Jumlah Investor Pasar Modal RI Sejak Pandemi Melesat 400%

4 hours ago 2

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

02 January 2026 10:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia kembali mencetak tonggak penting pada 2025. Jumlah investor resmi menembus 20 juta Single Investor Identification (SID).

Melansir press release Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (30/12/2025), total investor pasar modal yang terdiri dari saham, obligasi, dan reksa dana mencapai 20,3 juta, meningkat 36,67% dari tahun 2024.

Secara khusus, untuk investor saham dan surat berharga lainnya, terdapat peningkatan lebih dari 2,2 juta investor menjadi 8,59 juta investor saham.

Jika dilihat dalam enam tahun atau sejak pandemi, investor pasar modal sudah melesat 421%.

Dari sisi partisipasi investor, rata-rata investor yang aktif bertransaksi per 29 Desember 2025 mencapai lebih dari 901 ribu per bulan. Selain itu, jika dilihat dari tipe investor, porsi transaksi investor ritel masih mendominasi sebesar 49,9%. Dari segi transaksi investor institusi asing dengan porsi transaksi mencapai lebih dari 36,3% dari total rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025.

Pertumbuhan ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia semakin ramai dan inklusif. Tidak hanya jumlah investor secara keseluruhan, investor saham juga mencatatkan kenaikan tajam.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menilai tren ini sebagai hasil dari konsistensi edukasi dan transformasi digital yang dilakukan BEI bersama seluruh pemangku kepentingan.

"Kami melihat minat masyarakat terhadap investasi semakin inklusif dan merata, karena akses edukasi kini dapat dinikmati masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia," ungkap Jeffrey, Rabu (17/12/2025) dikutip dari Press Release resmi BEI.

Seiring dengan lonjakan investor, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2025 juga mencatat performa ciamik dan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa juga.

Pada 11 Desember 2025, secara intraday IHSG sempat mencapai posisi 8.777 yang merupakan rekor sejarah. Kapitalisasi pasar pun melejit di atas Rp16.000 triliun, memperkuat positioning pasar modal RI di kancah global.

Namun, ada yang perlu dicatat dari kenaikan IHSG 2025 karena kebanyakan yang mendongkrak adalah saham konglomerat lapis satu dan lapis dua. Saham bluechip yang familiar kita tahu di sektor perbankan malah masih laggard.

Ketika saham perbankan besar yang selama ini menjadi proxy ekonomi justru tertinggal, pasar seolah sedang melakukan rotasi preferensi dari saham defensif berbasis fundamental stabil ke saham dengan potensi pertumbuhan dan valuasi yang dianggap masih bisa "diceritakan" lebih jauh.

Laggard-nya saham perbankan juga mencerminkan fase siklus yang berbeda. Di tengah margin bunga yang mulai normal, pertumbuhan kredit yang selektif, serta tekanan biaya dana, ruang kenaikan saham bank besar menjadi lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya.

Sebaliknya, saham konglomerasi non-bank mendapat dorongan dari ekspansi lintas sektor, restrukturisasi bisnis, hingga masuknya investor strategis, yang menciptakan sentimen positif meskipun kontribusi ke ekonomi riil belum sepenuhnya terefleksi dalam kinerja laba jangka pendek.

Dari sisi struktur pasar, kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan IHSG belum ditopang secara merata oleh sektor-sektor inti ekonomi, sehingga reli menjadi relatif rapuh jika sentimen terhadap saham-saham penggerak utama berubah.

Ke depan, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat ditentukan oleh apakah reli ini mampu meluas ke saham-saham blue chip sektor perbankan dan sektor riil lainnya.

Jika bank besar mulai kembali menjadi motor, reli berpotensi lebih sehat dan berimbang. Namun jika tidak, pasar berisiko memasuki fase konsolidasi, di mana investor mulai lebih selektif dan reli berbasis cerita konglomerasi diuji oleh realisasi kinerja keuangan yang sesungguhnya.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research