Biaya Medis Melonjak, Perusahaan Tahan Benefit Asuransi Kesehatan

2 hours ago 1

Achmad Aris,  CNBC Indonesia

24 February 2026 16:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan biaya kesehatan yang terus melampaui inflasi umum mulai mengubah strategi perusahaan dalam mengelola program manfaat kesehatan karyawan.

Fakta ini terungkap dalam laporan Indonesia Health Benefits Study 2025 yang disusun Mercer Marsh Benefits (MMB) Indonesia. Survei dilakukan terhadap lebih dari 400 perusahaan dengan cakupan sekitar 500.000 pekerja dari 25 industri.

Riset tersebut menunjukkan inflasi medis di Indonesia mencapai 17,9% pada 2025 dan diprediksi stabil 17,8% pada 2026 - tertinggi di kawasan - sehingga mendorong perusahaan meninjau ulang desain benefit sekaligus memperkuat strategi pengendalian biaya kesehatan karyawan.

Perubahan regulasi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah kebijakan perusahaan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penerapan skema co-insurance atau co sharing pada asuransi kesehatan sebesar 5% atau lebih rendah dari rencana awal 10%.

Survei Mercer menunjukkan sekitar 80% organisasi menilai kebijakan tersebut akan berdampak pada desain manfaat kesehatan mereka, meski sebagian besar perusahaan menyatakan tidak akan melakukan perubahan tambahan selain penerapan skema pembayaran bersama.

Di sisi lain, implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS dipandang berpotensi membantu perusahaan mengelola biaya melalui pemanfaatan jaminan kesehatan nasional sebagai lapis perlindungan awal.

Negosiasi Premi

Dalam lanskap bisnis, perusahaan di Indonesia menempatkan negosiasi premi sebagai prioritas utama dalam 1 tahun-3 tahun ke depan. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan biaya medis dan kebutuhan mempertahankan daya saing benefit sebagai alat retensi talenta.

Sebanyak 94% perusahaan bahkan mengakui program benefit tetap menjadi instrumen strategis untuk mempertahankan karyawan, meskipun upaya rasionalisasi manfaat mulai dilakukan untuk menjaga keberlanjutan biaya.

Strategi yang mulai ditempuh antara lain pembatasan jaringan rumah sakit premium, penggunaan telemedicine, analitik klaim, serta skema pembiayaan alternatif dan berbagi biaya dengan karyawan.

Di pihak lain, perusahaan asuransi secara global percaya perusahaan akan memprioritaskan pengurangan manfaat pada 2026. Kondisi ini kontras dengan situasi 3 tahun lalu ketika perusahaan berlomba-lomba untuk meningkatkan tunjangan untuk menarik talenta.

Sebuah kasus di perusahaan F&B dengan 3000+ karyawan menghadapi komplikasi selama masa transisi dari self-insured ke asuransi. Klien memiliki kepuasan karyawan yang rendah, biaya medis yang tinggi, dan pelacakan klaim yang tidak memadai.

Untuk mengatasi hal ini, MMB melakukan analisis data yang komprehensif dan mengubah rencana manfaat yang mentransfer sebagian risiko keuangan ke perusahaan asuransi sambil memperkenalkan pembagian biaya dengan karyawan. Selain itu, MMB juga melibatkan rumah sakit untuk tarif yang lebih baik, meningkatkan komunikasi karyawan, dan mengimplementasikan program kesehatan.

Hasilnya, perusahaan mencapai pengurangan biaya pengobatan sebesar 13%, menetapkan program manfaat yang konsisten, dan meningkatkan kesadaran dan kepuasan karyawan.

Kesehatan Mental

Selain efisiensi biaya, dimensi kesejahteraan karyawan juga menjadi perhatian. Laporan mencatat kesehatan mental sebagai fokus jangka pendek utama perusahaan, seiring dengan meningkatnya tingkat stres karyawan dan dampaknya terhadap produktivitas serta retensi.

Sekitar 48% perusahaan telah mengadopsi Employee Assistance Program (EAP) sebagai dukungan kesejahteraan mental, sementara program edukasi, konseling virtual, dan skrining kesehatan mental menjadi manfaat yang paling diapresiasi pekerja.

Desain pendekatan yang berpusat pada manusia untuk strategi didukung oleh leadership, support, dan budaya organisasi. Survei ini mengungkap bahwa karyawan yang stres di tempat kerja cenderung mencari pekerjaan lain.

MMB Indonesia mencatat sejumlah perusahaan di Indonesia sudah mulai memasukkan program well-being mereka ke dalam nilai organisasi. Antara lain Djarum dengan AJARI Program, Astra International dengan Employee Program, Bank Mandiri dengan Employee Development Program, dan Gojek dengan Life at Gojek.

Dominasi Klaim

Dari sisi klaim, penyakit infeksi usus dan demam berdarah menjadi kontributor biaya rawat inap terbesar, sementara infeksi saluran pernapasan atas mendominasi klaim rawat jalan dengan porsi lebih dari 20%.

Namun, penyakit tidak menular seperti kanker, tumor, dan gangguan tulang belakang tetap menjadi penyumbang biaya tinggi, mencerminkan pergeseran beban kesehatan jangka panjang di Indonesia.

Rata-rata biaya rawat inap tercatat Rp23,3 juta pada 2024 dengan lama perawatan sekitar tiga hari, sedangkan rawat jalan mencapai Rp1,3 juta per kunjungan.

Dari struktur biaya rawat inap (non-bedah), komponen biaya aneka (obat-obatan, alat medis, dll) menyumbang porsi terbesar mencapai 66% disusul biaya kamar & makan sebesar 20%, sisanya biaya dokter, ICU/ICCU, dan lain-lain masing-masing sebesar 6%, 2$, dan 7%.

Perawatan medis Indonesia di Rawat Inap dan Rawat Jalan masing-masing memiliki tingkat morbiditas sebesar 8,5% dan 65,9%. Sebanyak 19,7% kasus Rawat Inap di Indonesia memerlukan tindakan bedah, yang menimbulkan biaya lebih tinggi dari rata-rata.

Biaya rata-rata yang dibutuhkan untuk rawat inap non-bedah adalah Rp18,2 juta dan untuk rawat inap bedah biaya Rp45,0 juta. Wilayah geografis dan jenis dokter (GP/Spesialis) akan mempengaruhi biaya rawat jalan. Biaya rawat jalan adalah Rp1,3 juta dan biaya GP rata-rata Rp209.000 dan Spesialis Rp316.000.

Lebih lanjut, Mercer menilai perusahaan dapat mengendalikan biaya kesehatan melalui pendekatan preventif, termasuk skrining kesehatan, manajemen penyakit kronis, program berhenti merokok, serta peningkatan literasi kesehatan karyawan.

Dengan kombinasi tekanan biaya, perubahan regulasi, dan tuntutan kesejahteraan pekerja, desain manfaat kesehatan diproyeksikan semakin selektif tetapi strategis dalam beberapa tahun ke depan.

(ach/ach)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research