World Cup 2026: Sepak Bola sebagai Pembentukan Identitas dan Solidaritas

4 hours ago 1

Image ADLIANSYAH

Olahraga | 2026-06-24 14:04:22

Pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko (sumber: https://id.mashable.com/olahraga/28094/mengapa-euforia-piala-dunia-2026-terasa-berbeda-dan-tak-semegah-edisi-sebelumnya)

World Cup 2026 bukan hanya sekedar kompetisi olahraga terbesar di dunia, akan tetapi juga menjadi peristiwa sosial yang menarik banyak orang di berbagai belahan dunia. Kompetisi yang sedang diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini tidak hanya menyajikan pertandingan sepak bola saja, melainkan menyediakan ruang pertemuan dari berbagai budaya, identitas, dan kepentingan yang melampaui batas geografis. Dalam setiap pertandingan penonton tidak hanya sekedar menyaksikan persaingan antar tim nasional saja, tetapi juga mengekspresikan budaya sebuah negara yang ia dukung.

Dari perspektif sosiologi, World Cup menarik untuk dikaji karena dapat menyatukan solidaritas masyarakat diseluruh dunia melalui sebuah pertandingan sepak bola. Ketika tim nasional bertanding, masyarakat yang berasal dari latar belakang ekonomi, agama, maupun etnis berbeda dapat bersatu untuk mendukung negaranya. Fenomena ini menunjukkan sepak bola bisa menyatukan berbagai elemen masyarakat meskipun dari berbagai latar belakang yang kompleks dan beragam.

Di sisi lain, World Cup 2026 juga berlangsung dalam konteks perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Melalui media sosial dan platform digital ini dapat mempermudah seluruh penggemar sepak bola dari berbagai negara dalam membangun identitas dan solidaritas. Hingga mereka bisa interaksi secara langsung, berbagi pengalaman, serta membangun komunikasi antar penggemar. Hal ini menunjukkan bentuk solidaritas global yang menghubungkan individu-individu dari berbagai belahan dunia.

Fenomena World Cup 2026 dapat dijelaskan melalui konsep solidaritas sosial yang dikemukakan oleh Émile Durkheim. Menurut Durkheim, menurut Durkheim solidaritas merupakan ikatan yang mempersatukan anggota masyarakat sehingga menjadi bagian kelompok yang sama. dalam konteks World Cup, solidaritas tersebut dapat dilihat ketika masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pertandingan, mengenakan atribut tim nasional, hingga merayakan kemenangan bersama. Meskipun berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, mereka dapat merasakan emosi yang sama dan memiliki tujuan yang sama, yaitu mendukung tim yang mereka banggakan.

Durkheim juga mengemukakan konsep collective effervescence, yaitu ketika seseorang meluapkan emosi secara bersama-sama yang menciptakan rasa kebersamaan dalam kelompok. Fenomena ini dapat kita lihat di World Cup 2026, ketika tim nasional berhasil mencetak gol atau berhasil meraih kemenangan, jutaan pendukung merasakan kegembiraan yang sama kemudian mereka merayakan bersama. Emosi kolektif tersebut menciptakan ikatan sosial yang kuat dan memperkuat rasa persatuan di antara para pendukung.

Selain solidaritas sosial, World Cup 2026 juga dapat dikaji melalui konsep identitas nasional. Dalam perspektif sosiologi, identitas nasional merupakan kesadaran individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu bangsa. Kesadaran ini biasanya diwujudkan melalui simbol-simbol nasional seperti bendera, lagu kebangsaan, maupun atribut negara. Selama World Cup berlangsung, simbol-simbol tersebut menjadi semakin menonjol karena digunakan oleh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap tim nasional mereka. Akibatnya, rasa kebanggaan terhadap negara menjadi semakin kuat dan identitas nasional semakin terlihat dalam kehidupan sosial masyarakat.

Fenomena ini juga sejalan dengan gagasan imagined communities yang dikemukakan oleh Benedict Anderson. Anderson menyatakan bahwa bangsa merupakan komunitas yang dibayangkan karena sebagian besar anggota masyarakat saling mengenal secara langsung, tetapi karena memiliki ikatan satu sama lain. Dalam World Cup 2026 jutaan orang yang tidak pernah bertemu dapat merasakan kebanggaan, harapan, dan kekecewaan yang sama ketika tim nasional mereka bertanding. Perasaan tersebut menunjukkan bagaimana identitas nasional dapat terbentuk dan diperkuat melalui sebuah ajang olahraga internasional.

Dengan demikian, World Cup 2026 tidak dapat hanya sebagai kompetisi olahraga semata. Dari perspektif sosiologi, ajang ini merupakan fenomena sosial yang mampu membentuk identitas nasional sekaligus memperkuat solidaritas sosial baik dalam lingkup nasional maupun global. Melalui sepak bola, masyarakat dapat menemukan rasa kebersamaan, memperkuat hubungan sosial, serta membangun identitas kolektif yang menyatukan mereka di tengah berbagai perbedaan yang ada.

Adliansyah, mahasiswa Sarjana Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research