Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
24 May 2026 14:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri baja global masih bergerak di bawah bayang-bayang China. Pada 2025, produksi baja mentah dunia mencapai 1,85 miliar ton. Lebih dari separuhnya berasal dari satu negara China.
World Steel Association melaporkan negeri itu memproduksi 960,8 juta ton baja mentah sepanjang tahun lalu, setara 52% produksi dunia.
Angka 52% ini memberi gambaran soal struktur industri global saat ini. Baja masih menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur, otomotif, manufaktur, galangan kapal, hingga proyek energi. Ketika satu negara menguasai lebih dari separuh pasokan dunia, arah harga bahan baku ikut bergerak mengikuti denyut industrinya.
Kebutuhan besar pabrik baja China membuat harga bijih besi dan batu bara kokas global sangat sensitif terhadap aktivitas industri negara tersebut. Saat sektor properti China melemah, harga komoditas ikut terguncang. Ketika stimulus infrastruktur digelontorkan Beijing, permintaan bahan baku langsung naik.
Produksi China bahkan lebih besar dibanding gabungan 12 negara produsen terbesar setelahnya. India yang berada di posisi kedua menghasilkan 164,9 juta ton atau sekitar 8,9% produksi global. Jarak antara keduanya mencapai hampir 796 juta ton.
India sendiri terus memperbesar kapasitas industri bajanya dalam dua dekade terakhir. Pembangunan jalan, rel kereta, kawasan industri, perumahan, dan proyek energi menjadi mesin utama permintaan domestik. Pemerintah India juga agresif mendorong industrialisasi untuk memperkuat basis manufaktur nasional.
Amerika Serikat dan Jepang masih berada di kelompok atas produsen baja dunia. Produksi baja AS mencapai 82 juta ton pada 2025, sementara Jepang memproduksi 80,7 juta ton. Keduanya menyumbang sekitar 4,4% produksi global.
Di kawasan Asia, Korea Selatan menghasilkan 61,9 juta ton baja, sementara Vietnam mulai muncul sebagai pemain penting dengan produksi 24,7 juta ton. Indonesia juga masuk daftar 15 besar dunia dengan produksi 19 juta ton atau sekitar 1% produksi global.
Posisi Indonesia menarik karena pertumbuhan industrinya relatif cepat dalam beberapa tahun terakhir. Hilirisasi nikel, pembangunan kawasan industri, serta ekspansi smelter mendorong kebutuhan baja domestik terus naik. Permintaan datang dari konstruksi, pabrik pengolahan logam, hingga proyek energi.
Sementara itu, negara-negara maju kini mulai mengubah arah industrinya. Fokus mereka tidak lagi mengejar volume produksi besar, melainkan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Teknologi electric arc furnace hingga baja berbasis hidrogen mulai dikembangkan di Eropa, Amerika Utara, dan sebagian Asia.
Industri baja memang sangat haus energi. Karena itu, tekanan menuju industri rendah emisi mulai mengubah peta investasi global. Negara yang mampu memproduksi baja murah sekaligus rendah karbon berpotensi menguasai pasar generasi berikutnya.
CNBC Indonesia Research
(emb/luc)
Addsource on Google












































