Jakarta, CNBC Indonesia - Kangkung mungkin jadi salah satu sayuran kegemaran masyarakat Indonesia dengan berbagai olahannya. Mulai dari tumis kangkung hingga cah kangkung mudah ditemukan di warung makan maupun rumah tangga. Namun, sayuran ini ternyata cukup jarang ditemukan dalam menu makanan pasien rumah sakit.
Ternyata, pemilihan menu di rumah sakit dilakukan dengan pertimbangan ketat, bukan sekadar soal rasa atau harga bahan makanan. Ahli gizi menyebut setiap menu pasien harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, keamanan pangan, hingga kemudahan pengolahan dalam dapur rumah sakit.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Hana Fitria Navratilova mengatakan, sayuran berdaun hijau seperti kangkung memang cenderung jarang digunakan dalam menu rumah sakit.
"Secara umum, sayuran berdaun memang jarang disajikan dalam menu rumah sakit karena selain alasan praktis seperti penyimpanan dan pengolahan, juga sayuran berdaun cenderung tinggi purin," ujar Hana dalam keterangannya dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (21/5/2026).
Selain purin, kandungan oksalat dan nitrat dalam sayuran berdaun juga menjadi pertimbangan. Zat-zat tersebut dapat menjadi perhatian khusus pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti gangguan ginjal atau masalah metabolisme.
Kangkung termasuk sayuran yang tidak bisa disimpan lama dan harus segera diolah setelah diterima. Dalam sistem dapur rumah sakit yang melayani banyak pasien dengan variasi diet khusus, jenis sayur yang lebih stabil dan mudah dikelola biasanya lebih diprioritaskan.
Hana menegaskan, kontaminasi logam berat memang bisa terjadi pada pangan, tetapi tidak terbatas pada kangkung saja. Beras dan seafood pun berpotensi terkontaminasi jika berasal dari lingkungan yang tercemar.
Logam berat yang dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari gangguan ginjal dan hati hingga risiko kanker. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat kangkung otomatis berbahaya.
Ada alasan teknis lain. Sayuran berdaun mengalami penyusutan volume cukup besar setelah dimasak, sehingga secara visual dan porsi kurang ideal untuk standar penyajian rumah sakit.
Oleh sebab itu, rumah sakit umumnya memilih jenis sayur yang lebih aman dikonsumsi mayoritas pasien dan lebih mudah dikontrol kandungan gizinya.
(hsy/hsy)
Addsource on Google















































