REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Bayu Adji Prihammanda
Sudah lebih dari satu bulan bencana terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Namun, hingga saat ini penanganan pascabencana belum sepenuhnya usai. Salalah satu wilayah yang masih terdampak adalah Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh.
Pantauan Republika di lokasi, kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang masih belum sepenuhnya pulih. Tak sedikit warga yang masih belum bisa kembali tidur dengan nyaman usai rumahnya tersapu banjir bandang. Bekas lumpur di rumah mereka belum bisa sepenuhnya dihilangkan.
Salah seorang warga terdampak bencana, Erni (54 tahun), mengaku telah mengungsi di rumah tetangganya sejak banjir menerjang rumahnya pada akhir November 2025 lalu. Pasalnya, rumahnya berada di tepi sungai yang meluap dan menyebabkan banjir bandang.
"Tilam-tilam (kasur), dataran kami sudah di bawah, di dalam itu semua kan," kata Erni saat ditemui Republika, Senin sore WIB.
Sore itu, Erni dan suaminya sedang memindahkan beberapa barang miliknya dari rumah tetangganya. Dia berniat kembali ke rumahnya setelah lebih dari satu bulan mengungsi. Namun, masalah baru menghantuinya.
Republika mencoba masuk ke dalam rumah milik Erni dengan suami dan anaknya. Di bagian belakang rumah itu, sisa lumpur yang terbawa banjir bandang masih berserakan. Sementara, ia tidak memiliki air untuk membersihkan lumpur yang mulai mengeras itu.
"Bersih-bersih enggak bisa bersih, Pak, karena enggak ada air kami. Udah begitu lama enggak ada air," kata Erni.
Selama ini, ia hanya bisa mengandalkan air hujan dan bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara air PAM yang biasa mengaliri rumahnya belum juga bisa melayani.
Erni mengaku, petugas kerap kali memberikan bantuan air bersih kepada warga. Namun, air bersih itu didistribusikan di pinggir jalan. Sementara itu, rumahnya tidak berada agak ke dalam, sehingga perlu upaya untuk mengambil air bersih itu. Belum lagi, warga yang lain juga harus mengantre untuk mendapatkan air tersebut.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat segera memulihkan layanan PAM. Pasalnya, air bersih menjadi salah satu kebutuhan pokok yang mesti ada. "Untuk mandi, sholat. Jadi mau beres-beres, mau mandi, mau salat kayak mana bisa beres-beres kayak gini jadinya lumpur," ucap Erni.
Salah seorang warga terdampak lainnya, Dodi (62), mengaku sebagian, rumahnya hancur akibat banjir bandang yang terjadi akhir November lalu. Seisi rumahnya bahkan penuh dengan lumpur. Namun, lumpur itu sudah sebagian dibersihkan agar mereka kembali bisa tidur di dalam rumah.
"(Rumah) hancur. Lihatlah di dalam, tuh lantainya sudah jatuh ke bawah. Ini lumpur sudah kami bersihkan semua. Baru bisa tidur di bawah. Kalau tidak, kami tidur di gubuk-gubuk kayak gini kemarin, pasang tenda kayak gini nih," kata Dodi sambil menunjukkan terpal yang selama ini menjadi atap tempat tidurnya.
Dia mengaku, sudah hampir satu bulan tidur di tenda yang dibuatnya secara mandiri. Namun, sejak tiga hari terakhir lumpur dari dalam rumahnya bisa dibersihkan, sehingga ia bisa kembali tidur di dalam rumah.

1 day ago
7













































