Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 April 2026 10:49
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang negara-negara Asia cukup beragam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (1/4/2026). Di saat dolar AS yang melemah setelah dorongan safe haven mulai mereda di tengah sinyal terbaru soal kemungkinan meredanya perang AS-Iran.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 10.15 WIB, dari 11 mata uang Asia, lima mata uang diantaranya tengah mengalami penguatan sementara enam mata uang lainnya justru melemah terhadap greenback.
Penguatan paling besar dipimpin peso Filipina yang naik 0,43% ke level PHP 60,28/US$. Ringgit Malaysia menyusul menguat 0,40% ke MYR 4,03/US$, sementara yuan China naik 0,23% ke CNY 6,88/US$.
Penguatan juga terlihat pada dolar Taiwan yang menguat 0,18% ke TWD 31,88/US$, serta dolar Singapura yang naik 0,06% ke SGD 1,28/US$. Yen Jepang turut berada di zona hijau dengan penguatan tipis 0,05% ke JPY 158,63/US$.
Baht Thailand menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,40% ke THB 32,69/US$, disusul rupee India dan dong Vietnam yang sama-sama turun 0,18%, masing-masing ke INR 93,62/US$ dan VND 26.370/US$. Won Korea Selatan melemah 0,16% ke KRW 1.508,6/US$.
Di sisi lain, rupiah masih tertekan setelah melemah 0,15% ke level Rp17.015/US$. Dengan posisi tersebut, mata uang Garuda resmi menembus level psikologis Rp17.000/US$, yang sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa secara intraday di pasar spot.
Arah pergerakan ini sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS (DXY). Pada saat yang sama, DXY tercatat turun 0,17% ke level 99,793, menandakan dorongan penguatan dolar AS mulai mereda setelah sebelumnya diburu sebagai aset aman sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Dolar AS sempat mendapat dukungan safe haven karena perang AS dan Israel melawan Iran memicu lonjakan harga energi.
Namun, sentimen tersebut mulai melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer AS terhadap Iran bisa berakhir dalam dua hingga tiga pekan.
Pernyataan ini muncul setelah laporan Wall Street Journal menyebut Trump bahkan bersedia mengakhiri kampanye militer meski Selat Hormuz masih relatif tertutup dan belum jelas bagaimana jalur itu akan dibuka kembali.
Pada akhirnya, pelemahan dolar AS pagi ini membuka ruang bagi sebagian mata uang Asia untuk menguat. Namun, karena ketidakpastian konflik dan arah kebijakan AS masih tinggi, pergerakan mata uang Asia pun tetap cenderung bervariasi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google












































