Muhammad Fahmi Hidayat
Teknologi | 2026-07-14 02:02:30
Oleh: Muhammad Fahmi Hidayat
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan wadah bagi mahasiswa untuk memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata melalui program-program yang sesuai dengan kebutuhan desa. Salah satu permasalahan yang saya temui selama pelaksanaan KKN di Desa Purwodadi adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga. Meskipun sebagian besar masyarakat telah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik masih belum menjadi budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut pandangan saya, rendahnya kesadaran tersebut bukan semata-mata karena masyarakat tidak peduli terhadap lingkungan. Faktor utama yang memengaruhi adalah kebiasaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun serta minimnya edukasi mengenai manfaat pemilahan sampah. Banyak masyarakat yang menganggap semua jenis sampah memiliki perlakuan yang sama sehingga seluruh sampah dikumpulkan dalam satu wadah sebelum dibuang. Akibatnya, sampah yang sebenarnya masih dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali justru berakhir di tempat pembuangan akhir.
Selama berinteraksi dengan masyarakat, saya menyadari bahwa sebagian warga sebenarnya memiliki keinginan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Namun, mereka belum memperoleh informasi yang cukup mengenai cara memilah sampah, manfaat ekonominya, maupun dampaknya terhadap kelestarian lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi juga memerlukan proses edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami alasan di balik pentingnya pemilahan sampah.
Melalui program kerja KKN berupa edukasi pengelolaan sampah dan pengenalan bank sampah, kami berupaya memberikan pemahaman bahwa sampah bukan hanya limbah yang harus dibuang, tetapi juga memiliki nilai guna apabila dikelola dengan benar. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dapat didaur ulang atau disetorkan ke bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat dari budaya membuang menjadi budaya mengelola.
Menurut saya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah desa, sekolah, kelompok PKK, karang taruna, dan mahasiswa perlu bekerja sama dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Edukasi yang dilakukan secara terus-menerus akan lebih efektif dibandingkan sosialisasi yang hanya dilakukan sekali, karena perubahan perilaku membutuhkan waktu, pembiasaan, dan contoh nyata.
Pengalaman selama KKN memberikan pemahaman bahwa persoalan lingkungan tidak selalu memerlukan solusi yang rumit. Perubahan kecil, seperti membiasakan memilah sampah sebelum dibuang, dapat memberikan dampak besar terhadap kebersihan lingkungan, mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, serta membuka peluang ekonomi melalui kegiatan daur ulang dan bank sampah. Hal ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, saya meyakini bahwa rendahnya kesadaran memilah sampah merupakan tantangan yang dapat diatasi apabila kebiasaan masyarakat dibangun melalui edukasi yang tepat dan berkelanjutan. KKN menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kesadaran tersebut melalui pendampingan, sosialisasi, dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, budaya memilah sampah tidak hanya menjadi bagian dari program KKN, tetapi juga menjadi kebiasaan yang terus dilaksanakan oleh masyarakat demi mewujudkan lingkungan Desa Purwodadi yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Penulis merupakan mahasiswa peserta KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Sub Kelompok 3 Desa Purwodadi, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Ir. Kukuh Setyadjit, M.T.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 day ago
6















































