REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekilas, kaleng matcha tersebut tampak asli, menampilkan nama merek terkenal Isuzu lengkap dengan spesifikasi produk lainnya. Bubuk teh hijau asal Jepang ini begitu populer hingga produsen ternama Marukyu Koyamaen membatasi jumlah pembelian per pelanggan untuk mencegah penimbunan.
Namun, Matsatsugu Nonomura, yang menangani penjualan internasional perusahaan tersebut, mengetahui bahwa kaleng Isuzu matcha yang sedang ia pegang adalah tiruan.
Bukan hanya karena kalengnya berwarna hitam, bukan putih seperti aslinya, tetapi juga karena aroma, warna, dan rasa tehnya terasa tidak sesuai. “Matcha kami, Isuzu, memiliki warna yang sangat indah dan aroma yang benar-benar luar biasa,” jelasnya, dilansir dari ABC News, Senin (5/1/2026). “Matcha palsu asal Cina memiliki warna dan aroma yang buruk.”
Popularitas matcha latte dalam beberapa tahun terakhir meningkat pesat, salah satunya karena tampilannya yang estetik dan menarik di media sosial. Dalam dua tahun terakhir, popularitas matcha melonjak tajam dan para petani Jepang kesulitan memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Menambah pasokan dengan cepat bukanlah hal mudah. Tanaman teh hijau membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk tumbuh, sementara proses pembuatan matcha tergolong rumit. Petani harus meneduhkan tanaman sekitar tiga minggu sebelum panen guna meningkatkan kadar klorofil dan asam amino.
Setelah dipanen, daun teh dikukus selama 10 detik, dikeringkan dengan udara, lalu digiling menggunakan batu tradisional yang hanya mampu menghasilkan sekitar 40 gram bubuk per jam.
Pelabelan matcha nyaris tidak diatur secara ketat. Sejumlah produsen Jepang khawatir produsen tidak bertanggung jawab di Cina memanfaatkan tingginya permintaan dengan menjual produk teh berkualitas rendah yang dilabeli secara keliru sebagai matcha Jepang.
Meski siapa pun bisa membuat matcha, para produsen ini mengklaim bahwa beberapa label dan kemasan yang beredar di luar negeri meniru nama merek Jepang terkenal. Atau secara keliru mengklaim berasal dari daerah penghasil teh di Jepang.
“Para produsen bekerja tanpa lelah untuk menyediakan produk premium bagi konsumen,” kata Nonomura. “Namun, upaya ini kini dirusak oleh masalah pemalsuan.”

1 day ago
3














































