FOMO dan Hati yang Kosong, Alquran Sudah Lama Mengingatkan

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat-saat ketika hati terasa penuh, tetapi anehnya kosong. Seperti ruang yang dipenuhi suara, tetapi kehilangan makna. Kita menggulir layar, berpindah dari satu kabar ke kabar lain, dari satu wajah ke wajah lain, seolah takut tertinggal oleh sesuatu yang bahkan tidak kita pahami. Di situlah, diam-diam, hati mulai letih.

Alquran menyapa kegelisahan itu dengan kalimat yang sederhana, namun dalam, seolah mengetuk dari dalam dada:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

allażīna āmanụ wa taṭmainnu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭmainnul-qulụb

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini tidak berteriak. Ia tidak memaksa. Ia hanya mengingatkan, bahwa ketenangan bukan sesuatu yang dikejar ke luar, melainkan sesuatu yang ditemukan ke dalam.

Imam Abu Hamid al-Ghazali, dalam karya agungnya Ihya Ulumuddin, pernah menyingkap rahasia hati dengan bahasa yang nyaris seperti doa. Ia menulis:

ٱعْلَمْ أَنَّ ٱلْقَلْبَ هُوَ ٱلْجَوْهَرُ ٱلشَّرِيفُ ٱلَّذِي بِهِ يَعْرِفُ ٱلْإِنْسَانُ رَبَّهُ، وَهُوَ ٱلْمُخَاطَبُ وَٱلْمُطَالَبُ وَٱلْمُعَاتَبُ، وَهُوَ ٱلْمُثَابُ وَٱلْمُعَاقَبُ

I‘lam anna al-qalba huwa al-jawharu asy-syarīfu alladzī bihi ya‘rifu al-insānu rabbah, wa huwa al-mukhāṭabu wal-muṭālabu wal-mu‘ātabu, wa huwa al-mutsābu wal-mu‘āqab.

“Ketahuilah, hati adalah permata yang mulia, dengannya manusia mengenal Tuhannya. Ia adalah yang diajak bicara, yang dituntut, yang ditegur, yang diberi pahala, dan yang disiksa.”

Hati, kata Al-Ghazali, bukan sekadar organ yang berdenyut. Ia adalah pusat makna. Ia seperti cermin yang mampu memantulkan cahaya Ilahi, tetapi juga bisa berdebu oleh dunia.

Di zaman ini, debu itu datang begitu halus. Ia tidak selalu berupa dosa yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang tampak sepele, keinginan untuk selalu tahu apa yang orang lain miliki, kecemasan karena merasa tertinggal, kegelisahan yang tidak jelas sumbernya. Kita menyebutnya FOMO. Tetapi Alquran telah lebih dulu mengenalnya sebagai kegelisahan hati yang kehilangan arah.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research