Bakal Ganti LPG Subsidi dengan CNG, RI Ikut Tren Dunia atau Nekat?

4 hours ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

08 May 2026 13:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia mulai melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi rumah tangga pengganti LPG subsidi 3 kg. Langkah ini muncul di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

Rencana tersebut juga sejalan dengan tren global. Sejumlah negara seperti Brazil, India, Pakistan, dan lainnya telah lebih dulu memanfaatkan CNG secara luas, baik untuk kendaraan maupun kebutuhan energi lainnya.

Di beberapa negara, penggunaan CNG berkembang pesat karena dianggap lebih murah, efisien, dan memanfaatkan sumber gas domestik yang tersedia melimpah.

RI Siapkan Tabung CNG 3 Kg Pengganti LPG Subsidi

Pemerintah tengah mengkaji pengembangan tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kg sebagai alternatif pengganti LPG subsidi. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang selama ini membebani devisa negara.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih melakukan uji coba dan pengembangan teknologi tabung CNG 3 kg. Sebelumnya, CNG sudah digunakan pada tabung ukuran 12 kg dan 20 kg untuk hotel serta restoran dan dinilai cukup efisien.

Berdasarkan kajian pemerintah, harga CNG disebut bisa sekitar 30% lebih murah dibanding LPG karena bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri dan biaya distribusinya lebih rendah. Namun, pemerintah masih menggodok konsep distribusi dan penggunaan CNG 3 kg untuk masyarakat luas.

Eropa Sudah Lebih Maju Pakai CNG

Penggunaan CNG di Eropa sudah berkembang jauh lebih maju dibanding banyak negara lain yang baru mulai mengembangkan teknologi ini.

Pengembangan CNG di Eropa juga didorong kebijakan pengurangan emisi karbon dari European Commission.

Kendaraan CNG dinilai mampu memenuhi standar emisi ketat sekaligus menawarkan biaya operasional lebih murah, bahkan bisa hemat hingga 40% dibanding kendaraan diesel. Selain lebih ramah lingkungan, CNG juga dianggap aman dan cocok digunakan untuk transportasi publik di kota-kota besar.

India Prioritaskan CNG Saat Krisis Energi

India menjadikan CNG sebagai salah satu prioritas utama energi nasional di tengah gangguan pasokan LNG global akibat konflik di Timur Tengah.

India mengonsumsi sekitar 191 juta standar meter kubik gas per hari, dengan hampir separuh kebutuhan berasal dari impor. Saat banyak pasokan gas dari Timur Tengah terdampak, pemerintah langsung mengalihkan distribusi gas dari sektor non-prioritas ke kebutuhan rumah tangga dan transportasi.

Pemerintah juga meminta kilang minyak meningkatkan produksi LPG domestik hingga sekitar 10% dengan mengalihkan sebagian bahan baku dari sektor petrokimia.

Di sisi lain, India juga mulai mempercepat transisi rumah tangga dari LPG menuju PNG yang dinilai lebih stabil untuk kebutuhan memasak jangka panjang.

Pakistan Sempat Jadi Negara dengan Penggunaan CNG Besar

Pakistan selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara dengan penggunaan CNG terbesar di dunia. CNG banyak digunakan untuk kendaraan pribadi, transportasi umum, hingga sektor industri karena dinilai lebih murah dibanding bahan bakar minyak.

Namun belakangan, Pakistan justru menghadapi krisis gas yang cukup parah. Menurunnya pasokan gas domestik, gangguan LNG, serta rendahnya tekanan distribusi membuat pemerintah menghentikan pasokan gas ke sejumlah stasiun CNG dan sektor industri di berbagai wilayah.

Pelaku industri menilai krisis terjadi akibat lemahnya manajemen energi dan ketergantungan tinggi terhadap impor LNG. Asosiasi CNG Pakistan bahkan meminta pemerintah mengizinkan sektor CNG mengimpor gas sendiri.

