20 Tradisi Katolik yang Tak Tertulis dalam Alkitab: Ada Pengakuan Dosa

11 hours ago 1

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

03 April 2026 17:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Jutaan umat dalam Gereja Katolik kerap mendaraskan rosario, menandai dahi dengan abu pada masa pra Paskah, berlutut di hadapan relikui, hingga membuat tanda salib. Praktik-praktik ini terasa begitu melekat dalam kehidupan iman Katolik.

Namun, jika ditelusuri secara tekstual, banyak di antaranya tidak ditemukan secara eksplisit dalam Alkitab. Hal ini bukan berarti praktik tersebut keliru, melainkan membuka pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana tradisi-tradisi ini terbentuk, dan mengapa tetap dipertahankan hingga kini.

Melansir dari situs internasional oldest.org, berikut beberapa kebiasaan katolik yang tidak memiliki referensi langsung dalam Alkitab.

1. Rosario

Rosario berkembang pada Abad Pertengahan sebagai alternatif bagi umat yang tidak dapat membaca atau menghafal mazmur. Awalnya, umat awam yang tidak bisa membaca atau tidak punya waktu menghafal 150 mazmur mulai melafalkan 150 "Bapa Kami" atau "Salam Maria" sebagai gantinya.

Mereka menggunakan kerikil atau tali bersimpul untuk menghitung dan dari situlah Rosario lahir. Dari praktik sederhana inilah rosario modern terbentuk sebagai alat bantu doa yang terstruktur.

2. Purgatori

Purgatori atau api penyesuain tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alkitab, baik sebagai istilah maupun konsep yang utuh. Namun, gagasan tentang penyucian setelah kematian berkembang dari interpretasi teologis terhadap ayat-ayat tertentu. Konsep ini kemudian diformalkan melalui konsili gereja sebagai jawaban atas pertanyaan tentang nasib jiwa yang tidak sepenuhnya jahat maupun sepenuhnya suci.

3. Selibat Imam

Selibat imam bukan bagian dari praktik awal Kekristenan. Dalam periode gereja mula-mula, banyak pemimpin rohani yang berkeluarga. Namun seiring waktu, gereja menetapkan aturan selibat melalui berbagai konsili pada Abad Pertengahan, dengan alasan spiritual maupun praktis, termasuk menjaga fokus pelayanan dan menghindari konflik kepentingan.

4. Kanonisasi Santo

Kanonisasi santo awalnya tidak memiliki prosedur formal. Pada masa awal, seseorang dianggap santo berdasarkan pengakuan umat. Seiring berkembangnya institusi gereja, proses ini menjadi lebih sistematis dan ketat, melibatkan investigasi, verifikasi mukjizat, serta prosedur hukum gerejawi.

5. Masa Prapaskah

Masa Prapaskah (Lent) merupakan periode puasa selama 40 hari tidak langsung ditetapkan sejak awal. Praktik puasa bervariasi di berbagai komunitas sebelum akhirnya distandarisasi setelah Konsili Nicea. Angka 40 sendiri terinspirasi dari kisah puasa Yesus, namun bentuk praktiknya berkembang kemudian.

6. Asumsi Maria

Asumsi Maria merupakan keyakinan bahwa Maria diangkat ke surga secara jasmani dan rohani. Meskipun menjadi bagian penting dalam ajaran Katolik, tidak ada penjelasan langsung dalam Alkitab mengenai peristiwa ini. Ajaran ini berkembang dari tradisi lisan dan tulisan awal gereja sebelum akhirnya ditetapkan sebagai dogma resmi pada abad ke-20.

7. Rabu Abu

Rabu Abu tidak ditemukan sebagai hari liturgi dalam Alkitab, meskipun penggunaan abu sebagai simbol pertobatan memang disebutkan. Praktik menandai dahi dengan abu sebagai awal masa Prapaskah berkembang kemudian dan distandarisasi dalam tradisi gereja.

8. Baptisan Bayi

Baptisan bayi menjadi salah satu praktik yang sering diperdebatkan. Alkitab menyebut pembaptisan "seluruh rumah tangga", namun tidak secara eksplisit menggambarkan bayi dibaptis. Gereja Katolik memandang praktik ini sebagai bagian dari tradisi apostolik yang diwariskan dari generasi awal.

9. Tanda Salib

Tanda salib merupakan gestur yang sangat umum dalam Katolik, tetapi tidak ditemukan dalam bentuknya sekarang di dalam Alkitab. Praktik ini berkembang dari simbol sederhana pada abad-abad awal Kekristenan menjadi ekspresi iman yang luas digunakan dalam doa dan liturgi.

