Tokoh Aceh Penyumbang Pesawat Pertama RI Meninggal Dunia, Ini Sosoknya

6 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar duka datang dari Aceh. Nyak Sandang (100), sosok yang dikenal sebagai penyumbang pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, meninggal dunia pada Selasa siang (7/4/2026).

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Teungku Nyak Sandang," ungkap Gubernur Aceh Muzakir Manaf dikutip dari akun sosial media Instagram miliknya, Rabu (8/4/2026).

"Almarhum merupakan sosok yang sangat berjasa, khususnya melalui kontribusinya dalam pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya," imbuhnya.

Kepergian Nyak Sandang menandai berakhirnya kisah hidup salah satu tokoh rakyat yang punya jasa besar pada masa awal Republik Indonesia berdiri. Namanya dikenang bukan hanya karena perannya dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga karena kontribusinya dalam mewujudkan kemandirian transportasi udara nasional.

Sekitar 77 tahun lalu, pria kelahiran 1927 itu rela mengorbankan hartanya demi membantu Presiden RI pertama, Soekarno, membeli pesawat pertama milik republik, Seulawah RI-001.

Kisah itu bermula pada 16 Juni 1948, saat Soekarno datang ke Aceh untuk meminta dukungan rakyat. Dalam situasi negara yang sedang sulit akibat blokade dan agresi militer Belanda, Bung Karno menyebut Aceh sebagai daerah modal karena kekayaan yang dimilikinya.

Dalam sebuah jamuan makan bersama para saudagar Aceh yang tergabung dalam Gasida (Gabungan Saudagar Indonesia Aceh), Soekarno menjelaskan bahwa kas negara sedang kosong. Karena itu, dia meminta bantuan rakyat Aceh untuk membeli pesawat yang nantinya akan menjadi penghubung udara antarpulau.

"Untuk itu saya anjurkan agar kaum saudagar bersama-sama rakyat mengumpulkan dana untuk membeli kapal udara, umpamanya pesawat Dakota yang harganya 25 kg emas," kata Soekarno, dikutip dari Jihad Akbar dalam Medan Area (1990).

Permintaan itu disampaikan dengan gaya khas Bung Karno, bahkan dibumbui ancaman bernada canda. Dia menegaskan tidak akan makan sebelum ada kepastian rakyat Aceh bersedia membantu pembelian pesawat tersebut.

[Gambas:Instagram]

Ketua Gasida, M. Djoenoed Joesoef, langsung merespons dengan menyatakan kesediaan membantu. Setelah mendengar jawaban itu, barulah Bung Karno bersedia makan.

Beberapa hari kemudian, tokoh besar Aceh Daud Beureueh menyebarkan kabar tersebut kepada masyarakat luas. Saat berpidato di Pasar Lamno, Aceh Jaya, salah satu orang yang mendengarnya adalah Nyak Sandang yang saat itu masih berusia 21 tahun.

Dalam riset berjudul "Sumbangan Nyak Sandang Kepada Negara Republik Indonesia dalam Pembelian Pesawat Seulawah RI-001" (2002), Nyak Sandang mengisahkan hatinya langsung tergerak mendengar seruan itu.

Sepulang dari pasar, ia meminta izin kepada ayahnya untuk menjual kebun seluas 1 hektare yang berisi 40 pohon. Karena dijual cepat, kebun itu hanya laku 100 rupiah, setara 20 mayam emas. Dengan satu mayam sekitar 3 gram, jumlahnya kira-kira 60 gram emas.

Seluruh hasil penjualan kebun itu kemudian langsung ia serahkan ke kantor bupati sebagai sumbangan bagi negara.

Sumbangan Nyak Sandang lalu digabungkan dengan donasi rakyat Aceh lainnya. Hasilnya luar biasa. Masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan 50 kilogram emas. Jumlah itu cukup untuk membeli bukan hanya satu, tetapi dua pesawat. Satu atas nama Gasida dan satu lagi atas nama rakyat Aceh.

Atas jasa besarnya, pemerintah tidak melupakan Nyak Sandang. Ia menerima berbagai penghargaan. Mulai dari bantuan pengobatan, biaya umrah, pembangunan masjid sesuai permintaannya, hingga dana pensiun.

Terbaru, ia juga menerima tanda kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo Subianto.

(mfa/wur)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research