AUM -- Amal yang Melahirkan Usaha, Usaha yang Menjaga Amanah

1 hour ago 1

Oleh: Abdul Hamid Cebba, Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah riuh pembicaraan tentang profesionalisme, modernisasi layanan publik, dan tata kelola institusi, kita sering lupa pada sebuah kebenaran sederhana, kualitas sebuah lembaga pada akhirnya ditentukan kualitas manusia yang menghidupkannya.

Muhammadiyah, sejak awal berdiri, memahami hal ini dengan sangat jernih. Karena itu, istilah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukan sekadar singkatan administratif untuk menamai sekolah, rumah sakit, kampus, panti, atau unit-unit pelayanan lainnya.

Ia rumusan filosofi yang presisi, amal mendahului usaha—dan justru di situlah daya hidup gerakan dijaga. Banyak orang mengira “amal” dan “usaha” dua hal yang berdiri sejajar. Amal adalah kebajikan personal, usaha adalah kerja institusional.

Padahal, pada susunan kata AUM, Muhammadiyah seperti sedang mengajari kita cara membaca peradaban, usaha hanya akan sehat bila ia lahir dari amal; dan amal hanya akan bermakna besar bila ia menemukan bentuk sosialnya dalam usaha yang tertata.

Amal dalam pengertian ini bukan sekadar “kebaikan hati” atau tindakan sporadis, melainkan fondasi tauhid, keikhlasan, integritas, dan disiplin ruhani yang mengendalikan arah, motivasi, dan cara kerja institusi.

Kita bisa menyebut ini sebagai “urutan energi” dalam perubahan sosial. Dalam Alquran, terdapat isyarat yang sering luput dibaca sebagai metodologi gerakan. Surah Al-Muzzammil datang lebih dahulu daripada Al-Muddatstsir.

Yang pertama menekankan penguatan diri—qiyamullail, pembacaan wahyu, keteguhan jiwa—sebelum yang kedua memerintahkan bangkit dan memberi peringatan.

Ini bukan sekadar urutan turunnya surah, melainkan pesan tentang urutan pembentukan, spiritualitas mendahului aktivisme, kedalaman mendahului keluasan, pembinaan mendahului ekspansi. Muhammadiyah, lewat AUM, merumuskan pesan itu menjadi bahasa kelembagaan, amal dulu baru usaha.

Di sinilah kita menemukan pencerahan yang jarang dipikirkan. AUM sesungguhnya kritik halus terhadap mentalitas zaman yang sering mendewakan “hasil” sambil menyepelekan “asal-usul”.

Banyak lembaga berlomba memperbesar aset, meningkatkan jumlah peserta didik, memperluas layanan, menaikkan peringkat, menambah gedung, mempercantik citra. Semua itu penting, tetapi ada pertanyaan lebih mendasar, dari ruh apa semua itu tumbuh?

Jika sebuah institusi dibangun hanya oleh logika target, ia akan menjadi mesin; jika ia dibangun oleh amal—yakni iman, akhlak, dan niat—ia akan menjadi jalan pengabdian.

Perbedaan keduanya tidak tampak pada brosur tetapi terasa pada budaya kerja, kejujuran pengelolaan, mutu layanan, dan kehangatan kemanusiaan. Karena itu, profesionalisme dalam AUM bukanlah profesionalisme yang steril dari nilai.

Muhammadiyah tidak pernah menolak standar mutu, tata kelola modern, akreditasi, audit, dan indikator kinerja. Namun ia menolak satu hal, profesionalisme yang kehilangan jiwa.

Profesionalisme yang diidamkan AUM adalah profesionalisme yang bersumber dari amal, bekerja dengan kompeten sekaligus berakhlak; melayani dengan cepat sekaligus tulus; mengelola anggaran dengan cermat sekaligus amanah; membuat kebijakan tegas sekaligus adil.

Dalam bahasa sederhana, AUM menuntut kecakapan yang dipandu keikhlasan—dan ini bukan romantisme, melainkan fondasi keberlanjutan.

Kita dapat melihat dampak filosofis ini pada pertanyaan yang sering muncul di banyak organisasi sosial-keagamaan, mengapa sebagian lembaga berkembang pesat, sementara sebagian lain stagnan atau bahkan melemah? Jawaban umum biasanya mengarah pada manajemen, modal, atau SDM. Benar, tetapi AUM mengajak kita turun satu lapis lebih dalam.

