Australia Soroti Kegagalan Platform Digital Tangani Pemerasan Seksual Daring

1 day ago 5

Ilustrasi mengawasi media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Platform media sosial dinilai masih gagal memberikan perlindungan yang memadai terhadap anak-anak dan remaja dari ancaman pemerasan seksual (sextortion). Pengawas keamanan daring pemerintah Australia mengungkapkan masih banyak celah dalam sistem perlindungan yang diterapkan perusahaan-perusahaan teknologi besar.

Dalam laporan yang dirilis Komisioner Keamanan Daring Australia (eSafety Commissioner) pada Selasa, tercatat lebih dari 2.000 warga Australia melaporkan kasus pemerasan seksual selama enam bulan terakhir 2025. Korban terbanyak berasal dari kelompok laki-laki berusia 18 hingga 24 tahun, sementara remaja berusia lebih muda juga semakin sering menjadi sasaran pelaku.

Sesuai ketentuan hukum di Australia, perusahaan teknologi seperti Apple, Google, Meta, dan Microsoft diwajibkan menyampaikan laporan kepada eSafety setiap enam bulan mengenai langkah-langkah yang mereka lakukan untuk menangani eksploitasi seksual anak dan penyebaran materi pelecehan seksual di platform masing-masing.

Namun, hasil evaluasi terbaru menemukan adanya "kesenjangan signifikan" dalam upaya perlindungan tersebut.

Menurut laporan itu, sejumlah platform belum memanfaatkan teknologi secara optimal, seperti perangkat analisis bahasa yang mampu mendeteksi pola percakapan atau skrip manipulatif yang biasa digunakan pelaku untuk memeras korban. Selain itu, beberapa platform juga dinilai belum menyediakan mekanisme pelaporan kasus pemerasan seksual yang mudah diakses pengguna.

Komisioner Keamanan Siber Australia Julie Inman Grant mengatakan pemerasan seksual kini semakin banyak menyasar laki-laki muda. Modus yang digunakan pelaku umumnya dengan membujuk korban mengirimkan foto atau video intim, kemudian mengancam akan menyebarkannya apabila korban tidak membayar sejumlah uang.

"Kami sangat prihatin terhadap dampak buruk pemerasan seksual, yang tidak hanya menyasar individu rentan, tetapi juga menimbulkan konsekuensi psikologis dan emosional yang mendalam bagi korban maupun keluarga mereka," ujar Inman Grant dalam pernyataannya.

Ia menambahkan, kantornya telah berulang kali memberikan panduan kepada platform digital mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah kejahatan tersebut. Namun, menurut dia, respons yang diberikan perusahaan teknologi masih jauh dari memadai.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research