Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
03 June 2026 10:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Tekanan kembali muncul saat indeks dolar AS bergerak stabil cenderung kuat di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset aman.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.35 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang mengalami depresiasi terhadap dolar AS, dua mata uang menguat, dan satu mata uang stagnan.
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan paling dalam. Mata uang Garuda melemah 0,39% ke posisi Rp17.900/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali menembus level psikologis serta level all time low baru.
Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Ringgit Malaysia melemah 0,28% ke posisi MYR 3,974/US$, disusul dong Vietnam yang turun 0,25% ke posisi VND 26.432/US$.
Baht Thailand juga terkoreksi 0,09% ke posisi THB 32,67/US$, peso Filipina melemah 0,08% ke posisi PHP 61,677/US$, yuan China turun 0,06% ke posisi CNY 6,766/US$, sementara won Korea Selatan melemah tipis 0,03%.
Di sisi lain, dolar Taiwan masih mampu menguat 0,06%, sementara yen Jepang naik tipis 0,03% ke posisi JPY159,83/US$. Adapun dolar Singapura stagnan di posisi SGD 1,279/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang dunia, terpantau stabil di posisi 99,222. Meski tidak banyak bergerak, dolar AS masih bertahan di level yang tinggi seiring permintaan terhadap safe haven yang meningkat.
Penguatan sentimen terhadap dolar AS terjadi setelah ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas.
Komando Pusat AS (US Central Command) menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke arah negara-negara teluk, meski seluruhnya gagal mengenai target. AS juga disebut melakukan serangan ke Pulau Qeshm sebagai respons atas percobaan serangan dari Teheran.
Serangan terbaru tersebut terjadi ketika pembicaraan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat masih buntu. Kondisi ini membuat suasana pasar kembali berhati-hati dan mendorong dolar AS tetap berada di posisi kuat.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia. Data pada Selasa menunjukkan inflasi zona euro kembali meningkat pada bulan lalu, didorong oleh harga energi dan jasa. Kondisi ini memperkuat peluang Bank Sentral Eropa atau European Central Bank/ECB untuk menaikkan suku bunga pada bulan ini.
Perang yang berkepanjangan di Timur Tengah dan harga energi yang masih tinggi membuat investor kembali memperhitungkan peluang pengetatan kebijakan moneter oleh bank-bank sentral besar tahun ini. Kondisi ini berbeda dari sebelumnya, ketika pasar sempat lebih banyak memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google













































