Senja di Madinah: Menyingkap Tabir Historis di Balik Wafatnya Sang Utusan Terakhir

3 hours ago 3

Image Anindhito Gading Rasunajati

Sejarah | 2026-06-24 14:26:05

Kaligrafi di depan pintu Masjid Nabawi, Madinah yang bertuliskan "Muhammad, Utusan Allah". (Referensi: wikimedia.org)

Isyarat Langit dan Sinyal Purna Tugas

Kisah tentang hari-hari terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW selalu menjadi fokus kajian yang memadukan antara kedalaman spiritual dan rentetan fakta historis. Perjalanan menuju akhir hayat beliau tidak terjadi secara mendadak, melainkan telah didahului oleh serangkaian isyarat yang menyiratkan bahwa misi risalahnya di dunia telah selesai.

Potret kegiatan haji. (Referensi: ajaib.co.id)

Isyarat paling benderang terekam pada momentum Haji Wada (Haji Perpisahan) pada tahun kesepuluh Hijriah. Di Padang Arafah, di hadapan lebih dari seratus ribu kaum muslimin, turunlah wahyu yang menegaskan kesempurnaan agama Islam, yaitu QS. Al-Maidah ayat 3 (Al-Mubarakfuri, 1997).

"[...] Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Mayoritas umat menyambut ayat tersebut dengan euforia kemenangan, tetapi para sahabat senior yang memiliki kepekaan naluriah, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, justru menitikkan air mata karena mereka menyadari bahwa kesempurnaan risalah adalah penanda bahwa masa tugas Sang Rasul telah usai dan waktu perpisahannya semakin dekat (Haekal, 2014).

Potret pemakaman Baqi Al Gharqad di Madinah. (Referensi: Getty Images/iStockphoto/Aviator70)

Isyarat perpisahan tersebut semakin menguat ketika Nabi Muhammad SAW melakukan ziarah ke pemakaman Baqi Al-Gharqad pada pertengahan malam, beberapa pekan sebelum beliau jatuh sakit. Dalam catatan sejarah, ziarah malam tersebut bukan suatu rutinitas biasa, melainkan sebuah bentuk perpisahan emosional dengan para sahabatnya yang telah mendahului beliau (Lings, 2007).

Sekembalinya dari pemakaman tersebut, gejala fisik pertama mulai terlihat. Beliau mengeluhkan sakit kepala yang sangat hebat, yang oleh beberapa sejarawan dideskripsikan sebagai pusing yang berdenyut keras hingga beliau harus mengikatkan kain di kepalanya untuk meredakan rasa sakit (Ishaq, 1955).

Keluhan sakit kepala ini kemudian segera diikuti oleh serangan demam tinggi yang menjadi awal mula dari fase kritis yang akan berlangsung selama kurang lebih empat belas hari hingga beliau menghembuskan napas terakhirnya.

Jejak Tragedi Khaibar: Menelusuri Fakta Historis Upaya Peracunan

Potret benteng di Khaibar. (Referensi: wikimedia.org)

Dalam menelusuri penyebab kematian Nabi Muhammad SAW, para sejarawan sepakat bahwa tidak mungkin mengabaikan peristiwa yang terjadi di Khaibar sekitar tiga hingga empat tahun sebelum wafatnya beliau.

Setelah penaklukan benteng Khaibar pada tahun ketujuh Hijriah, seorang wanita Yahudi bernama Zainab Binti Al-Harits menghadiahkan hidangan domba panggang kepada Rasulullah. Melalui investigasi sejarah yang mendalam, terbukti bahwa daging domba tersebut telah dilumuri racun mematikan, dengan konsentrasi racun tertinggi ditempatkan pada bagian paha domba yang merupakan bagian kesukaan Nabi (Ahmad, 2005).

Ketika beliau mengunyah suapan pertama, wahyu seketika memberitahukan tentang keberadaan racun tersebut, sehingga beliau segera memuntahkannya. Namun, sebagian dari sari pati racun tersebut diyakini telah tertelan dan meresap ke dalam sistem pencernaan dan aliran darah beliau (Al-Mubarakfuri, 1997).

"[...] Saat Nabi mengunyah suapan pertama, beliau langsung memuntahkannya dan bersabda, 'Sesungguhnya tulang ini memberitahuku bahwa ia beracun.' (HR. Abu Dawud).

Efek dari racun ini tidak membunuh seketika, tetapi menciptakan kerusakan internal yang bersifat terpendam. Sepanjang sisa hidupnya, Nabi Muhammad SAW kerap mengeluhkan rasa sakit yang berulang pada organ dalamnya. Menjelang hari-hari terakhirnya, ketika sakit yang beliau derita semakin parah, beliau secara eksplisit menyebutkan kembali memori tentang racun Khaibar tersebut.

"[...] Wahai Aisyah, aku senantiasa merasakan sakit karena makanan (beracun) yang aku makan di Khaibar. Dan saat ini, aku merasa urat nadiku (urat abhar/urat jantung) bagaikan terputus karena racun tersebut."(HR. Bukhari nomor 4428).

"[...] Wahai Ummu Bisyir, inilah saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena makanan yang aku makan bersama anakmu di Khaibar."(HR. Abu Dawud nomor 4513, disahihkan oleh Al-Albani).

