Adu Kuat Manufaktur ASEAN: RI Terendah, Disalip Malaysia!

15 hours ago 18

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

02 April 2026 11:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur negara-negara di ASEAN masih bertahan di zona ekspansi pada Maret 2026. Namun, laju mulai melambat seiring dengan meningkatnya tekanan harga dan terganggunya rantai pasok akibat perang di Timur Tengah.

Menurut laporan S&P Global untuk periode Maret 2026, PMI Manufaktur ASEAN turun menjadi 51,8 dari 53,8 pada bulan Februari.

Mesk masih berada di atas level 50 yang menandakan ekspansi, angka tersebut menjadi yang terendah dalam enam bulan terakhir. S&P juga mencatat pertumbuhan output dan pesanan baru masih berlanjut, tetapi lajunya melambat. Sementara tekanan harga melonjak ke level tertingginya sejak Oktober 2022.

Sebagai catatan, PMI manufaktur merupakan indikator yang digunakan untuk melihat kondisi aktivitas industri. Secara umum, angka di atas 50 menandakan sektor manufaktur sedang berkembang atau ekspansi, sedangkan di bawah 50 berarti sedang mengalami kontraksi.

Maryam Baluch, Ekonom di S&P Global Market Intelligence, mengatakan tanda-tanda awal dampak perang di Timur Tengah mulai terlihat di berbagai negara ASEAN. Dampaknya terasa pada permintaan, produksi, hingga kepercayaan pelaku usaha. Namun, tekanan yang paling terlihat datang dari kenaikan harga.

Thailand Jadi Yang Terkuat, Negara Lain Mulai Kehilangan Tenaga

Di antara negara-negara ASEAN, Thailand masih mencatatkan manufaktur paling kuatnya. PMI ManufakCtur Negara Gajah Putih tersebut naik menjadi 54,1 pada Maret dari 53,5 pada bulan sebelumnya.

Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan pesanan baru yang semakin cepat dan produksi yang masih tumbuh cukup kuat. Meski demikian, kepercayaan pelaku usaha di Thailand mengalami penurunan tajam ke level terendah dalam empat setengah setengah akibat ketakutan dampak perang di Timur Tengah.

Selain itu, Myanmar juga masih mencatatkan ekspansi dengan PMI sebesar 51,5 atau tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, Filipina dan Vietnam masih berada di zona ekspansi, namun keduanya menunjukkan perlambatan yang cukup tajam. PMI manufaktur Filipina turun menjadi 51,3 pada Maret dari 54,6 pada Februari. Perlambatan ini dipicu oleh melemahnya pelanggan, melemahnya pesanan ekspor, serta hilangnya biaya energi dan bahan baku.

S&P menilai perang di Timur Tengah mulai menekan permintaan dan mengurangi beban biaya industri Filipina.

Sedangkan Vietnam mencatat PMI sebesar 51,2, turun dari 54,3 pada bulan Februari. Meski masih ekspansi, laju pertumbuhannya menjadi paling lemah sejak September tahun lalu.

Tekanan utama datang dari penyediaan harga input, terutama akibat kenaikan biaya transportasi, bahan bakar, dan transportasi. Bahkan, harga jual produk manufaktur Vietnam naik pada laju tercepat dalam hampir 15 tahun.

Di sisi lain, Malaysia justru berhasil kembali ke zona ekspansi. PMI manufaktur Malaysia naik menjadi 50,7 pada Maret dari 49,3 pada Februari. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan output dan penambahan tenaga kerja.

Meski begitu, kondisi permintaan masih belum kuat karena pesanan baru kembali menurun, sementara tekanan harga dan gangguan pasokan mulai meningkat akibat perang AS-Iran.

PMI RI Paling Rendah di ASEAN

Untuk Indonesia, aktivitas manufaktur masih bertahan di zona ekspansi, namun nyaris stagnan. PMI Manufaktur Indonesia turun tajam menjadi 50,1 pada Maret 2026 dari 53,8 pada Februari.

Capaian ini menunjukkan industri nasional masih tumbuh, tetapi sangat tipis dan jauh lebih lemah dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan, angka tersebut menjadi yang terendah sejak Juli 2025 atau dalam delapan bulan terakhir

Dibandingkan negara-negara ASEAN lain, posisi Indonesia menjadi yang paling bawah. Indonesia berada di bawah Thailand, Myanmar, Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Artinya, meski belum masuk zona kontraksi, tekanan terhadap sektor manufaktur Indonesia terlihat lebih besar dibandingkan sejumlah negara tetangga.

S&P Global mencatat pada bulan Maret terjadi kembali penurunan output dan pesanan baru di Indonesia. Produksi turun setelah sebelumnya sempat tumbuh selama empat bulan berturut-turut. Pesanan baru juga kembali melemah untuk pertama kali dalam delapan bulan.

Sejumlah perusahaan menyebutkan gangguan pasokan bahan baku dan kenaikan harga bahan, yang sebagian memicu perang di Timur Tengah, ikut menekan permintaan dan produksi.

Usamah Bhatti, Ekonom di S&P Global Market Intelligence, mengatakan pelemahan manufaktur Indonesia pada akhir kuartal I-2026 terutama dipicu oleh pecahnya perang di Timur Tengah. Menurutnya, perang tersebut memberi tekanan besar terhadap harga dan pasokan bahan baku, sehingga mengganggu produksi sekaligus permintaan.

Dia juga menilai data Maret yang menampilkan sektor manufaktur Indonesia cukup rentan terhadap guncangan dari sisi harga dan pasokan.

Riset CNBC Indonesia

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research