Drone Shahed-136 Andalan Iran Serang Israel dan AS, Komponennya dari Indonesia

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Iran mempunyai senjata andalan dalam menyerang musuhnya, terutama Israel, yaitu drone Shahed-136. Drone kamikaze ini diproduksi massal oleh militer Iran untuk digunakan membalas serangan, termasuk ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.

Dalam laporannya, The New York Times, Selasa (3/3/2026), mengulas tentang keandalan drone produksi dalam negeri Iran. Setelah membuktikan efektivitasnya yang murah dan mematikan di medan perang Ukraina, drone Shahed-136 buatan Iran dilepaskan di seluruh Teluk Persia akhir pekan lalu. Hal itu menimbulkan kerusakan signifikan di tengah pembalasan langsung Teheran terhadap serangan AS dan Israel.

Shahed-136 adalah varian kendaraan udara tak berawak dalam keluarga Shahed (Shahed berarti "saksi" dalam bahasa Persia) yang murah untuk diproduksi dan dapat bertindak seperti rudal berpemandu karena terbang ke target yang telah ditentukan. Drone tersebut dikembangkan oleh sebuah perusahaan yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kuat, cabang militer ideologis yang melindungi sistem pemerintahan Iran.

Iran telah memproduksinya setidaknya sejak 2021 dan telah menggunakannya sebelumnya di Irak. Video yang diverifikasi oleh The New York Times sejak Sabtu pekan lalu, menunjukkan Shahed-136 menabrak gedung-gedung di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UAE). Saat drone melayang di udara, mesinnya mengeluarkan suara dengung yang khas.

Suaranya terdengar dalam video serangan di ibu kota Bahrain, Manama, terhadap gedung apartemen bertingkat tinggi. Drone berbentuk segitiga itu menabrak sisi gedung, menyebabkan kebakaran dan menerbangkan puing-puing.

Drone serang satu arah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan rudal tradisional, terutama efektivitas biayanya yang sekitar 35 ribu dolar AS atau sekitar Rp 591 juta per drone. Mereka juga memiliki jangkauan yang relatif jauh, yaitu 2.000 kilometer (km).

Seth Frantzman, seorang ahli peperangan drone, mengatakan, meskipun drone Shahed-136 tidak efektif dibandingkan senjata lain, mereka terkadang dapat menghindari sistem pertahanan udara yang mahal. Shahed-136 mampu menyebarkan kekacauan dan teror, serta dapat diproduksi dalam jumlah besar.

"Mereka memberi Iran sistem senjata murah yang mirip dengan angkatan udara,” kata Frantzman, yang bukunya, Drone Wars: Pioneers, Killing Machines, Artificial Intelligence, and the Battle for the Future, diterbitkan pada tahun 2021.

Video lain dari hari Sabtu menunjukkan sebuah Shahed-136 yang tampaknya menghantam infrastruktur di dalam pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain. Asap hitam mengepul dari area tersebut ketika suara dengung Shahed terdengar, dan beberapa saat kemudian terlihat melengkung di atas asap dan meledak saat benturan.

Rekaman yang difilmkan di lingkungan Jumeirah di Dubai menunjukkan sebuah Shahed-136 menghantam Fairmont Palm. Sebuah hotel mewah di mana tarif per malam untuk kamar standar sekitar 200 dolar AS atau sekitar Rp 3,3 juta. "Ya Tuhan," kata orang yang merekam adegan tersebut.

Shahed-136 juga telah digunakan oleh Rusia untuk menargetkan infrastruktur sipil di seluruh Ukraina. Geran-2 adalah nama yang digunakan Rusia untuk lini Shahed yang diproduksi di dalam negeri, yang sekarang diproduksi Rusia di pabrik terpencil di timur negara itu. Rusia memodifikasinya selama invasi ke Ukraina.

Tidak mau kalah, pemerintah AS mengumumkan mereka mengerahkan drone serang satu arah yang dikenal sebagai Lucas. Drone yang dibikin perusahaan berbasis di Arizona, SpectreWorks, merupakan hasil rekayasa balik dari Shahed. Komando Pusat Militer United States Central Command (CENTCOM) mengumumkan, AS telah mengerahkan drone Lucas untuk pertama kalinya dalam kampanyenya melawan Iran.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research