Minyak Melonjak 11%, Harga Nyata di Lapangan Tembus US$141/Barel

12 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia meledak lagi setelah sempat melandai.

Merujuk Refinitiv, harga minyak mentah brent pada perdagangan Kamis (2/4/204) ditutup di posisi US$ 109,28 per barel atau terbang 8,03%. Lonjakan ini berbanding terbalik dengan Rabu di mana harga minyak brent ambruk 14,5%.

Pada perdagangan berjangka intraday kemarin, harga minyak brent sempat menyentuh US$109,74 per barel. Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak Juni 2022 atau hampir empat tahun.

Menurut S&P Global, di pasar spot harga minyak brent bahkan sempat menyentuh US$141,36 per barel.

Harga spot mencerminkan permintaan minyak brent yang akan dikirim dalam 10 hingga 30 hari ke depan. Tingginya harga untuk pengiriman jangka dekat ini menunjukkan ketatnya pasokan fisik saat ini akibat gangguan besar yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Harga spot tersebut US$32,33 lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangkanya.

Sementara itu, harga minyak WTI ditutup di posisi US$ 111,54 per barel atau terbang 11,41% pada Kamis kemarin. Harganya sempat menyentuh US$ 114 pada perdagangan intraday.

Lonjakan kemarin memutus tren negatif di mana harga minyak WTI turun 2,8% dalam dua hari sebelumnya.

Amrita Sen, pendiri Energy Aspects mengatakan harga futures ini seolah memberikan rasa aman yang keliru bahwa situasi tidak terlalu tegang.

"Pasar finansial hampir menutupi kenyataan ketatnya pasokan yang sebenarnya terlihat di lapangan," ujar Sen, kepada CNBC International. Ia menambahkan, harga diesel di Eropa saat ini hampir US$200 per barel.

CEO Chevron, Mike Wirth, pekan lalu memperingatkan bahwa harga futures atau berjangka tidak mencerminkan skala gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. Ia mengatakan pasar bergerak berdasarkan informasi yang minim dan persepsi.

"Ada dampak fisik nyata dari penutupan Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia dan sistem energi, yang menurut saya belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga futures minyak," ujar Wirth dalam konferensi energi CERAWeek di Houston.

Harga minyak melonjak pada Kamis karena investor khawatir perang berkepanjangan di Timur Tengah akan menghambat lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz selama berminggu-minggu.

Pernyataan Presiden Amerika serikat (AS) Donald Trump dalam pidato nasional pada Rabu malam memperingatkan potensi agresi militer lebih lanjut terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Hal ini meredam harapan de-eskalasi dan mendorong harga minyak naik.

Namun, harga sempat turun setelah laporan dari kantor berita Iran (IRNA) menyebut Iran bekerja sama dengan Oman untuk menyusun protokol "pemantauan transit" di jalur laut tersebut.

Trump menyalahkan kenaikan harga minyak pada "rezim Iran yang melancarkan serangan teror terhadap kapal tanker minyak komersial dan negara tetangga.

Ia menyatakan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan, namun juga mengatakan perang tidak akan berlangsung lama dan dialog masih berlangsung.

Sementara itu, laporan IRNA menyebut lalu lintas tanker bisa kembali jika diawasi dan dikoordinasikan oleh Iran dan Oman.

Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima aliran minyak dan gas dunia, kini praktis terhenti sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, memicu salah satu krisis energi paling serius di dunia.

Analis risiko politik Oxford Analytica, Giles Alston, mengatakan bahwa kini negara-negara pengguna jalur tersebut harus mengatur sendiri pengiriman minyak mereka, karena AS tampak tidak lagi mengambil peran utama.

Manajer portofolio Fidelity International, George Efstathopoulos, mengatakan pasar sebelumnya mengantisipasi dua kemungkinan: de-eskalasi atau eskalasi perang.

Trump sebelumnya juga mengatakan Iran meminta gencatan senjata, yang sempat menurunkan harga minyak. Namun, ia menegaskan permintaan itu hanya akan dipertimbangkan jika Selat Hormuz dibuka.

Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan jalur tersebut tetap berada di bawah kendali penuh militer Iran.

Kedua pihak terus saling bertentangan mengenai status negosiasi damai. Trump juga memberikan sinyal yang berubah-ubah, di satu sisi menyebut kesepakatan damai hampir tercapai, namun di sisi lain siap mengirim ribuan pasukan tambahan.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research