Kanker Bukan Lagi Dipandang Sebagai Vonis Akhir, Ini Penjelasan Dokter

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi medis telah membawa perubahan besar dalam penanganan penyakit kanker. Jika dahulu terapi kanker lebih banyak dilakukan dengan pendekatan umum seperti operasi, kemoterapi, dan radioterapi konvensional, kini dunia medis bergerak menuju pengobatan yang lebih presisi dan personal sesuai karakteristik setiap pasien.

Pelaksana Tugas Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Kanker Dharmais dr. Eka Widya Khorinal, Sp.PD, K-HOM, MPH, FINASIM, mengatakan, transformasi penanganan kanker saat ini berfokus pada pengobatan presisi atau precision medicine. Pendekatan ini memungkinkan terapi diberikan berdasarkan profil genetik tumor, kondisi biologis pasien, hingga respons tubuh terhadap pengobatan tertentu.

"Memahami karakteristik kanker adalah langkah penting untuk mewujudkan pengobatannya. Itu artinya, tidak lagi hanya berpatokan pada lokasi organ tempat kanker tumbuh, melainkan pada karakteristik genetik dan molekuler spesifik dari sel kanker itu sendiri," kata dr. Eka saat acara kolaborasi RS Kanker Dharmais & AstraZeneca Indonesia bertajuk "Memperkuat Penanganan Kanker Melalui Next-Generation Sequencing (NGS)" di Jakarta Barat, Kamis (4/6/2026).

Kolaborasi RSK Dharmais & AstraZeneca Indonesia Memperkuat Penanganan Kanker Melalui Next-Generation Sequencing (NGS) di kawasan Jakarta Barat, Kamis (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Lynda Hasibuan)Radixact di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat. (CNBC Indonesia/Linda Sari Hasibuan)

Lebih lanjut, dia menjelaskan, pengobatan presisi umumnya memanfaatkan pemeriksaan biomarker, analisis molekuler, serta teknologi genomik untuk memahami mutasi atau perubahan genetik yang memicu pertumbuhan sel kanker. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan terapi target maupun imunoterapi yang paling sesuai.

Pendekatan tersebut dinilai memberikan harapan baru bagi pasien kanker, terutama pada kasus yang sebelumnya sulit ditangani dengan terapi konvensional. Selain meningkatkan peluang keberhasilan terapi, pengobatan yang lebih personal juga membantu meningkatkan kualitas hidup pasien selama menjalani perawatan.

"Melalui pengobatan presisi, kanker tidak lagi dipandang sebagai vonis akhir, melainkan sebuah penyakit kronis yang dapat dikelola dengan strategi medis yang cerdas, personal, dan terukur," ujar dr. Eka.

Selain terapi yang semakin canggih, dr. Eka juga menekankan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin. Menurutnya, keberhasilan pengobatan kanker sangat dipengaruhi oleh stadium saat penyakit terdeteksi.

"Semakin cepat ditemukan, maka peluang kesembuhan pasien akan semakin besar," paparnya.

Sebagai informasi, tercatat ada sekitar 400 ribu kasus baru kanker yang terdeteksi setiap tahunnya di Indonesia. Dari jumlah kasus tersebut, angka kematian akibat kanker di tanah air tergolong tinggi, yakni mencapai kisaran 240 ribu kasus kematian per tahun.

Jenis kanker dengan beban kasus tertinggi di Indonesia terbagi berdasarkan gender, namun secara akumulasi nasional, kanker payudara menduduki peringkat pertama, lalu kanker serviks dan ketiga kanker serviks.

(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research