10. Dikandung Tanpa Noda

Dikandung Tanpa Noda (Immaculate Conception) sering disalahpahami sebagai kelahiran Yesus, padahal merujuk pada Maria yang diyakini lahir tanpa dosa asal. Doktrin ini tidak memiliki rujukan langsung dalam Alkitab dan berkembang melalui perdebatan teologis panjang sebelum ditetapkan secara resmi pada abad ke-19.

11. Sakrementali

Sakrementali seperti skapulir dan medali, berkembang sebagai simbol devosi dan perlindungan spiritual. Praktik ini tidak diperintahkan secara eksplisit dalam Alkitab, tetapi muncul dari tradisi, pengalaman religius, dan penglihatan yang dilaporkan oleh tokoh-tokoh gereja.

12. Air Suci di Pintu Gereja

Air suci di pintu gereja tidak dijelaskan dalam Kitab Suci sebagai praktik formal. Namun, penggunaannya berkembang sebagai simbol penyucian dan pembaruan iman, dengan akar yang terinspirasi dari tradisi penyucian dalam praktik keagamaan sebelumnya.

13. Penggunaan Patung Sebagai Simbol, Bukan Penyembahan

Penggunaan patung dan ikon menjadi ciri khas gereja Katolik, di hampir setiap gereja terdapat patung Maria, Yesus, dan para orang kudus, naum Alkitab juga memuat peringatan tentang penyembahan berhala. Gereja membedakan antara penyembahan kepada Tuhan dan penghormatan terhadap simbol atau tokoh suci, sementara penggunaan visual berkembang sebagai alat pengajaran di masyarakat yang belum melek huruf.

14. Pengakuan Dosa

Pengakuan dosa kepada imam berkembang menjadi sakramen formal seiring waktu. Meskipun Alkitab menyebutkan pentingnya pengakuan dosa, praktik pengakuan dalam bentuk terstruktur kepada imam merupakan hasil perkembangan institusional gereja.

Dalam praktiknya, sistem ini berkembang secara bertahap seiring pembentukan otoritas gereja dan teologi sakramental. Pengakuan yang awalnya bersifat publik perlahan berubah menjadi lebih personal, menekankan relasi individu dengan Tuhan melalui perantaraan imam.

15. Penggunaan Bahasa Latin dalam Liturgi

Penggunaan bahasa Latin dalam liturgi berasal dari konteks Kekaisaran Romawi, bukan dari instruksi Alkitab. Bahasa ini dipertahankan selama berabad-abad untuk menjaga kesatuan global gereja, meskipun bukan bahasa yang digunakan oleh Yesus maupun para rasul.

16. Kepausan Modern

Kepausan seperti yang dikenal saat ini berakar pada peran rasul Petrus, tetapi bentuk institusionalnya saat ini berkembang secara bertahap seiring pertumbuhan dan sentralisasi gereja. Struktur kepemimpinan yang terpusat, dengan otoritas global Paus, terbentuk secara bertahap seiring pertumbuhan gereja dan dinamika politik yang dihadapi. Dalam prosesnya, jabatan ini berevolusi menjadi simbol kesatuan dan otoritas tertinggi dalam Katolik.

17. Penggunaan Dupa dalam Misa

Penggunaan Dupa memiliki akar simbolik dalam tradisi keagamaan kuno, termasuk dalam Alkitab. Namun, cara penggunaannya dalam liturgi Katolik modern berkembang sebagai bagian dari estetika dan simbolisme ibadah.

18. Hari Raya Wajib (Holy Days of Obligation)

Hari raya wajib merupakan bagian dari kalender liturgi yang mengharuskan umat menghadiri misa di hari-hari tertentu selain hari Minggu. Penetapan hari-hari ini tidak ditemukan dalam Alkitab, melainkan muncul dari upaya gereja untuk menstrukturkan peringatan atas peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah iman.

19. Novena

Novena, yaitu praktik doa selama sembilan hari berturut-turut untuk intensi tertentu, tidak memiliki dasar eksplisit dalam Kitab Suci. Meskipun angka sembilan memiliki beberapa makna simbolik dalam tradisi, praktik ini berkembang sebagai bentuk devosi yang menekankan ketekunan dan disiplin spiritual.

20. Venerasi Relikui

Venerasi relikui atau penghormatan terhadap sisa-sisa jasad maupun benda milik orang kudus juga merupakan praktik yang berkembang dalam tradisi gereja. Alkitab memang mencatat beberapa kisah tentang benda yang memiliki makna spiritual, tetapi tidak mengatur secara sistematis penghormatan terhadap relikui.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research