Militerisasi AI

2 hours ago 1

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dulu, manusia menciptakan senjata karena takut pada manusia lain. Lalu manusia menciptakan bom nuklir karena takut manusia lain menciptakan bom nuklir lebih dulu.

Sekarang manusia menciptakan kecerdasan buatan, disebut AI, dan tiba-tiba muncul pertanyaan baru yang sedikit membuat kepala berdenyut: bagaimana jika mesin yang kita buat untuk membantu menulis email, tiba-tiba ikut menentukan ke mana rudal harus diarahkan?

Kalau dulu AI dipakai untuk membuat daftar belanja atau menulis dongeng sebelum tidur bagi anak yang rewel, kini ia mulai ikut duduk di meja perang. Dari ruang server yang dingin hingga layar komando militer, algoritma kini ikut mengunyah data intelijen, menjalankan simulasi, bahkan membantu menentukan target.

Dalam beberapa bulan terakhir, kabarnya model AI seperti Claude — yang awalnya dibuat oleh perusahaan Anthropic sebagai asisten digital yang sopan dan cerdas — telah digunakan dalam operasi militer Amerika Serikat.

Salah satu laporan menyebutkan, AI itu dipakai untuk menganalisis intelijen dalam serangan terhadap Iran, termasuk membantu mengidentifikasi target dan menjalankan simulasi operasi.

Namun di balik laporan-laporan itu, ada gambaran teknis yang lebih konkret tentang bagaimana AI benar-benar bekerja di medan perang modern.

Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command atau CENTCOM) diketahui secara aktif menggunakan algoritma machine learning untuk membantu menentukan lokasi target yang dianggap bermusuhan di kawasan Timur Tengah.

Kepala Teknologi CENTCOM, Schuyler Moore, pernah mengonfirmasi bahwa sistem AI memainkan peran penting dalam mengidentifikasi lokasi ancaman di wilayah tersebut.

Teknologi yang dipakai bukan sekadar “AI umum” yang suka bercakap-cakap seperti chatbot. Sistem ini menggunakan teknik computer vision yang mampu menganalisis citra satelit dan rekaman drone pengintai secara real time.

Dengan kecepatan yang mustahil dicapai manusia, algoritma ini dapat mendeteksi perubahan kecil di permukaan tanah. Misalnya, peluncur misil yang disembunyikan, kendaraan militer yang baru dipindahkan, hingga fasilitas militer yang baru dibangun.

Bayangkan seorang analis intelijen manusia harus menatap ribuan foto satelit setiap hari. Mesin melakukan itu dalam hitungan detik, tanpa kopi, tanpa keluhan, tanpa perlu libur akhir pekan.

Di sinilah muncul istilah yang agak dingin dalam dunia militer: “kill chain”. Dalam bahasa sederhana, kill chain adalah rangkaian proses dari mendeteksi target hingga menyerangnya.

AI kini dipakai untuk memperpendek rantai itu. Dengan mengotomatisasi pengolahan data intelijen yang sangat besar, waktu yang dibutuhkan untuk menemukan dan melacak target bisa dipangkas drastis.

Artinya, keputusan militer bisa diambil lebih cepat, bahkan sebelum pihak lawan sempat memindahkan posisi.

Dalam beberapa operasi militer Amerika, sistem ini bahkan digunakan dalam operasi yang dikenal dengan nama Operation Epic Fury.

Meski demikian, secara resmi AI tidak diizinkan untuk secara otonom menembakkan senjata atau menyerang target. Setiap rekomendasi target yang dihasilkan oleh sistem AI tetap harus diverifikasi oleh operator manusia sebelum tindakan militer dilakukan.

Secara teoritis, ini disebut prinsip “human in the loop”: manusia tetap berada dalam rantai keputusan. Namun seperti biasa dalam sejarah teknologi militer, teori dan praktik sering berjalan dengan kecepatan yang berbeda.

Karena semakin cepat sistem analisis bekerja, semakin besar pula tekanan bagi manusia untuk mengikuti ritme mesin. Ketika algoritma bisa memproses ribuan sinyal intelijen dalam detik, keputusan manusia pun cenderung berubah dari “mempertimbangkan” menjadi “mengonfirmasi”.

Di situlah batas antara keputusan manusia dan keputusan mesin mulai kabur.

Jika semua ini terdengar seperti plot film Hollywood, itu karena kenyataannya memang hampir terlalu dramatis untuk dipercaya. Namun sejarah sering bergerak seperti komedi hitam: kita tertawa dulu, baru kemudian sadar bahwa yang kita tertawakan sebenarnya tragedi.

Masalahnya bukan sekadar AI dipakai dalam perang. Masalahnya adalah kecepatan perubahan itu. Selama bertahun-tahun, perdebatan tentang AI militer hanya berlangsung di ruang seminar akademik.

Para profesor berdiskusi tentang “etika algoritma”, sementara para mahasiswa mencatat sambil mengangguk. Sekarang diskusi itu tiba-tiba keluar dari ruang konferensi dan masuk ke ruang perang.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research