BPBD melakukan distribusi air bersih bagi warga (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan, kenaikan harga BBM telah mengakibatkan ketersediaan bantuan air bersih untuk mengatasi kekeringan di Jateng selama musim kemarau menurun drastis. Dari 123 juta liter yang direncanakan, kini BPBD se-Jateng hanya sanggup menyediakan sekitar 44-46 juta liter air bersih atau menurun 70-an juta liter.
Bergas menjelaskan, sebelum adanya konflik di Timur Tengah (Timteng) dan penutupan Selat Hormuz, pihaknya merencanakan penyiapan bantuan air bersih sebanyak 123 juta liter untuk musim kemarau tahun ini. Angka tersebut diperoleh dengan telah menyematkan biaya operasional dan sumber daya manusia (SDM).
Namun perhitungan tersebut berubah setelah harga BBM, termasuk solar nonsubsidi, mengalami kenaikan imbas konflik di Timteng. "Jadi yang tadinya 123 sampai 127 juta liter, dengan adanya kenaikan harga BBM, akhirnya kita kemarin ketemu di angka sekitar 44-46 juta liter. Itu total bantuan air yang tersedia saat ini, yang kita siapkan," ungkap Bergas ketika diwawancara, Sabtu (18/7/2026).
Dia menambahkan, kenaikan harga BBM memang memaksa BPBD melakukan penyesuaian. "Kita harus merevisi dan menyesuaikan biaya operasional ke depan," ujarnya.
Bergas mengatakan, sejak 5 Juni 2026 hingga saat ini, BPBD telah menyalurkan sekitar 3 juta liter air bersih ke daerah terdampak kekeringan di 15 kabupaten/kota. Klaten menjadi penerima bantuan terbesar yakni sebanyak 1,3 juta liter.
Dengan demikian, sisa bantuan air bersih yang masih dapat disalurkan BPBD di Jateng yakni 40-an juta liter. Bergas optimistis, jumlah tersebut masih dapat memenuhi permintaan bantuan air bersih hingga akhir tahun.

6 hours ago
1

















































