Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 April 2026 10:11
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor buruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (1/4/2026).
Mata uang Garuda resmi menembus level Rp17.000/US$, yang sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa secara intraday di pasar spot.
Berdasarkan data Refinitiv, per pukul 09.31 WIB, rupiah tercatat melemah 0,06% ke posisi Rp17.000/US$. Level ini menjadi tonggak baru pelemahan rupiah, setelah sehari sebelumnya mata uang Garuda juga baru mencatatkan level penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Pada perdagangan Selasa (31/3/2026), rupiah ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp16.990/US$. Meski masih bertahan di bawah level psikologis Rp17.000/US$, angka tersebut sudah menjadi posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.
Bahkan, jika melihat pergerakan intraday, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak perdagangan kemarin. Rupiah sempat menyentuh Rp16.998/US$, yang saat itu menjadi level terlemah rupiah secara intraday. Namun sehari berselang, level tersebut akhirnya ditembus dan rupiah resmi jatuh ke Rp17.000/US$.
Dengan demikian, dalam dua hari beruntun rupiah terus mencetak rekor pelemahan baru, mulai dari rekor penutupan terlemah, lalu berlanjut ke rekorintraday terlemah sepanjang sejarah. Sebetulnya Bank Indonesia (BI) di awal pekan ini baru saja meresmikan implementasi repo valas dengan underlying SVBI dan SUVBI, yang semestinya diharapkan dapat memperkuat likuiditas valas domestik dan menopang stabilitas rupiah.
Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih sangat besar di tengah tingginya ketidakpastian global dan kuatnya permintaan pasar terhadap dolar AS.
Jika melihat ke belakang, pelemahan rupiah kali ini menambah daftar panjang episode tekanan ekstrem yang pernah dialami mata uang Garuda. Ada sejumlah periode krusial yang selama ini tercatat sebagai fase paling berat bagi rupiah, mulai dari krisis moneter, gejolak politik domestik, hingga guncangan global yang memicu pelarian dana ke aset aman.
(1) Agustus-Oktober 1997
Pelemahan rupiah pada Agustus hingga Oktober 1997 menjadi fase awal Krisis Moneter di Indonesia. Pada periode ini, kurs rupiah merosot dari sekitar Rp2.500/US$ menjadi kisaran Rp3.000an/US$
Tekanan spekulasi yang sangat kuat membuat Bank Indonesia akhirnya meninggalkan sistem managed floating dan beralih ke kurs mengambang bebas. Langkah ini diambil karena cadangan devisa tidak lagi memadai untuk terus menahan rupiah lewat intervensi pasar.
Depresiasi yang terus memburuk kemudian mendorong pemerintah meminta bantuan International Monetary Fund (IMF). Perjanjian bantuan pertama ditandatangani pada 31 Oktober 1997, dengan salah satu syarat utama penutupan 16 bank swasta nasional.
(2) Mei-Juni 1998
Setelah tekanan 1997, rupiah memasuki fase paling kelam pada Mei hingga Juni 1998.
Data Refinitiv pemperlihatkan pada 16 Juni 1998, rupiah ambruk hingga ditutup pada level terendah sepanjang masa di level 15.200/US$. Namun, secara intraday rupiah sempat menyentuh level 16.800/US$.
Tekanan ekstrem ini terjadi karena krisis ekonomi melebar menjadi krisis politik dan sosial.
Penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 memicu kerusuhan besar, penjarahan, dan pembakaran di Jakarta serta sejumlah kota lain, membuat investor menarik dana besar besaran. Ketidakpastian kian memuncak ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, sementara pasar masih ragu terhadap stabilitas pemerintahan baru di bawah B.J. Habibie.
(3) April 2001
Memasuki era reformasi, rupiah kembali tertekan pada April 2001 hingga bergerak di kisaran Rp10.500 sampai Rp12.000/US$.
Pemicu utamanya adalah ketidakpastian politik yang meningkat, saat ketegangan antara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan DPR dan MPR memuncak seiring rencana sidang istimewa untuk pemberhentian presiden. Di saat yang sama, hubungan pemerintah dengan IMF memburuk karena pencairan pinjaman tertunda akibat reformasi ekonomi dinilai berjalan lambat, sehingga sentimen pasar valas ikut memburuk.
(4) Oktober-November 2008
Salah satu masa kelam rupiah juga terjadi pada 2008. Pada Oktober sampai November tahun itu, tekanan rupiah datang dari luar negeri melalui Krisis Finansial Global yang berawal dari runtuhnya pasar perumahan AS dan memuncak saat Lehman Brothers bangkrut pada September 2008.
Kepanikan membuat investor global menarik dana dari emerging markets dan memindahkannya ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
Rupiah yang sempat stabil di kisaran Rp9.000an/US$ pada Agustus 2008 kemudian merosot ke Rp12.100 sampai Rp12.600/US$ pada November 2008.
