Yuan Mau Naik Kelas? China Wajib Bongkar Sistem Keuangannya

1 day ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

22 April 2026 18:10

Jakarta, CNBC IndonesiaPenutupan Selat Hormuz dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah tak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga kembali mengangkat yuan China ke panggung global. Mata uang ini mulai dilirik lebih serius, meski belum cukup kuat untuk langsung menantang dolar AS.

Konflik di Timur Tengah membuat dominasi dolar kembali dipertanyakan, terutama dalam perdagangan minyak.

Sejak puluhan tahun lalu, minyak dunia nyaris identik dengan dolar AS. Sistem ini menguat sejak 1970-an, ketika AS dan Arab Saudi mencapai kesepakatan yang menjadikan dolar sebagai mata uang utama dalam transaksi minyak, dengan imbal balik aliran surplus ke aset-aset keuangan AS.

Kini, tatanan itu mulai kembali diuji. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan AS dan Israel serta langkah Iran menutup Selat Hormuz, memunculkan spekulasi bahwa negara-negara eksportir minyak bisa mulai mencari alternatif selain dolar.

Pembicaraan soal ini makin ramai setelah laporan Lloyd's List menyebut Iran mendorong pembayaran dalam yuan untuk kapal-kapal tanker. Bahkan, analis Deutsche Bank dalam catatan pada 24 Maret lalu menyebut konflik ini berpotensi menjadi "awal dari petroyuan".

Sebagai catatan, pergerakan yuan China dalam setahun terakhir terbilang cukup mengesankan.

Melansir Refinitiv, hingga penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026), yuan telah menguat sekitar 6,45% terhadap dolar AS dalam satu tahun terakhir.

Penguatan tersebut tercermin dari pergerakan kurs yuan yang naik dari sekitar CNY7,29/US$ menjadi CNY6,82/US$. Secara penalaran ekonomi, perkembangan ini tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya mengada-ada.

China adalah salah satu pembeli minyak terbesar di dunia. Maka, penggunaan mata uang negara pembeli terbesar untuk transaksi minyak tentu memiliki dasar ekonomi yang cukup kuat.

Selain itu, sebagian negara eksportir juga mulai memiliki alasan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar, terutama ketika gejolak geopolitik meningkat dan diversifikasi aset semakin dianggap penting.

Hambatan Terbesar Yuan Bukan di Perdagangan, Tapi di Pasar Keuangan

Kalau dilihat dari perdagangan, yuan memang makin punya ruang. Melansir dari Reuters, porsi transaksi dagang China yang diselesaikan menggunakan mata uangnya sendiri pada 2025 tercatat sekitar 13,7 triliun yuan atau setara US$2 triliun. Angka ini sekitar 27% dari total perdagangan China.

Untuk minyak mentah, nilai transaksi yang dihargai dalam yuan pada 2024 mencapai 1,1 triliun yuan. Namun, jumlah itu baru sekitar 6% dari total impor minyak China dari Timur Tengah. Jadi, meskipun narasi petroyuan makin sering muncul, skala penggunaannya sejauh ini masih relatif terbatas.

Yuan SettlementFoto: Reuters

Di sisi lain, sistem pembayaran lintas batas China, CIPS, yang kerap dipandang sebagai pesaing SWIFT, juga mencatat rekor transaksi harian sebesar 1,22 triliun yuan pada pekan lalu. Ini menunjukkan infrastruktur penggunaan yuan dalam transaksi internasional memang terus berkembang.

Tetapi, naiknya penggunaan yuan dalam perdagangan belum otomatis membuat mata uang itu siap menjadi tempat penyimpanan dana global.

Inilah hambatan paling besar. Negara eksportir mungkin saja bersedia menerima pembayaran dalam yuan. Namun setelah menerima yuan, pertanyaan berikutnya adalah di mana dana itu akan ditempatkan.

Untuk menjadi mata uang global, sebuah negara tidak cukup hanya punya volume perdagangan besar. Negara itu juga harus memiliki pasar keuangan yang dalam, likuid, mudah diakses, dan dipercaya untuk menampung arus dana besar dari luar negeri.

Di titik ini, China masih tertinggal. Sistem neraca modalnya belum sepenuhnya terbuka. Pasar keuangan domestiknya juga belum sebebas dan sedalam pasar dolar AS. Akibatnya, minat investor asing untuk menempatkan dana dalam aset yuan masih terbatas.

