REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Kepulan debu memutih menyelimuti kawasan permukiman Kampung Pamucatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Genting rumah, lantai, hingga dedaunan berubah putih hingga menyerupai salju.
Debu-debu itu menyelimuti bukan karena jarang dibersihkan. Melainkan butiran debu dari aktivitas industri pengolahan batu kapur yang ada di kawasan itu. Saat aktivitas pabrik berlangsung, kepulan debu tampak keluar dari area industri dan terbawa angin menuju rumah-rumah yang berada tak jauh dari lokasi.
Ela (43 tahun), salah seorang warga menuturkan, hampir setiap hari debu putih menutupi atap rumah, jemuran pakaian, hingga bagian dalam rumah. Kondisi semakin parah karena saat ini sudah memasuki kemarau panjang sehingga debu lebih mudah terbawa angin hingga menempel di rumah.
"Dampak debu sangat terasa. Bisa dilihat sendiri semua genting memutih setiap hari. Buat ibu-ibu seperti saya, jemuran kena debu, rumah juga cepat kotor. Saya capek harus mengepel lantai terus-terusan," tutur Ela saat dikonfirmasi, Sabtu (18/7/2026).
Ia menilai hingga kini belum terlihat upaya serius dari perusahaan untuk menekan pencemaran yang dirasakan masyarakat sekitar. Padahal kondisi seperti ini sudah berlangsung lama.
"Selama ini kami belum melihat keseriusan perusahaan dalam mengurangi dampak polusi," ucap Ela.
Ela juga mengaku mulai khawatir terhadap kondisi kesehatan keluarganya. Anaknya belakangan sering mengalami alergi kulit disertai sesak napas. Dalam hatinya, ia ingin pindah dari wilayah itu namun kondisi perekonomiannya tidak memungkinkkan.
"Anak saya mulai mengalami gatal-gatal dan sesak. Memang kami tidak tahu apakah itu akibat polusi atau bukan, tapi kami berharap perusahaan dan pemerintah lebih memperhatikan warga yang terdampak," ujarnya.
Warga lainnya, Ramadan (35), mengaku kondisi itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, debu kembali memenuhi rumah hanya beberapa saat setelah dibersihkan.
"Kalau debu sudah pasti. Saya sehari bisa mengepel lantai sampai lima kali. Baru selesai dibersihkan, debu datang lagi," ujar dia.
Dirinya mengaku keluarganya mulai merasakan gangguan kesehatan. Anaknya disebut kerap mengalami batuk yang sulit sembuh. "Yang paling terasa itu batuk-batuk selalu ada. Anak saya kena, sembuhnya susah, berobat kambuh lagi, kambuh lagi. Kami memang tidak tahu apakah itu akibat polusi udara atau bukan, tapi itu yang dirasakan warga," katanya.
Tak hanya debu, Ramadan mengatakan aktivitas industri juga menimbulkan kebisingan dan getaran yang berlangsung hampir sepanjang malam. Rumahnya berada tidak jauh dari beberapa pabrik pengolahan batu kapur, salah satunya PT Kurnia.
"Selain debu, kami juga terdampak suara bising dan getaran. Operasinya sampai malam, biasanya baru berhenti sekitar jam 2 dini hari, itu pun hanya sekitar lima menit, setelah itu jalan lagi," ujar dia.

5 hours ago
1

















































