- Pasar keuangan bergerak beragam, bursa saham melemah tetapi sebaliknya rupiah mulai membaik
- Wall Street pesta pora dengan kompak menguat
- Pertemuan Davos, uang beredar hingga data ekonomi AS akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi jeblok, obligasi juga masih dijual investor, tetapi rupiah sudah mulai menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan berat karena banyaknya tekanan global. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.
IHSG pada penutupan perdagangan Kamis kemarin (22/1/2026) terkoreksi 0,2% atau 18,15 poin ke level 8.992,18. Padahal, pada sesi pertama, IHSG sempat menguat sampai 1% lebih.
Sebanyak 360 saham naik, 353 turun, dan 245 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 37,94 triliun, melibatkan 68,58 miliar saham dalam 3,99 juta kali transaksi.
Tercatat ada tiga saham yang kena tekanan jual besar. Bumi Resources (BUMI), saham yang paling banyak ditransaksikan kemarin terkena net sell Rp 1,01 triliun. BUMI tercatat anjlok 9,8% ke level 348. Mengutip Refinitiv, BUMI menjadi pemberat utama indeks kemarin dengan bobot 9,86 indeks poin.
Selain itu, emiten Prajogo Pangestu, yakni Petrosea (PTRO) yang turun 12,9% ke level 10.775 terkena net sell Rp 242,6 miliar. PTRO juga membebani indeks secara signifikan dengan bobot 9,96 indeks poin.
Lalu emiten Bakrie lainnya, Darma Henwa (DEWA) membukukan net sell Rp 266,1 miliar dan turun 9,5% ke level 665. Dewa menyeret IHSG turun dengan bobot 4,4 indeks poin.
Sementara itu, modal asing kembali mengalir keluar sampai Rp964, 14 miliar. di pasar reguler. Bank Central Asia (BBCA) kembali menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, yakni Rp 613,7 miliar.
Kemudian diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI) Rp 170,6 miliar dan Petrosea (PTRO) Rp 161,7 miliar.
Adapun berbeda dengan IHSG, rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin.
Merujuk data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.880/US$ atau menguat 0,30% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sebagai catatan, pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah juga ditutup menguat 0,09% di level Rp16.930/US$.
Rupiah sejatinya sudah menguat sejak pembukaan pagi hari kemarin, dengan apresiasi 0,18% di posisi Rp16.900/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.920-Rp16.875/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB kemarin terpantau relatif stabil di level 98,769, tidak jauh berbeda dari penutupan sebelumnya di 98,761.
Penguatan rupiah terjadi seiring respons lanjutan pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan kemarin, Rabu (21/1/2026). Dengan keputusan ini, BI tercatat sudah empat kali beruntun mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% sejak September 2025.
Keputusan tersebut dinilai membantu menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah, sehingga menopang stabilitas nilai tukar di tengah tekanan yang sempat membayangi rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar global cenderung lebih tenang setelah Presiden AS Donald Trump meredakan tensi kebijakan dengan menarik kembali ancaman tarif dan menegaskan tidak akan mengambil Greenland dengan kekuatan.
Pernyataan ini mendorong minat terhadap aset berisiko seperti saham, sementara permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas mulai berkurang.
Kondisi risk-on tersebut umumnya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil. Meski demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati karena arah kebijakan AS dinilai masih bisa berubah cepat.
Sementara itu, dari pasar obligasi terpantau masih terjadi aksi jual lagi, tercermin dari yield obligasi acuan RI tenor 10 tahun (ID10Y) yang mengalami kenaikan.
Melansir data Refinitiv, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pada penutupan kemarin Kamis mengalami kenaikan 0,38 basis poin menjadi 6,36%.
Perlu dipahami, yield dan harga pada surat utang itu geraknya berlawanan arah. Jadi, ketika yield naik lagi, artinya harga terkoreksi yang mengindikasikan sedang banyak aksi jual.













































