pasar grosir turun tajam.
FreshPlaza melaporkan harga kentang ágata premium di pasar São Paulo melonjak hampir 40% pada pekan terakhir April. Pola serupa terjadi di Rio de Janeiro dan Belo Horizonte. Pasar sedang memasuki jeda sebelum musim kering dimulai, sementara stok lama makin tipis.
Gangguan cuaca ikut mempersempit ruang produksi. Di negara bagian Paraná, Brasil selatan, curah hujan rendah membuat perkembangan umbi terganggu. Distribusi air yang tidak merata memukul area tanam di Curitiba, Irati, hingga Ponta Grossa. Kondisi kering memicu perpindahan hama dari lahan pertanian lain ke kebun kentang. Petani mulai mengubah pola pengelolaan untuk menahan risiko gagal panen dan serangan penyakit.
Foto: Trading Economics
Tekanan berikutnya datang dari biaya produksi. Konflik Timur Tengah membuat jalur Selat Hormuz terganggu selama berminggu-minggu. Jalur ini selama ini menjadi lintasan utama pupuk, gas alam, dan minyak mentah dunia. BBC melaporkan petani kentang Inggris mulai menghadapi kenaikan harga pupuk dan bahan bakar dalam waktu bersamaan. Harga pasokan kentang baru disebut naik 30%-40%.
Petani Warwickshire, Charles Goadby, mengaku harga pupuk yang sebelumnya 325 poundsterling per ton melonjak menjadi 480 poundsterling dan terus naik hingga sekitar 540 poundsterling. Banyak petani mulai menghitung ulang biaya produksi musim tanam berikutnya. Sebagian mempertimbangkan mengurangi penggunaan pupuk demi menjaga arus kas.
Kondisi itu membuka risiko baru pada produksi pangan global. Ketika pupuk dikurangi, hasil panen berpotensi turun. Kualitas umbi ikut terdampak. Tekanan ini paling terasa bagi petani kecil yang tidak punya bantalan modal besar untuk membeli input mahal.
Gelombang kenaikan harga juga muncul di Amerika Latin. Di Chile, harga satu karung kentang melonjak dari sekitar 5.000-6.000 peso Chile pada Januari menjadi 13.000-14.000 peso Chile pada April 2026. Kenaikannya menembus 130%.
Ekonom University of Bío-Bío, Andrés Acuña, menyebut hampir 60% biaya produksi kentang berasal dari pupuk. Ketika harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik, ongkos pupuk langsung ikut terdorong.
Petani di Chile menghadapi situasi yang sama dengan Eropa. Harga urea dan kalium naik lebih dari 21% sepanjang tahun ini. Pemerintah setempat mulai mengkhawatirkan penurunan hasil panen karena petani menekan penggunaan pupuk untuk menghemat biaya. Risiko itu membuka kemungkinan harga pangan bertahan tinggi lebih lama.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google














































