REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Ribuan pengunjung memadati area atrium Lombok Epicentrum Mall pada Jumat (10/7/2026) siang. Belasan stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari berbagai provinsi di kawasan timur Indonesia memamerkan sekaligus menjajakan beragam produk lokal khas daerah masing-masing.
Aktivitas perbincangan dan transaksi tampak menggeliat antara pengunjung dan pelaku UMKM sehingga menghidupkan suasana Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (Fesyar KTI) 2026.
Fesyar KTI 2026 digelar di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 10-12 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
Mengusung tema "Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital", Fesyar KTI 2026 diharapkan semakin menguatkan ekosistem halal regional. Selain memperkuat industri ekonomi dan keuangan syariah, kegiatan tersebut juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
"Fesyar KTI ini adalah bagian dari satu rangkaian besar, di mana kami memberikan kesempatan kepada para UMKM binaan BI untuk terus meningkatkan kualitasnya bersama-sama," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Fesyar KTI 2026 di Lombok Epicentrum Mall, Mataram, NTB, Jumat (10/7/2026).
Destry mengungkapkan Fesyar KTI merupakan agenda penting karena besarnya peluang pengembangan sektor ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Mengutip laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Indonesia juga menduduki peringkat pertama sektor modest fashion, peringkat kedua sektor pariwisata ramah muslim, serta peringkat ketiga sektor makanan halal (halal food) serta media dan rekreasi (media and recreation).
"Jadi, peringkat kita dominan. Tetapi kita masih banyak kekurangan. Ekonomi dan keuangan syariah harus ditingkatkan. Terutama sektor keuangan syariah, ini harus diakselerasi, tentunya dengan memanfaatkan teknologi digital yang selama ini ada," ujarnya.
Di samping itu, pertumbuhan sektor Halal Value Chain (HVC) pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 6,21 persen, meliputi sektor makanan dan minuman halal, pertanian, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,6 persen.
"Tetapi kontribusinya (HVC) masih rendah, sekitar 27 persen. Jadi, ini adalah ruang di mana kita bisa terus meningkatkannya," ujar Destry.
Destry mencontohkan pembiayaan sektor keuangan syariah yang masih tumbuh pada kisaran tujuh persen dari total pembiayaan perbankan. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah karena didukung sumber daya alam, populasi muslim yang besar, serta bonus demografi.
Ia menekankan ekonomi dan keuangan syariah memiliki nilai universal yang tidak hanya ditujukan bagi umat Islam, tetapi juga dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat.
"Konsep syariah adalah universal, dan nilai-nilai syariah benar-benar berada dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, inklusif. Apa pun bentuknya, pembangunan ekonomi maupun penciptaan produk harus inklusif sehingga semua pihak dapat merasakan manfaatnya," kata Destry.
Ia menjelaskan nilai kedua adalah keberlanjutan (sustainable), ketiga keadilan (fairness), sedangkan yang keempat adalah stabilitas karena setiap transaksi memiliki underlying asset.
"Karena semua transaksi harus memiliki dasar (underlying asset), instrumen keuangan syariah relatif lebih stabil dibandingkan instrumen konvensional," jelasnya.
Destry menegaskan empat nilai tersebut menjadi landasan BI dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah melalui Fesyar.
Target Transaksi Rp 1,5 Miliar
Destry menjelaskan BI mengusung empat program unggulan dalam Fesyar 2026, yakni Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan (AKBAR), Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal (AMANAH), Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor (BARAKAH), serta Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf (MAHAR).
Selain itu, BI menjalankan tiga langkah utama, yakni memperluas akses pembiayaan, meningkatkan literasi ekonomi syariah, dan memanfaatkan platform digital untuk keuangan sosial syariah.
"Setiap acara harus memiliki target. Tidak boleh hanya seremonial. Di sini ada 19 UMKM KTI, dan kami menargetkan transaksi Rp 1,5 miliar serta business matching hingga Rp 11 miliar," ungkapnya.

1 day ago
6















































