Susi Setiawati, CNBC Indonesia
02 January 2026 09:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan 70 emiten yang saham-nya potensi delisting karena sudah digembok selama enam bulan atau lebih.
Berdasarkan peraturan Nomor I-N, suspensi berkepanjangan menjadi salah satu alasan kuat bagi bursa untuk menghapus pencatatan saham (delisting). Per tanggal 30 Desember 2025, suspensi efek atas perusahaan tercatat yang dimaksudkan di dalam pengumuman resmi BEI telah mencapai jangka waktu enam bulan atau lebih.
"Bursa meminta publik untuk mencermati informasi yang disampaikan oleh Perseroan dan memperhatikan potensi delisting ini," ungkap Vera Florida, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 1 BEI, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/12/2025).
Adapun berikut 70 emiten yang saham-nya potensial delisting :
Daftar ini bukan sekadar pengumuman administratif, melainkan cerminan tekanan struktural yang dihadapi sebagian emiten di pasar modal Indonesia, mulai dari persoalan likuiditas, kinerja keuangan, hingga keberlangsungan usaha.
Mayoritas saham dalam daftar tersebut telah mengalami suspensi berkepanjangan, bahkan tidak sedikit yang melewati dua hingga enam tahun tanpa perdagangan. Kondisi ini menandakan adanya masalah mendasar yang belum mampu dipulihkan oleh perusahaan, baik dari sisi operasional maupun tata kelola.
Bursa sendiri menegaskan bahwa delisting dapat dilakukan apabila tidak terdapat indikasi pemulihan yang memadai, perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan pencatatan, atau suspensi berlangsung minimal 24 bulan.
Jika ditarik dari sisi sektoral, properti dan real estate menjadi kontributor terbesar dalam daftar ini. Tekanan siklus panjang di sektor properti, tingginya beban utang, serta lemahnya arus kas membuat banyak emiten kesulitan memenuhi kewajiban dan keterbukaan informasi.
Di sisi lain, sektor energi dan basic materials juga menyumbang jumlah signifikan, terutama dari emiten dengan skala kecil yang terdampak volatilitas harga komoditas dan keterbatasan pendanaan.
Tak kalah mencolok, sejumlah emiten consumer cyclicals dan infrastructure ikut terseret. Beberapa di antaranya merupakan nama lama di bursa yang sempat berjaya, namun gagal beradaptasi dengan perubahan model bisnis dan struktur pembiayaan.
Suspensi yang berlarut-larut mempersempit ruang manuver, karena saham tidak dapat diperdagangkan, sementara kepercayaan investor terus tergerus.
Menariknya, tidak semua saham dalam daftar ini berada pada fase akhir. Sebagian emiten masih mencatat lama suspensi di bawah satu tahun, yang berarti secara teknis masih memiliki peluang untuk melakukan pemulihan, baik melalui restrukturisasi utang, aksi korporasi, peningkatan free float, maupun perbaikan kinerja keuangan. Namun, bagi emiten dengan suspensi di atas 60 bulan, risiko delisting permanen semakin nyata dan sulit dihindari.
Bagi investor, daftar 70 saham ini menjadi pengingat penting bahwa risiko di pasar modal tidak hanya datang dari fluktuasi harga, tetapi juga dari risiko eksistensial emiten. Saham yang terlalu lama disuspensi berpotensi kehilangan nilai investasi secara permanen jika akhirnya dihapuskan dari papan bursa.
Oleh karena itu, disiplin dalam menilai likuiditas, keterbukaan informasi, dan kesehatan fundamental perusahaan menjadi kunci utama dalam pengelolaan portofolio.
Ke depan, pengumuman potensi delisting ini juga bisa menjadi momentum pembersihan pasar. Dengan menyingkirkan emiten-emiten yang tidak lagi memenuhi standar, bursa diharapkan dapat meningkatkan kualitas keseluruhan pasar dan memperkuat kepercayaan investor.
Namun di saat yang sama, proses ini menuntut kehati-hatian ekstra dari investor ritel agar tidak terjebak pada saham-saham yang tampak murah, tetapi menyimpan risiko delisting yang besar.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)














































