- Pasar keuangan Indonesia akhirnya kompak menguat pada perdagangan Selasa, rupiah dan IHSG naik
- Wall pesta pora dan mencetak rekor
- Data ekonomi serta kebijakan pemerintah akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup menguat pada awal perdagangan pekan ini. Bursa saham dan rupiah akhirnya bisa menguat bersamaan setelah berhari-hari ambruk.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa melanjutkan tren penguatan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia hari ini d bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 68,05 poin atau 1,11% ke level 6.195,43.
Meski ditutup di zona hijau, penguatan IHSG pada akhir perdagangan terpangkas puluhan poin. Pada pagi IHSG sempat melesat naik 2,23%.
Sepanjang hari kemarin IHSG konsisten berada di zona penguatan dengan rentang 6.143,63 hingga 6.264,26.
Sebanyak 281 saham naik, 389 turun, dan 147 tidak bergerak. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 10.895 triliun. Investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp 1,39 triliun pada Selasa kemarin.
Mengutip Refinitiv, utilitas menjadi sektor yang naik paling kencang, yakni 16,11%. Hal ini seiring dengan saham-saham konglomerat yang terkoreksi dalam sepanjang tahun berjalan, menggeliat dan menguasai nilai transaksi.
Tiga saham dengan kenaikan tertajam Selasa kemrin adalah PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) yang terbang 34,94%, PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) melesat 34,85%, dan saham PT Ace Oldfields Tbk (KUAS) yang melonjak 34,07%.
Sektor yang menguat adalah energi, bahan baku, keuangan hingga infrastruktur. Sebaliknya, sektor konsumer non siklikal, konsumer siklikal, properti, industri, teknologi, transportasi, dan kesehatan kompak melemah.
Beralih ke pasar valas, Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan awal bulan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), rupiah ditutup menguat 0,20% ke level Rp17.830/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah dalam lima hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil.
Mata uang Garuda sempat dibuka menguat 0,08% di level Rp17.850/US$, lalu kembali tertekan hingga menyentuh Rp17.892/US$, sebelum akhirnya berbalik menguat hingga penutupan perdagangan.
Di sisi lain, Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB melemah 0,12% ke posisi 99,081.
Bank Indonesia terus memperketat pengawasan transaksi valas untuk menjaga stabilitas rupiah. Melalui aturan terbaru, batas pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying dipangkas bertahap dari US$100.000 menjadi US$50.000 pada April 2026, lalu kembali turun menjadi US$25.000 per pelaku per bulan mulai Juni 2026.
Di saat yang sama, BI memberi kelonggaran lebih besar di pasar derivatif dengan menaikkan batas transaksi forward jual dan swap tanpa underlying hingga US$10 juta per transaksi. Penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) juga terus didorong, dengan nilai transaksi mencapai US$22,61 miliar hingga April 2026.
Meski demikian, penopang fundamental dari sektor eksternal mulai melemah. BPS mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya US$90 juta, anjlok dari US$3,32 miliar pada Maret.
Penyusutan terjadi karena impor melonjak 22,49% menjadi US$25,21 miliar, sementara ekspor tumbuh 21,98% menjadi US$25,30 miliar. Dari sisi global, pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat sehingga tekanan terhadap mata uang domestik relatif mereda pada akhir perdagangan.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN)stagnan di angka 6,716% pada perdagangan Selasa kemarin.
Addsource on Google













































