Bursa Dibuka Lagi, Ini Gambaran IHSG 2025: Dana Asing - Kapitalisasi

8 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

02 January 2026 08:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menutup tahun 2025 dengan mencatatkan kenaikan double digit di sepanjang tahun.

Pada perdagangan terakhir Selasa (30/12/2025), IHSG ditutup dengan seremoni penutupan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, dan turut dihadiri para pemangku kepentingan pasar modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI).

IHSG ditutup pada level 6.646,94 atau menguat 0,03% di perdagangan terakhir 2025. Namun secara kumulatif sepanjang 2025, IHSG berhasil mencatatkan penguatan sebesar 22,13% dan menjadi salah satu bursa dengan kinerja terbaik di kawasan ASEAN.

Kenaikan Jumlah Investor Sepanjang 2025

Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia mencatat peningkatan signifikan dari sisi jumlah investor. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI investor pasar modal yang mencakup saham, obligasi, dan reksa dana meningkat menjadi sekitar 20,3 juta investor, atau tumbuh 36,67% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada pasar saham dan surat berharga lainnya, jumlah investor juga meningkat lebih dari 2,2 juta menjadi 8,59 juta investor saham. Partisipasi perdagangan turut meluas, tercermin dari rata-rata investor aktif yang mencapai lebih dari 901 ribu per bulan, dengan porsi transaksi investor ritel yang masih dominan mendekati 50% dari total aktivitas pasar.

Rata-Rata Nilai Transaksi Harian 2025 Naik

Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan saham sepanjang 2025 tercatat tetap solid. Bursa mencatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) berada di kisaran Rp18,06 triliun per hari, lebih tinggi 40,5% dibandingkan akhir tahun sebelumnya yang sebesar Rp12,85 triliun pada 2024 Hal ini mencerminkan aktivitas perdagangan yang relatif terjaga di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Volume Perdagangan & Frekuensi Transaksi

Aktivitas perdagangan juga terefleksi pada volume dan frekuensi transaksi sepanjang tahun. Sepanjang 2025, rata-rata volume transaksi harian tercatat mencapai sekitar 30,27 miliar lembar saham, sementara frekuensi transaksi harian berada di kisaran 1,78 juta kali transaksi.

Sepanjang tahun, pasar saham Indonesia juga beberapa kali mencatat rekor baru, termasuk pencapaian all-time high pada sejumlah periode perdagangan serta kapitalisasi pasar yang sempat menembus kisaran Rp16 ribu triliun.

Asing Keluar di Tengah Penguatan IHSG Sepanjang 2025

Sepanjang 2025, pergerakan pasar saham Indonesia masih dibayangi oleh tekanan arus dana asing. Berdasarkan kumulatif sepanjang 2025, investor asing tercatat melakukan aksi jual atau net sell sebesar Rp17,34 triliun di pasar saham domestik.

Tekanan jual investor asing ini mencerminkan masih kuatnya faktor eksternal yang memengaruhi aliran modal ke pasar emerging market, mulai dari dinamika suku bunga global hingga pergeseran preferensi aset berisiko. Meski demikian, aktivitas investor domestik yang tetap solid membantu menopang kinerja positif IHSG sepanjang tahun.

26 IPO di 2025, Dana Himpunan Lebih Besar Meski Tak Capai Target

Sepanjang 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 26 perusahaan baru resmi melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Jumlah tersebut berada di bawah target semula yang dipatok sebanyak 45 emiten, namun dari sisi nilai penghimpunan dana justru menunjukkan kinerja yang lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menjelaskan bahwa total dana yang berhasil dihimpun dari IPO 2025 mencapai sekitar Rp18 triliun.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa minat pasar terhadap perusahaan yang masuk ke bursa masih solid, terutama pada kategori emiten berskala besar. Hal ini sekaligus tercermin dari keberhasilan BEI mencatatkan enam perusahaan Lighthouse IPO, melebihi target awal yang hanya lima perusahaan.

Secara total, jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 956 emiten hingga akhir 2025. Jika digabungkan dengan penerbitan efek lainnya, nilai penghimpunan dana pasar modal sepanjang tahun tercatat hampir Rp300 triliun, atau sekitar Rp278 triliun.

Peningkatan tersebut terjadi meskipun jumlah perusahaan IPO lebih sedikit, yang menunjukkan bahwa nilai pendanaan lebih terkonsentrasi pada emiten-emiten dengan skala bisnis besar.

Kinerja IPO 2025 juga berlangsung di tengah dinamika pasar yang menantang, baik dari sisi volatilitas global maupun pergeseran preferensi investor. Meski demikian, sejumlah sektor masih mampu menarik minat investor institusi maupun ritel, terutama perusahaan dengan fundamental kuat, prospek pertumbuhan jangka panjang, serta narasi bisnis yang dinilai relevan dengan arah pengembangan pasar modal.

Iman juga menyampaikan bahwa momentum penghimpunan dana tidak hanya datang dari pasar saham, melainkan turut ditopang oleh aktivitas penerbitan obligasi, produk derivatif, hingga instrumen non-saham lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi pasar modal tetap berjalan, sekalipun jumlah IPO baru tidak mencapai target awal BEI.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research