(5) September 2015
Tekanan besar bagi rupiah kembali terjadi pada 2015. Hingga 14 September 2015, rupiah tercatat melemah 15,87% sepanjang tahun tersebut dengan ditutup di level Rp14.645/US$ di bulan tersebut.
Depresiasi dipicu berkurangnya arus modal asing akibat sentimen global, terutama normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral AS dan devaluasi yuan China.
Di saat kebutuhan valas tinggi tidak diimbangi pasokan valas di pasar, terjadi kelebihan permintaan devisa sehingga rupiah terus tertekan sepanjang semester I 2015.
(6) September-Oktober 2018
Pada September sampai Oktober 2018, rupiah melemah seiring gejolak di sejumlah negara emerging market. Rupiah sempat ditutup pada level Rp15.230/US$ pada 11 Oktober 2018.
Dari sisi eksternal, melemahnya mata uang Turki, Argentina, dan negara lain membuat investor memburu aset aman seperti dolar AS, yen, dan surat utang AS.
(7) Maret 2020
Salah satu momen pelemahan rupiah yang cukup dalam terjadi pada Maret 2020. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.550/US$ dan anjlok 13,67% sepanjang Maret 2020, bahkan menembus level psikologis Rp16.000/US$ yang menjadi level terlemah sejak krisis 1998. Pemicu utamanya adalah kepanikan global akibat pandemi Covid 19.
Pengumuman kasus pertama di Indonesia pada awal Maret serta rencana pembatasan aktivitas memperburuk sentimen terhadap prospek ekonomi. Investor asing menarik dana besar besaran dari pasar saham dan SBN Indonesia untuk berpindah ke safe haven seperti dolar AS.
(8) Mei-Juni 2024
Pada Juni 2024, rupiah kembali menembus level Rp16.400/US$, menjadi titik terendah sejak masa pandemi April 2020.
Tekanan terutama berasal dari faktor eksternal, yakni kebijakan suku bunga The Fed yang bertahan tinggi lebih lama karena inflasi AS belum turun sesuai target.
Suku bunga The Fed tercatat berada di 5,25% - 5,50% dan bertahan dari Juli 2023 hingga Agustus 2024 atau sekitar satu tahun. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan memicu penarikan modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
(9) April 2025
Rupiah tertekan tajam pada April 2025 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif pada 2 April 2025.
Sentimen ini memicu gejolak pasar keuangan global, diikuti penguatan DXY dan kenaikan imbal hasil US Treasury.
Merujuk Refinitiv, pada Selasa 8 April 2025 rupiah ditutup melemah 1,84% ke level Rp16.850/US$.
Rupiah juga tercatat ditutup di Rp16.865/US$ sebagai titik terlemah sepanjang 2025 saat itu. Bahkan rupiah sempat menyentuh Rp16.970/US$ pada 9 April 2025 pukul 09.40 WIB, yang menjadi posisi terlemah intraday sepanjang masa.
Investor global kembali memprioritaskan aset berbasis dolar karena pasar menilai ruang pemangkasan suku bunga The Fed lebih sempit dari ekspektasi awal.
(10) Awal Januari 2026
Memasuki awal 2026, rupiah kembali mencatat level terlemah sepanjang masanya. Setelah sempat menutup perdagangan Kamis 15 Januari 2026 di Rp16.880/US$, tekanan berlanjut hingga pada perdagangan Senin 19 Januari 2026 rupiah ditutup di Rp16.935/US$ dan menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa.
Faktor eksternal kembali dominan, seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya minat pasar pada aset berdenominasi dolar. Pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed di tengah rilis data ekonomi AS yang relatif solid, mulai dari inflasi produsen November yang naik tipis hingga penjualan ritel yang lebih kuat dari perkiraan. Di sisi lain, Donald Trump menyatakan tidak memiliki rencana memecat Ketua The Fed Jerome Powell, meredam kekhawatiran soal independensi bank sentral AS.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan, dengan peluang pemangkasan mulai terbuka pada pertengahan tahun. Dari dalam negeri, defisit APBN 2025 sebesar 2,92% atau Rp695,1 triliun turut menambah tekanan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor asing terhadap kondisi fiskal Indonesia.
(11) Awal April 2026
Kini, pada Rabu (1/4/2026), rekor itu kembali pecah. Rupiah menembus Rp17.005/US$ secara intraday. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda dan pasar masih sangat sensitif terhadap faktor eksternal khususnya dari perang Timur Tengah antara AS-Israel melawan Iran, lonjakan harga energi, serta derasnya arus dana global ke aset safe haven.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google












