Identifikasi Medis: Polemik Autopsi Verbal dan Analisis Modern

Dalam pembahasan modern, narasi historis dihubungkan dengan analisis medis untuk membedah lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi pada Rasulullah di hari-hari terakhirnya. Gejala utama yang tercatat dalam literatur sirah nabawiyah adalah humma (demam yang sangat tinggi) hingga tubuh beliau terasa sangat panas dari luar pakaian, sakit kepala parah, dan kelemahan fisik yang ekstrem (Haekal, 2014).

Beberapa sahabat pada masa itu sempat menduga bahwa beliau menderita Dzatul Janb (pleuritis atau radang selaput paru). Namun, Nabi secara tegas membantah diagnosis tersebut karena dalam tradisi saat itu penyakit tersebut sering dikaitkan dengan pengaruh setan, sesuatu yang diyakini mustahil menimpa seorang nabi (Ahmad, 2005).

Beliau kemudian meminta untuk disiram dengan air dari tujuh sumur yang berbeda sebagai metode hidroterapi untuk menurunkan suhu tubuhnya yang membakar, sebuah praktik medis kuno yang menunjukkan betapa tingginya suhu badan yang beliau alami pada saat itu (Ishaq, 1955).

Menurut pandangan medis modern, para peneliti mengajukan beberapa hipotesis terkait kompilasi gejala tersebut. Salah satu analisis medis yang kuat menyimpulkan bahwa demam tinggi yang disertai sakit kepala hebat merupakan indikasi adanya peradangan akut yang diperparah oleh komplikasi jangka panjang dari racun neurotoksik atau hepatotoksik (Ahmad, 2005).

Racun yang masuk di Khaibar bertahun-tahun sebelumnya sangat mungkin telah menyebabkan kerusakan permanen pada fungsi hati atau ginjal. Ketika usia beliau bertambah dan sistem imun mulai mengalami tekanan akibat aktivitas dakwah dan peperangan yang tak kenal lelah, organ-organ yang telah melemah tersebut gagal mempertahankan homeostasis (Ahmad, 2005).

Ada pula sebagian yang mengemukakan kemungkinan penyakit endemik seperti demam malaria yang memang umum terjadi di Madinah pada masa itu, yang kemudian bertumpang tindih dengan kerusakan organ akibat toksin masa lalu (Ahmad, 2005). Meskipun diagnosis medis pasti tidak dapat diketahui tanpa rekam medis modern, penyatuan bukti historis sangat mengarah pada kegagalan organ yang dipicu oleh akumulasi racun historis dan infeksi sekunder akut.

Masa Transisi Kritis dan Akhir Sang Penutup Nabi

Memasuki hari-hari paling krusial, kondisi fisik Rasulullah semakin merosot hingga beliau tidak lagi mampu mengimami shalat berjamaah di masjid, sebuah rutinitas yang tidak pernah beliau tinggalkan sebelumnya. Momen ini menjadi titik transisi politik dan spiritual yang sangat penting dalam sejarah Islam.

Potret kaligrafi Abu Bakar Ash-Shiddiq di Masjid Hagia Sophia, Istanbul. (Referensi: wikimedia.org)

Beliau secara spesifik menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggantikannya sebagai imam shalat (Haekal, 2014). Penunjukan ini merupakan sebuah sinyal implisit yang ditangkap oleh komunitas awal muslim sebagai bentuk transisi kepemimpinan umat pasca wafatnya beliau. Keputusan ini menunjukkan bahwa di tengah rasa sakit yang menderita kesadaran fisiknya, visi strategis beliau tentang masa depan umat sama sekali tidak memudar.

Detik-detik paling mengharukan terjadi pada hari Senin, persis pada waktu Dhuha, yang kelak menjadi hari kepulangannya. Di tengah pelaksanaan shalat subuh yang diimami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Rasulullah sempat menyingkap tirai kamarnya yang berbatasan langsung dengan masjid.

Beliau menatap wajah umatnya yang sedang berbaris rapi dalam shalat, dan seulas senyum kepuasan terukir di wajahnya yang pucat, seolah memastikan bahwa warisan terbesarnya telah berdiri kokoh (Al-Mubarakfuri, 1997). Tak lama setelah tirai itu ditutup kembali, kondisi beliau memasuki stadium akhir.

Sambil bersandar di pangkuan istrinya, Aisyah, pandangan beliau mulai terarah ke atas. Beliau menggumamkan doa dan memberikan instruksi terakhir agar tidak menjadikan makamnya sebagai tempat penyembahan, sebelum akhirnya mengucapkan kalimat perpisahan yang ikonik, memilih untuk bergabung dengan Ar-Rafiq Al-A’la (Kawan yang Tertinggi di surga). Hembusan napas terakhir itu menandai berakhirnya era kenabian di muka bumi dan memulai babak baru sejarah peradaban Islam (Lings, 2007).

Referensi

Ahmad, M. R. (2005). Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik (Penyunting: A. Maftukhin & S. Ayu; Penerjemah: Y. H. Basyaruddin). Jakarta: Qisthi Press.

Al-Mubarakfuri, S. S. (1997). Sirah Nabawiyah (Penerjemah: K. Suhardi; Edisi Pertama). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Haekal, M. H. (2014). Sejarah Hidup Muhammad (Penerjemah: A. Audah; Edisi Pertama). Bogor: Pustaka Litera Antarnusa.

Ishaq, I. (1955). The Life of Muhammad (Penerjemah: A. Guillaume). Oxford: Oxford University Press.

Lings, M. (2007). Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Penerjemah: Qamaruddin SF; Edisi Pertama). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research