Badai Global Hantam Kripto, Awal Kejatuhan Panjang Bitcoin?

5 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

24 February 2026 13:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset berisiko saat ini sedang menghadapi tekanan jual yang terstruktur, menyeret harga Bitcoin (BTC) turun hingga menyentuh kisaran level $63.000.

Penurunan ini merupakan akumulasi dari respons pasar terhadap berbagai dinamika makroekonomi global, mulai dari perubahan kebijakan di Amerika Serikat, sinyal peringatan dari sektor perbankan tradisional, hingga melambatnya laju pemulihan ekonomi di China.

Di sisi lain, peningkatan harga komoditas logam mulia seperti emas dan perak mengonfirmasi tingginya tingkat ketidakpastian di pasar keuangan global, yang mendorong aliran modal menuju aset pelindung nilai fundamental.

Putusan MA AS dan Potensi Technical Rebound Jangka Pendek

Katalis utama dari koreksi harga Bitcoin baru-baru ini adalah keputusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif impor usulan Presiden Donald Trump. Secara fundamental, pembatalan tarif ini meredakan ekspektasi inflasi di masa depan.

Ketika ekspektasi inflasi menurun, urgensi investor institusi untuk memegang Bitcoin sebagai lindung nilai (inflation hedge) turut berkurang, sehingga memicu aksi jual berkelanjutan. Selain itu, putusan ini memberikan sinyal hambatan pada agenda politik pemerintahan saat ini yang sebelumnya dianggap sangat pro-kripto.

Posisi MicroStrategy dan Dampak Psikologis Pasar

Penurunan harga yang konsisten di bawah level $70.000 ini secara resmi menempatkan portofolio Bitcoin milik MicroStrategy dan Michael Saylor ke dalam posisi floating loss.

Dengan harga rata-rata pembelian di level $76.020 portfolionya tengah mengalami penurunan sebesar US$ 9,21 miliar, kerugian yang belum terealisasi dari entitas korporasi terbesar tersebut tengah menjadi sorotan pelaku pasar.

Walaupun demikian, penting untuk dicatat bahwa struktur fundamental perusahaan tersebut tetap solid. Mayoritas instrumen yang digunakan MicroStrategy untuk mengakumulasi Bitcoin adalah convertible notes atau surat utang konversi jangka panjang dengan tingkat bunga yang sangat rendah.

Struktur pembiayaan ini tidak memicu mekanisme margin call harian yang dapat memaksa perusahaan melikuidasi kepemilikan Bitcoin mereka secara tiba-tiba. Tekanan yang terjadi saat ini murni merupakan kepanikan psikologis di kalangan investor ritel yang merespons negatif posisi portofolio entitas institusional.

Saylor TrackerFoto: Saylor Tracker

Peringatan Wall Street dan Ancaman Pasar Repo AS

Kondisi makroekonomi domestik Amerika Serikat memancarkan sinyal kehati-hatian yang tinggi. CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, secara terbuka menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi ekonomi AS saat ini.

Ia menyoroti tingginya harga aset dan agresivitas persaingan perbankan yang memiliki kemiripan dengan periode sebelum krisis keuangan tahun 2008. Dimon secara spesifik memperingatkan potensi gagal bayar pada pinjaman korporasi, terutama di sektor chips dan AI yang saat ini dinilai overvalued.

Di balik layar, pasar keuangan AS juga sedang menghadapi tantangan likuiditas pada pasar Repo. Walaupun suplai uang beredar secara teoritis meningkat, kebijakan pengetatan kuantitatif (Quantitative Tightening/QT) yang dijalankan The Fed telah menyerap likuiditas riil dari sistem perbankan.

Calon ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, dikenal memiliki pandangan pro-QT yang berpotensi mempertahankan tekanan likuiditas ini. Namun, dengan data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal keempat yang melambat di angka 1,4%, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat semakin sempit.

Jika krisis likuiditas di pasar Repo semakin memburuk, bank sentral kemungkinan besar akan dipaksa untuk membatalkan QT dan menyuntikkan likuiditas darurat, sebuah langkah yang di masa depan dapat menjadi katalis utama bagi pemulihan harga Bitcoin.

Dilema Kebijakan Moneter China

Tekanan terhadap aset berisiko juga diperberat oleh kondisi makroekonomi di Asia. Bank sentral China (People's Bank of China/PBOC) memutuskan untuk menahan suku bunga utama pinjaman 1 tahun dan 5 tahun masing-masing di level 3% dan 3,5%.

Keputusan ini diambil di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,5% secara tahunan pada kuartal terakhir tahun lalu, serta tren deflasi yang telah berlangsung selama 11 kuartal berturut-turut.

Di sisi nilai tukar, mata uang Yuan terus mengalami apresiasi, menguat dari level 6,974 menjadi 6,889 per dolar AS sejak awal tahun. PBOC saat ini sedang menavigasi keseimbangan yang sulit antara menopang pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga stabilitas mata uang serta Margin Bunga Bersih (NIM) perbankan mereka.

Keputusan untuk menahan suku bunga menunjukkan bahwa otoritas moneter China belum akan menyuntikkan likuiditas baru secara masif ke pasar global dalam waktu dekat, yang berarti absennya katalis eksternal dari negara terbesar di Asia untuk mendorong harga aset kripto.

Outlook Pasar

Divergensi arah pergerakan aset saat ini, di mana emas dan perak melanjutkan tren penguatan di saat aset kripto terkoreksi, mengkonfirmasi bahwa investor institusional sedang menerapkan strategi risk-off untuk berlindung dari ketidakpastian global. Bagi pasar Bitcoin, ini menandakan bahwa siklus penyesuaian harga masih akan berlangsung lebih lama.

Meskipun penurunan akibat pembatalan tarif terjadi cukup tajam, pergerakan harga saat ini membuka peluang terjadinya momentum buy on weakness berskala kecil tambahan. Pasar berpotensi mengalami technical rebound sementara dari level $57.000 -$58.000 ke level $63.500 -$65.000.

Kenaikan jangka pendek ini merupakan respons teknikal wajar sebelum harga kembali melanjutkan struktur penurunannya menuju target utama siklus 4 tahunan pergerakan harga Bitcoin.

Pergerakan Harga Bitcoin Sejak 2014Foto: Pergerakan Harga Bitcoin Sejak 2014

Melihat pada struktur siklus empat tahunan secara historis, rentang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik terendah biasanya memakan waktu sekitar 350 hingga 400 hari sejak titik tertinggi. Dengan asumsi puncak siklus (cycle top) terjadi pada 6 Oktober 2025, maka titik dasar siklus (cycle bottom) diproyeksikan baru akan terbentuk pada Kuartal III atau Kuartal IV tahun 2026.

Sejalan dengan proyeksi tersebut, maximum capital deployment perlu direvisi secara konservatif. Dari target sebelumnya di area $40.000 hingga $50.000, rentang akumulasi utama diturunkan menjadi proyeksi $40.000 hingga $45.000 pada cycle bottom kali ini.

Strategi terbaik bagi investor saat ini adalah mempertahankan posisi likuiditas (wait and see). Sementara bagi pemegang aset yang saat ini menanggung kerugian (floating loss), disarankan untuk menghindari aksi jual panik.

Posisi tersebut dapat dikelola dengan menunggu hingga harga menyentuh target fundamental di kuartal ketiga nanti untuk melakukan strategi average down, sehingga mempercepat pencapaian balik modal ketika siklus pasar bullish yang baru resmi dimulai.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research