Sebagai gambaran, pasar obligasi pemerintah AS saja nilainya melampaui US$30 triliun.

Dana-dana dari kawasan Teluk bahkan memegang lebih dari US$300 miliar surat utang pemerintah AS. Pasar inilah yang selama ini menjadi "parkiran" utama bagi surplus negara-negara eksportir minyak.

China memang memiliki pasar obligasi yang besar, nilainya juga mendekati US$30 triliun jika menghitung obligasi pemerintah daerah dan korporasi. Namun, kepemilikan asing di pasar ini baru sekitar 1,7%.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar obligasi China belum benar-benar berfungsi sebagai rumah utama bagi modal global.

Karena itu, perjalanan yuan untuk naik kelas tidak cukup hanya dibantu oleh gejolak geopolitik atau oleh dorongan transaksi minyak.

Agar yuan lebih menarik, Beijing harus berani menjalankan reformasi keuangan yang lebih besar, mulai dari memperdalam pasar, meningkatkan likuiditas, hingga membuka akses yang lebih luas bagi investor asing.

Yuan Dinilai Murah

Di luar faktor perang, yuan secara fundamental masih dipandang terlalu murah atau undervalued.

Surplus transaksi berjalan resmi China pada tahun lalu tercatat mencapai US$735 miliar, atau sedikit di atas 3% dari produk domestik bruto (PDB). Nilai itu setara sekitar 30% dari total surplus transaksi berjalan global secara gabungan.

Sementara itu, surplus perdagangan resmi China mencapai US$1,2 triliun, sekitar 6% dari PDB, dan hampir setara 40% dari total surplus perdagangan dunia. Dalam nilai nominal, dua angka tersebut berada di rekor tertinggi.

Besarnya surplus ini membuat argumen bahwa yuan seharusnya lebih kuat menjadi cukup masuk akal.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan negaranya pada Februari juga menilai posisi eksternal China lebih kuat daripada tingkat yang tercermin dari fundamental jangka menengah dan kebijakan yang diinginkan.

Menurut ekonom IMF, yuan bahkan telah melemah secara riil selama empat tahun berturut-turut, dengan pelemahan kumulatif 14% sejak 2021.

IMF memperkirakan nilai tukar efektif riil yuan berpotensi undervalued hingga 20%.

Bahkan, dua pengamat China yang juga mantan pejabat Departemen Keuangan AS, Brad Setser dan Mark Sobel, menilai yuan bisa saja masih undervalued sampai 30%.

Argumennya, data resmi neraca pembayaran China diduga belum sepenuhnya menangkap surplus riil yang sebenarnya, sementara data kepabeanan dinilai memberi gambaran yang lebih besar.

Dengan kata lain, bila hanya melihat surplus eksternal, sulit membantah bahwa yuan semestinya punya ruang untuk menguat lebih jauh.

Tapi Dana Justru Banyak Mengalir Keluar dari China

Masalahnya, nilai tukar mata uang tidak ditentukan oleh surplus perdagangan saja. Di sisi lain, China juga mengalami arus keluar modal yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini terjadi ketika ekonomi China masih berjuang keluar dari tekanan deflasi dan dampak krisis properti yang bersejarah. Di tengah lemahnya prospek pertumbuhan domestik, dana dari investor, perusahaan, hingga institusi keuangan dalam negeri justru banyak mengalir ke luar negeri.

Data Institute of International Finance (IIF) menunjukkan sejak awal dekade ini China telah mencatat arus keluar modal bersih kumulatif sebesar US$2,85 triliun. Angka ini mencakup aliran portofolio, investasi langsung, perbankan, dan berbagai bentuk investasi lainnya dari penduduk domestik maupun non-residen.

Artinya, meskipun China terus mencetak surplus besar dari sektor eksternal, rumah tangga, perusahaan, dan institusi di dalam negeri tetap mencari peluang investasi di luar negeri.

Hal itu terjadi karena pertumbuhan dan imbal hasil di tempat lain dinilai lebih menarik, atau karena mereka ingin menyebar risiko lewat diversifikasi aset.

Di sinilah letak kesulitannya. Surplus besar memang mendukung argumen bahwa yuan terlalu murah. Namun arus modal keluar dalam jumlah besar juga menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya melihat China sebagai tempat paling menarik untuk menahan dana.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research