Menurut mereka, langkah itu berpotensi menghasilkan pemasukan hingga Rs 82 miliar bagi pemerintah sekaligus menyelamatkan investasi sekitar Rs 450 miliar yang sudah telanjur masuk ke sektor CNG Pakistan.

Bangladesh Pakai CNG untuk Tekan Polusi dan Impor BBM

Bangladesh menjadikan CNG sebagai salah satu bahan bakar kendaraan utama sejak akhir 1990-an. Pemerintah mendorong penggunaan CNG untuk mengurangi polusi udara, menekan impor bahan bakar minyak, sekaligus memanfaatkan cadangan gas domestik yang besar.

Penggunaan CNG di Bangladesh berkembang pesat dan disebut ikut memperbaiki kualitas udara di kota besar seperti Dhaka. Pemerintah juga membuka peluang besar bagi sektor swasta untuk membangun stasiun pengisian, bengkel konversi kendaraan, hingga infrastruktur pendukung lainnya.

Pengembangan CNG di Bangladesh awalnya dilakukan melalui proyek Petrobangla dengan dukungan pendanaan dari World Bank. Sejak 2003-2004, pertumbuhan kendaraan dan stasiun CNG meningkat tajam berkat dukungan kebijakan pemerintah.

Selain membantu memperbaiki neraca pembayaran negara lewat pengurangan impor BBM, penggunaan CNG juga dinilai efektif mengurangi pencemaran lingkungan di perkotaan.

Argentina Jadi Salah Satu Pionir Kendaraan CNG

Di Argentina, CNG digunakan secara masif sebagai bahan bakar transportasi sejak 1984 melalui program pengurangan konsumsi bahan bakar cair.

Pemerintah Argentina secara aktif mendorong penggunaan CNG lewat berbagai insentif:

  1. memasukkan pengembangan gas alam sebagai kepentingan nasional,

  2. menunjuk perusahaan negara untuk menjalankan program,

  3. membatasi harga CNG maksimal sekitar 45% dari harga bensin,

  4. memberikan pinjaman khusus bagi pemilik kendaraan yang melakukan konversi,

  5. menyederhanakan aturan pembangunan stasiun pengisian CNG.

Langkah tersebut membuat penggunaan CNG berkembang pesat, terutama pada sektor transportasi publik dan kendaraan pribadi.

Selain menjadi pasar besar kendaraan CNG, Argentina juga dikenal sebagai pemain penting teknologi gas alam dunia. Perusahaan lokal seperti Aspro dan Galileo Technologies menjadi bagian dari pengembangan teknologi kompresor dan distribusi CNG global.

Hingga kini, biaya operasional yang lebih murah serta regulasi lingkungan menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar CNG di negara tersebut.

Perkembangan Pasar dan Konversi CNG di Brasil

Brazil diproyeksikan menjadi salah satu pasar kendaraan CNG dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pertumbuhan ini didorong kebijakan pemerintah, perluasan infrastruktur pengisian gas, serta meningkatnya kebutuhan transisi energi dan pengurangan emisi kendaraan.

Brasil juga mengalami lonjakan konversi kendaraan ke CNG dan LPG, dengan sejumlah pemerintah daerah mulai memberikan subsidi bagi masyarakat yang melakukan konversi kendaraan.

Salah satu program yang cukup agresif datang dari Negara Bagian Amazonas melalui kampanye "Calculate the Costs, Use CNG!" yang memberikan subsidi sekitar R$4.000 untuk konversi kendaraan ke CNG. Selain itu, perusahaan utilitas gas Comgás juga bekerja sama dengan Tupy untuk mempercepat konversi kendaraan diesel menjadi CNG.

Setelah dikonversi, emisi karbon dioksida kendaraan disebut turun sekitar 25%, emisi partikulat hampir hilang, dan biaya operasional per kilometer dapat lebih murah sekitar 30% dibanding kendaraan diesel.

Pemerintah Brasil menyatakan akan terus memperluas infrastruktur pengisian gas dan mendorong dekarbonisasi sektor transportasi nasional.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research