Masalahnya sering bukan sekadar “kurang strategi”, melainkan “kurang amal” dalam arti substantif—lemahnya integritas, kaburnya niat, longgarnya disiplin ibadah, rapuhnya etos kerja, serta memudarnya orientasi dakwah.

Ketika amal melemah, strategi menjadi oportunisme; ketika niat kabur, kinerja menjadi transaksi; ketika integritas runtuh, institusi kehilangan kepercayaan—dan kepercayaan adalah modal paling mahal yang tak bisa dibeli gedung baru.

Di titik ini, pembacaan filosofis terhadap AUM menjadi sangat relevan bagi publik luas, bukan hanya warga Persyarikatan. Kita hidup pada era ketika banyak institusi—agama maupun nonagama—dihantui krisis kepercayaan.

Orang mudah curiga pada motif, mudah kecewa pada layanan, mudah lelah pada janji. AUM menawarkan resep sederhana sekaligus menuntut, perbaiki amal sebagai sumber daya batin, maka usaha memiliki arah yang benar.

Amal yang dimaksud mencakup kualitas karakter personal (jujur, disiplin, amanah) sekaligus kualitas budaya organisasi (transparansi, akuntabilitas, meritokrasi, pelayanan). Ia bukan sekadar “kesalehan simbolik”, tetapi kesalehan yang terukur dalam kerja.

Namun harus diakui, tantangan terbesar AUM justru muncul ketika lembaga semakin besar. Semakin besar institusi, semakin kuat godaan menganggap nilai sebagai slogan, bukan sistem. Di sinilah AUM perlu dibaca sebagai peringatan, jangan biarkan amal menjadi dekorasi.

Amal harus diwujudkan menjadi mekanisme, rekrutmen yang adil dan berbasis kompetensi, pembinaan ideologi yang cerdas dan tidak seremonial, kepemimpinan yang melayani, pengendalian konflik kepentingan, audit yang tegas, dan budaya kerja yang menghormati mutu.

Nilai tidak cukup diajarkan; ia harus diinstitusionalisasikan. Jika tidak, amal tinggal di spanduk dan digital pamflet, sementara usaha berjalan seperti institusi biasa—dan pada saat itulah ruh Muhammadiyah menguap pelan-pelan.

Ada juga pelajaran penting yang sering luput, AUM tidak mengajarkan “amal versus usaha”, melainkan “amal di dalam usaha”. Amal bukan alasan menoleransi ketidakrapian tata kelola.

Sebaliknya, amal justru menuntut profesionalisme lebih tinggi. Sebab, amanah publik tidak boleh ditangani dengan standar medioker.

AUM menempatkan mutu sebagai ibadah. Ketelitian sebagai akhlak. Ketepatan waktu sebagai amanah. Pelayanan yang ramah sebagai dakwah.

Dengan cara ini, orang merasakan Islam bukan sebagai wacana, tetapi pengalaman. Berurusan dengan AUM berarti merasakan keadilan prosedur, kejujuran administrasi, kepedulian sosial, dan layanan yang manusiawi.

Pada akhirnya, AUM adalah cara Muhammadiyah mengubah iman menjadi peradaban. Ia menjembatani masjid dan ruang kelas, mimbar dan ruang operasi, majelis taklim dan meja administrasi.

Ia menyatukan dua hal yang sering dipisahkan dalam kehidupan modern yakni kedalaman spiritual dan efektivitas kelembagaan.

Karena itu, ketika kita menyebut AUM, seharusnya yang terlintas bukan hanya daftar aset, melainkan orientasi perjuangan, menjadikan amal sebagai sumber energi, usaha sebagai bentuk pengabdian, dan Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan yang menghadirkan maslahat.

Jika umat Islam ingin kembali dipercaya, dicintai, dan diikuti bukan karena simbol melainkan karena manfaat, maka filosofi AUM layak dijadikan cermin bersama. Kita tidak kekurangan jargon tetapi sering kekurangan teladan kelembagaan.

AUM mengajarkan, teladan itu tidak lahir dari retorika melainkan dari amal yang disiplin—yang kemudian menjelma usaha yang rapi, adil, dan bermutu.

Di situlah Islam berkemajuan menjadi nyata. Bukan hanya di mimbar, tetapi di sistem; bukan hanya di slogan, tetapi di layanan; bukan hanya di niat, tetapi di kerja—yang bermula dari amal, dan kembali menjadi amal.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research