Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial ternyata bukan sekadar membuat waktu terbuang. Para ahli memperingatkan paparan konten digital yang berlebihan dapat memengaruhi kemampuan otak untuk fokus, mengingat informasi, hingga berinteraksi dengan orang lain.
Fenomena ini dikenal sebagai brain rot, istilah yang belakangan semakin populer untuk menggambarkan penurunan kualitas mental akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cepat, dangkal, dan terus-menerus. Perilaku yang terkait dengan brain rot termasuk scrolling terus-menerus serta penggunaan meme berlebihan dalam percakapan sehari-hari.
Sebuah studi Universitas Yale pada 2025 menemukan, jumlah orang dewasa muda berusia 18 hingga 34 tahun yang mengalami gangguan kognitif, termasuk masalah memori dan kesulitan berkonsentrasi, meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade. Angka itu dari 5,1% menjadi 9,7%.
Psikolog Dr. Julia Kogan memaparkan tanda utama brain rot adalah ketika seseorang terlalu sering online sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Semisal, jika tidak bisa tidur karena terpaku pada ponsel atau mengabaikan hubungan di dunia nyata demi scrolling TikTok.
"Tanda-tanda lainnya termasuk kesulitan untuk melepaskan diri dari ponsel dan ada dorongan untuk terus-menerus memeriksa notifikasi," kata Kogan dikutip dari Verywell Mind di Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
"Mata yang tegang, sakit kepala, atau postur tubuh yang buruk akibat penggunaan ponsel dapat menjadi tanda lain bahwa terlalu banyak waktu dihabiskan online tanpa istirahat," ujarnya menambahkan,
Brain rot juga disoroti oleh dosen IPB University dari Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Dr. Melly Latifah. Ia bilang, dampak brain rot terhadap anak nyata dan berdampak pada perilaku anak.
"Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicaranya patah-patah, atau kosakatanya menyusut. Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar ketika diajak bicara. Ada juga yang marah ketika gadget diambil," jelasnya.
Ia juga mengingatkan, setiap usia menunjukkan gejala berbeda.
"Balita mungkin meniru gerakan absurd yang mereka lihat. Anak usia SD bisa mengalami penurunan nilai drastis. Sementara remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa meme," kata ia.
Di tengah derasnya arus informasi digital, para ahli pun mengingatkan pentingnya membatasi waktu layar dan memberi otak kesempatan untuk beristirahat. Menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan interaksi di dunia nyata dinilai menjadi salah satu cara untuk mencegah dampak brain rot semakin parah.
(hsy/hsy)
Addsource on Google













































