Angka Pertumbuhan Naik, Tapi Kenapa Dompet Kita Makin Tipis?

9 hours ago 7

Image 07-07_Nabila Numa Salsabila

Bisnis | 2026-07-06 21:56:15


Oleh: Nabila Numa Salsabila, Mahasiswa Universitas Airlangga

Angka Pertumbuhan Boleh Naik, Tapi Kenapa Dompet Kita Terasa Makin Tipis?

Ilustrasi. Aktivitas belanja kebutuhan pokok di supermarket, di tengah sorotan pertumbuhan ekonomi nasional yang belum sepenuhnya terasa di level rumah tangga.

Ada semacam ironi yang setiap kali saya baca berita ekonomi, selalu membuat saya mengernyitkan dahi. Di satu sisi, angka-angka resmi bicara optimis: pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran lima persen, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, konsumsi rumah tangga stabil, investasi terus mengalir. Di sisi lain, saya dan mungkin banyak dari kita justru merasakan hal yang berlawanan: uang bulanan yang dulu cukup, sekarang terasa lebih cepat habis; harga kebutuhan sehari-hari yang naik diam-diam; dan kabar rupiah yang melemah, suku bunga yang dinaikkan, subsidi energi yang membengkak.

Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: kalau ekonomi memang bertumbuh, kenapa yang bertumbuh terasa bukan kesejahteraan kita?

Statistik yang Terasa Jauh dari Meja Makan

Pertumbuhan ekonomi memang penting sebagai indikator makro, tapi ia sering gagal menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di level rumah tangga. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dampaknya bukan hanya dirasakan investor atau pelaku pasar, ia merambat sampai ke biaya kredit usaha kecil, sampai ke cicilan yang tiba-tiba lebih berat, sampai ke harga barang yang komponen bahan bakunya diimpor.

Di sisi lain, ketika harga energi dunia naik dan pemerintah berusaha menahan gejolaknya lewat subsidi, ruang fiskal yang tersedot ke sana berarti ruang yang makin sempit untuk hal-hal yang mungkin lebih langsung menyentuh masyarakat kecil: pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.

Sebagai mahasiswa, saya termasuk kelompok yang paling rentan terhadap kesenjangan ini. Uang saku yang jumlahnya sama dari bulan ke bulan tidak pernah benar-benar “sama nilainya” ia terus tergerus pelan-pelan oleh inflasi yang mungkin terlihat kecil di laporan resmi, tapi nyata sekali ketika saya membandingkan struk belanja bulan ini dengan bulan lalu.

Ketika Pertumbuhan Tidak Otomatis Berarti Pemerataan

Yang paling mengusik saya bukan soal apakah data pertumbuhan itu benar atau tidak, saya percaya angka-angka itu valid secara teknis. Yang mengusik saya adalah asumsi yang sering diam-diam kita telan begitu saja: bahwa pertumbuhan ekonomi otomatis berarti kesejahteraan yang merata. Padahal, pertumbuhan bisa saja ditopang oleh sektor-sektor yang keuntungannya berputar di lingkaran terbatas, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah justru menanggung ongkos stabilisasi dari kebijakan yang diambil untuk menjaga angka itu tetap terlihat baik di atas kertas.

Ironisnya, kelompok yang paling banyak bicara soal pentingnya menjaga kepercayaan investor dan stabilitas makroekonomi, jarang yang secara terbuka membahas bagaimana ongkos dari stabilitas itu didistribusikan. Siapa yang menanggung kenaikan biaya pinjaman? Siapa yang menanggung penyesuaian harga bahan bakar? Kalau jawabannya selalu “masyarakat luas menyesuaikan diri,” maka pertumbuhan ekonomi berisiko menjadi narasi yang nyaman untuk dilaporkan, tapi tidak benar-benar dirasakan.

Kritis Bukan Berarti Sinis

Saya tidak menulis ini untuk menyangkal bahwa ekonomi Indonesia punya banyak pencapaian yang patut diakui. Tapi sebagai mahasiswa yang sedang belajar berpikir kritis, saya merasa penting untuk tidak berhenti di angka-angka yang dilaporkan pemerintah maupun lembaga internasional, dan mulai bertanya: siapa yang paling merasakan manfaat dari pertumbuhan ini, dan siapa yang justru menanggung biayanya secara diam-diam?

Generasi muda, termasuk saya, seringkali menjadi kelompok yang paling banyak menerima dampak kebijakan ekonomi tanpa punya banyak ruang untuk ikut menentukannya. Kita membaca berita pertumbuhan dengan perasaan campur aduk: bangga sebagai bagian dari bangsa yang secara statistik terus maju, tapi juga gelisah karena kemajuan itu belum selalu terasa di kantong sendiri.

Barangkali yang kita butuhkan bukan sekadar pertumbuhan yang tinggi, melainkan pertumbuhan yang berani ditelusuri sampai ke level yang paling personal sampai ke meja makan, ke uang saku mahasiswa, ke cicilan usaha kecil milik orang tua kita. Sampai kita bisa merasakan sendiri bahwa angka di layar berita, benar-benar berubah menjadi rasa aman di dompet kita.

Penulis adalah mahasiswa Universitas Airlangga. Esai ini ditulis sebagai bagian dari tugas penulisan artikel opini Mata Kuliah Logika dan Pemikiran Kritis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research