Wall Street Tetap Pesta Meski Perang Membara dan Minyak Panas, RI Bisa?

12 hours ago 5
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, bursa saham dan mata uang rupiah jatuh
  • Walll Street terbang dan mencetak rekor
  • Perkembangan perang, realisasi investasi dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah. Baik bursa saham ataupun nilai tukar sama-sama melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Rabu (22/4/2026), ditutup melemah 17,77 poin atau 0,24% ke 7.541,61.

Sebanyak 440 saham naik, 240 turun, dan141 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin mencapai Rp18,15 triliun, melibatkan 49,44 miliar saham dalam 2,95 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp 13.361 triliun. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp826,42 miliar pada perdagangan kemarin sekaligus mengakhiri tren positif net buy pada Senin-Selasa pekan ini.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan koreksi terbesar dibukukan sektor infrastruktur, energi dan barang baku. Sementara itu industri, finansial dan konsumer primer mencatatkan kenaikan tertinggi kemarin.


Emiten konglomerat tercatat menjadi pemberat kinerja IHSG kemarin, termasuk emiten Grup Barito milik Prajogo Pangestu dan emiten Grup Sinar Mas.

Emiten batu bara Dian Swastatika Sentosa (DSSA) tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG dengan pelemahan23,81 indeks poin. Saham DSSA kemarin turun 9,71% ke Rp 2.510 per saham.

Lalu diikuti oleh Barito Renewables Energi (BREN) yang kemarin turun 9,62% ke Rp 5.400 per saham dan berkontribusi atas pelemahan21,21 indeks poin.

Kedua emiten ini diketahui mengalami tekanan jual signifikan oleh investor setelah pengumuman MSCI yang kemungkinan berdampak atas dikeluarkannya saham BREN dan DSSA dari indeks MSCI Global Standard.

Kedua emiten ini diketahui mengalami tekanan jual signifikan oleh investor setelah pengumuman MSCI. Investor asing tercatat kompak secara masif melepas saham BREN dan DSSA pada perdagangan kemarin.

Dua saham top gainers kemarina adalah PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) dengan kenaikan harga 33,96% di harga Rp71 per unit dan PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) yang menguat 29,52% di harga Rp136 per saham. 


Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah harus berakhir di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/4/2026), di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuan.


Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin dengan depresiasi sebesar 0,18% ke posisi Rp17.170/US$. Pergerakan ini membalikkan posisi rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya berhasil menguat 0,15% ke level Rp17.140/US$.

Sepanjang perdagangan kemarin, mata uang Garuda sejatinya sempat dibuka menguat tipis di level Rp17.130/US$, sebelum akhirnya berbalik melemah hingga penutupan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB terpantau justru terkoreksi 0,07% ke level 98,320.

Pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin berlangsung seiring pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, yang kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.

Dalam RDG yang digelar pada 21-22 April 2026, BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga deposit facility di level 3,75% dan suku bunga lending facility sebesar 5,50%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG, Rabu (22/4/2026).

Dengan kembali ditahannya BI Rate pada April ini, maka keputusan tersebut menjadi yang ketujuh kali berturut-turut.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) ditutup melonjak ke 6,638%, dari semula 6,583%. Kenaikan imbal hasil menandai harga SBN yang turun karena investor ramai menjualnya,


Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research